Lagi dan lagi..

Lagi lagi aku merindu. Tak hentinya ku merindumu. Menyisipkan rasa pada butir butir hujan yang turun menghujam.

Entah ini sudah keberapa kalinya aku mencoba menitipkan rindu pada angin yang dengan lembutnya berhembus. Berharap sang angin dengan setia membawa rindu ini padamu yang jauh.

Apakah benar kita jauh?? Yah,kenyataannya iya. Tapi rindu tak mengenal arah. Rindu mendekatkan rasa pada mata yang tak saling memandang. Rindu melekatkan jiwa pada tangan yang tak saling bergandengan.

Aku menunggu rindu. Menunggu saat angin membelai pipiku dan membawa rindumu yang mungkin juga kau titipkan.

Aku menutup mataku, berdiri tegap dan menghela nafasku untuk beberapa saat. Menikmati angin dan bertanya dalam hatiku.

Ah, apa kau juga merinduku. Seberapa besar??

_dyazafryan_

Surprise!!

Apa Jatuh cinta itu seperti ini? Yang ada di kepala hanya dia, terus mikirin dia. Kadang senyum-senyum sendiri, bahkan nggak bisa tidur cuma karena mikirin dia. Jatuh cinta itu hebat banget. Mataku hanya terfokus padanya, pada senyumnya saat dia sedang berdiri memaparkan tugas makalah bahasa indonesia didepan kelas. Entah apa yang dia jelaskan, karena pikiranku hanya berisi-berisi tentangnya. Aku masih melamun sampai aku dikejutkan oleh ucapan teman yang berada disampingku. “Re, giliran lo tuh, melamun aja”. “eh, iya-iya maaf,” ucapku.

Aku kemudian maju kedepan kelas dengan membawa makalah ku. Aku sedikit gemetar tak seperti biasanya. Mataku terarah pada Lea yang juga menatapku. Dia tersenyum dan aku pun membalas senyumannya. Leandra, Perempuan manis teman satu kelasku di kampus. Entah mungkin karena sunyumnya aku jadi jatuh cinta padanya. Aku dan lea belum terlalu akrab mengingat kami baru berada pada semester awal kuliah. Tapi Lea telah membuat jatuh cinta padanya, Telah membuat aku menjadi salah tingkah ketika berhadapan dengannya.

Grogi. Iya, aku grogi sekarang. Bukan karena terlalu banyak orang yang menyaksikanku berdiri disini. Tapi hanya karena satu orang yang duduk manis disana, Leandra. Bahkan untuk mengendalikan diri sendiri pun aku enggak bisa. Bagaimana kalau Leandra tau aku grogi karena dia. Wah, bunuh saja aku sekarang.

Untuk mengalahkan rasa grogiku, kualihkan pandanganku ke Eza, temanku. Tatapan Eza berbeda 180 derajat dari Leandra. Matanya melotot. Dan aku yakin itu tanda bahwa aku harus berhenti grogi-grogian. Harus mulai presentasi sekarang. Iya, sekarang. Tapi Leandra? Ah, sudahlah. Anggap saja dia sedang tidur.

Tarik nafas, hembuskan. Aku mulai mempresentasikan hasil kerja kerasku selama beberapa hari ini. Makalah kali ini adalah makalah yang lumayan rumit. Aku harus lebih sering bertanya pada si google, mengobrak-abrik buku-buku di perpustakaan, mencari sumber disana sini. Merepotkan sekali. Sejatinya aku ini adalah orang yang bisa dibilang pemalas. Apalagi yang berhubungan dengan tugas seperti ini. Jauh-jauhlah dariku.

Tapi permasalahannya adalah aku, dan juga teman-teman yang lain, harus tampil sendirian membahas makalah ini. Okelah kalau tampil sendirian. Tapi sekarang ada hambatan lain. Kalian pasti tau apa itu. Yup, that girl. The one who has made my heart beats really fast.

Setengah jam berlalu. Presentasiku lumayan berhasil. Aku tampil profesional. Aku menjawab pertanyaan dari teman-teman tanpa ragu. Aku menguasai materi makalahku kali ini. Jadi, untuk tidak berhasil tampil hanya karena rasa grogi itu menurutku bodoh sekali. Dan harus aku beri tau juga kalau Lea punya sedikit andil dalam behind the scene pembuatan makalahku ini. Kemarin, entah karena nyawaku belum terkumpul semua atau apa, aku terlambat datang ke kampus.

Aku harus tiba di kampus tepat jam 7 pagi. Dan aku baru berada di tempat itu jam 8.15. Pagi itu aku benar-benar kacau. Sudah kesiangan, terlambat datang, ditambah lagi lupa membawa laptop. Padahal aku harus segera menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia itu. Pengen marah, tapi harus marah pada siapa.

Si manis itu datang lalu duduk di sebelahku. Aku tersentak, lalu menggeser sedikit kursiku. Mungkin dia heran melihat tampangku yang seperti orang kemalingan motor. Atau seperti Spongebob kehilangan rumah nanasnya. “Kamu kenapa Re? Kok suntuk gitu?” Tanya Lea heran. “Aku kacau banget hari ini. Udah kesiangan, telat, lupa lagi bawa laptop. Janjinya hari ini mau nyelesaiin makalah bareng si Eza. Gara-gara semalem nonton bola nih. Duh…” Jawabku kesal.

Lea hanya tersenyum melihatku. “Kamu simpen di flash disk gak datanya? Bawa gak flash disknya? Kalau bawa pinjem laptop aku aja. Makalah aku udah selesai semua. Tinggal di print aja. Jadi kamu bisa pinjem. Oke gak?” Benar-benar tawaran yang sangat brilian! Segera aku bongkar semua isi tasku. Dan, hap! Aku bawa flash disk sang penyelamat itu. Jadilah tim baru terbentuk kemarin. Aku dan ehem, Lea, menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia itu berdua. Janji dengan Eza tadi aku lupakan. Sengaja. Hehe. Ada orang yang lebih profesional sekaligus manis yang bisa membantuku saat itu.

****

“Hebat lu bro. Tampil dengan sempurna lu bro. Makin cinta dah tu si cewek.” Aku dan Eza sekarang terdampar di kantin langganan kami. Ditemani dua cangkir kopi hitam hangat, kami membiarkan diri kami rileks setelah serangan presentasi makalah tadi. Tapi aku sedikit kaget dengan apa yang baru saja Eza katakan. “Apa? Ngomong apa lo barusan?” Tanyaku penasaran. “Emang gue ngomong apa barusan?”. Tanya Eza balik. “Aaaah. Payah lo.”

Cuaca hari ini tidak seperti biasanya. Hari ini mendung. Awan diatas sana sudah mulai berubah warna menjadi abu-abu. Tinggal menunggu hujannya saja turun. Walaupun mendung, tapi hatiku tidak semendung yang di atas. Cerah, ceraaah sekali. Hmm, benar-benar si manis itu. Sebenarnya tidak banyak yang dia lakukan padaku. Dia seperti teman-teman cewek di kelas pada umumnya.

Dia cantik, tapi ada yang lain yang lebih cantik. Dia manis, tapi ada juga yang lain yang lebih manis. Hanya satu yang menjadi alasan kenapa dia bisa menjadi topik utama dalam kehidupanku akhir-akhir ini. Dia murah senyum. Hanya senyum. Tapi efeknya benar-benar luar biasa. Dia berhasil membuatku grogi di depan kelas. Dia berhasil membuatku memikirkannya, setidaknya saat menjelang tidur. Dia juga orang yang inisiatifnya tinggi. Terbukti ketika kemarin dia membantuku menyelesaikan makalah, menawarkan laptopnya untuk kupakai. Aku bisa bilang dia sempurna, setidaknya bagi diriku sendiri.

***

Kuliah adalah salah satunya waktu dimana aku bisa bertemu dengan Lea. Paling tidak dia yang buat aku menjadi semangat untuk belajar dan kuliah, karena aku nggak mau terus-terusan terlihat sedikit bodoh didepannya. Sesekali aku mencuri pandang kearahnya ketika dosen sedang menjelaskan, bahkan tempat duduk yang tak menentu membuat aku sesekali mengambil kesempatan duduk dekat Lea. Yah, Sesekali aku pindah dari pengaruh Eza yang selalu ingin mengajaku ngobrol disaat dosen menjelaskan. Tapi grogi selalu menyertai ketika aku berada di dekat Lea dan rasa grogi ku bertambah saat aku lihat Eza selalu ketawa sendiri ketika aku didekat Lea.
“Lihat aja lo nanti eza, ngejek aja lo,” ucapku kearah Eza tanpa suara, dan Eza tetap tak berhenti mengejekku. Eza adalah sahabatku sejak SMA, walaupun begitu, dia akan membantuku untuk terus dekat dengan Lea.
Kali ini aku dapat kesempatan untuk makan bareng Lea dan hanya berdua. Berjalan dengannya menuju kantin sempat membuat aku malu. Aku seperti berjalan dengan seorang putri yang cantik dan Lea seperti berjalan dengan seorang laki-laki berantakan. Yah, meski nggak terlalu berantakan sih, menurutku. Dan masih tetap ganteng. Hehe.
Waktu 1 jam istirahat ternyata berlalu sangat cepat. Banyak yang kami bicarakan, Tentang diri kami masing-masing dan sesekali masalah kuliah. Aku menemukan sebuah kenyamanan ketika bersama Lea, saat aku berbicara dengannya. Lagi lagi senyumnya telah menjatuhkan aku, menjatuhkan hati ini padanya.
Waktu demi waktu telah berlalu. Kedekatan ku dan Lea bisa dikatakan semakin dekat. Ujian semester pertama telah selesai. Semakin lama aku dekat dengan Lea, semakin aku tak kuasa untuk mengungkapkan rasa ini.

“Eza, bantuin gue ya ntar.” ucapku.

“Eits, bantuin apa? Semesteran udah kelar juga.”

“Bukan itu, gue mau nembak Lea, Za.” Aku kemudian tersenyum sendiri.

“Ajegile lo Re,wah ada yang nggak tahan nyimpen perasaannya nih.” Eza memukul lenganku. Tampaknya Eza lebih bersemangat dariku.

“Aduh, sakit tauk!!”

“Tenang aja, gue bakal bantuin lo Re, lo pasti diterima deh.” Entah mau percaya dengan ramalan Eza, tapi aku seperti menjadi lebih semangat.

****

“Halo, Za, lo dimana?”
Enggak ada jawaban. Aneh. Sudah lebih dari sepuluh kali mungkin aku telepon Eza. Tapi dari tadi enggak ada jawaban. Hari ini rencananya aku mau buat kejutan kecil-kecilan buat Lea. Aku sudah benar-benar siap menyatakan cinta pada Lea. Untuk memuluskan rencana, aku minta bantuan Eza yang dari kemarin sudah bersedia menjadi tim sukses acara penembakan kali ini. Tapi ‘sang Bapak’ enggak bisa dihubungi sedari tadi. Aku mulai gelisah.

Sekarang pun aku sudah ada di TKP, di pantai Ancol. Partner yang seharusnya sudah berada di sini juga enggak datang-datang. Apa Eza berubah pikiran ya? Ah, anak itu. Benar-benar.

Why I choose this place to confess my feeling? Karena pantai adalah tempat yang spesial menurutku. Orang yang akan aku beri cintaku ini juga bukan orang yang sembarangan. Dia lebih spesial dari pantai ini. Dan juga biar terkesan romantis. Lalu, fungsi Eza apa? Dia sebagai Technician yang akan menghidupkan lampu-lampu di belakangku, yang sudah diatur sedemikian rupa agar enggak dilihat Lea secara langsung. Lampu-lampu itu bertuliskan “Hey, cute girl. Would you be mine?”, yang akan hidup setelah aku bilang “Lea, ada yang mau aku tunjukin sama kamu.” Tidak lupa juga di dahului dengan basa-basi yang akan membuat Lea deg-degan. Akan ada juga kejutan lain yang lebih merepotkan Technician, yang lebih mengesankan Lea.

Persiapan sudah setengah jalan aku kerjakan. Sendirian. Aku harus bilang kalau si Eza cuma makan gaji buta. Seharusnya dia membantuku di sini sekarang. Tapi batang hidungnya saja enggak kelihatan. Tega sekali dia.

Apa ini akan berhasil? Aku harap iya. Waktu berjalan terus. Sementara itu, pria yang akan menyatakan cinta ini belum juga mendapati rekan kerjanya untuk siap menjalankan tugas. Enggak tenang. Itu yang aku rasakan. Aku terus menghubungi Eza, namun tetap enggak ada respon. Eza harus datang sebelum Lea sampai di sini. Lea baru aku suruh datang kalau Eza sudah di tempat.

Dua jam berlalu. Enggak ada yang berubah. Eza enggak kunjung datang. Aku pun enggak menghubungi Lea. Di sinilah aku dengan semua kegagalanku. Siapa yang harus aku salahkan? Eza? Sepertinya iya. Hh… Bagaimana aku menghadapi Lea besok? Harus aku simpan dimana wajahku? Entahlah.

Sebelum beranjak pergi, aku baru ingat. Aku cek nomor telepon rumah Eza di handphone. Aku coba menghubungi nomor itu, dan tersambung. Beberapa detik kemudian telepon dijawab.

“Halo?” Suara wanita paruh baya di sana. Itu pasti ibunya Eza.

“Halo, malem tante. Ezanya ada?” Tanyaku dengan nada yang tenang.

“Ada. Ini siapa?”

Beep. Telepon terputus.

Tanpa pikir panjang aku langsung tembak lurus ke rumah Eza. Tanya, apakah aku marah sekarang? Iya, aku benar-benar marah. Dari tadi bocah itu susah sekali dihubungi. Dia seakan sengaja membatalkan rencana malam ini. Kalau memang enggak mau bantu seharusnya dia bilang dari awal. Jangan baru mundur pas sekali ketika persiapan sudah setengah rampung.

Posisi sudah berpindah sekarang. Ketika aku memasuki gerbang rumah Eza, aku melihat dua orang, laki-laki dan perempuan, yang sangat aku kenal, berdiri berhadapan. Eza dan Lea. Mereka saling menatap. Mungkin karena merasa ada orang lain yang sedang memandangi mereka, mereka mengalihkan tatapan mereka ke arahku. Ke arah seorang laki-laki yang sedang kacau pikirannya.

“Oh, jadi gini kelakuan lo. Hebat ya lo. Eh bro, kalo lo enggak mau bantuin gue, bilang dari awal. Kalo lo naksir sama dia, bilang juga dari awal. Jangan kayak gini caranya. Kambing lo.” Ketahuan sekali kalau aku kecewa sekarang. Eza panik. Lea lebih panik. Sebelum Eza membalas apa yang barusan aku katakan, aku berbalik. Enggak ada yang perlu aku lakukan di sini.

Lea mengejarku ternyata. Dia menahan tanganku untuk enggak pergi dari tempat itu.

“Renald tunggu! Aku bisa jelasin ini. Jangan pergi. Aku mohon…”

Aku lihat wajah Lea yang panik sekaligus sedih. Aku enggak tahan melihatnya. Seketika aku luluh dan tetap berdiri di situ.

“Bro!” Teriak Eza dari ujung sana. Setelah itu, dia enggak melanjutkan kalimat apa pun. Eza masuk ke dalam rumah. Dan entah apa yang dia lakukan di dalam sana, cahaya terang muncul di samping tempat dia berdiri tadi. Cahaya yang sebelumnya enggak aku ketahui.

Cahaya itu bertuliskan, “Hey, cute girl. Would you be mine?”, sama persis dengan setting lampu di pantai tadi. Eza keluar lagi. “Sorry banget bro. Your planning is not taking place at the beach, but here, in front of my house. And now, time is yours boy! Hahaha!”

SIALAN!

Mataku tertuju pada si manis yang masih terlihat panik. Karena dia panik, aku pun ikut panik. Semua yang akan aku katakan seketika hilang. I feel so awkward now. Oh my, it’s all because of you Eza!

“Eeeh, Lea. Aku… Aku… Duh… Aku tuh sebenernya udah lama suka sama kamu. Tapi… aku… aku… aku milih waktu yang pas untuk bilang ke kamu.” Dag dig dug. Cuma itu yang bisa aku katakan. Benar-benar terlihat seperti orang begok IQ 50. Lea masih terdiam. Dia terlihat terkesan dengan lampu-lampu yang dibuat khusus untuknya. Matanya terlihat berbinar, sambil menatapku.

“Kamu mau enggak jadi pacar aku?” Akhirnya, poin yang sebenarnya baru keluar.
Lea tetap enggak bersuara. Dia kemudian menunduk, seakan meproses kata-kata yang akan dia sampaikan padaku. Aku pun pasrah. Siap dengan apa pun jawaban yang akan Lea berikan.

“Maaf Re, aku enggak bisa.”
Jleb. Apa yang baru saja Lea katakan benar-benar menusuk. Seperti serangan bom atom, kata-kata itu memberantas habis perasaanku. Aku enggak mengharapkan jawaban itu. Walau memang aku harus siap dengan apapun keputusan Lea. Tapi… ini… kejam.

“Gitu ya….” Kataku lemah.

“Aku enggak bisa nolak.”

Apa??? Wah, Lea-ku bisa bercanda juga ternyata. Wajahnya cerah, terang, seterang cahaya yang belum redup tepat di belakang kami.

Senyumnya yang aku tunggu-tunggu akhirnya terukir juga. Senyum itu milikku sekarang. Senyum itu…

“Lea, kamu tu ya…” Aku peluk tubuh si manis itu. Dia membalas dengan lembut. Mimpi apa, aku bisa memeluknya malam ini. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Lea bukan hanya terkepung di dalam khayalan lagi. Tapi sudah keluar ke dunia nyata, yang bisa aku rasakan kehadirannya secara nyata, dan milikku.

Terlakasanalah rencana malam ini. Si Technician ternyata enggak melupakan tugasnya. Si target juga tidak meleset. Fix. Harus aku katakan ini berhasil. Secara resmi aku umumkan bahwa Leandra adalah pacar Renald. Bukan pacar Eza. Hehehe. Aku bisa melihat senyum manis Lea kapanpun, bisa mendengar suara Lea kapan pun, bisa menatap Lea kapanpun. Karena Lea, karena Lea adalah kekasihku.

Because she is my girl. My cute girl ever. So, I promise myself to keep this relationship until I have no power anymore. I’ll protect her, I’ll do everything to make her happy. I’ll cherish all the moment by her side. The one who has made my day brighter. The one who has a sweet smile. The one who never be deleted from my mind and heart. The one I always love.

****

Masih di malam setelah acara penembakan.
“Kenapa lo enggak jadi ke pantai? Bikin kecewa aja lo.”
“Gue collapse tau lo. Kepala gue pusing berat. Gak bisa kemana-mana.”
“Aaah. Alesan lo.”
“Eh, jagain Lea baik-baik ya. Kalo lo ngecewain dia, gue sikat lo abis-abisan. Beneran deh.”
“Haha. Emang lo siapanya Lea ampe segitunya? Ada-ada aja lo.”
“Dia sepupu gue.”
“APAAAA???”

 

Tulisan kolaborasi Dyaz Afryanto (@dyazafryan) dan Rizcha Adha Rani (@tachibanarizcha) untuk #ALoveGiveAway

Kepada Cinta..

Kepada Cinta yang perlahan hadir..

Bawalah segenap rasamu..

Bawalah seluruh cintamu padaku.

Alirkan setiap rindumu hingga ke sudut kecil hati ini..

Hingga tawa dan candamu mengikuti.

 

Kepada cinta yang telah aku datangi.

Aku curahkan beribu-ribu kebahagiaan.

Membawa cinta kearah semestinya berada.

Menjemput sebuah kasih yang ingin aku miliki.

 

Kepada Cinta yang akan bersama.

Genggamlah hatiku dan hatinya.

Eratkanlah kasihku dan kasihnya.

Menjadi satu..

Hanya satu..

 

Kepada cinta..

Aku persembahkan semuanya..

 

_dyazafryan_

 

 

 

Jurnal Poetica : Mengenal Turning Point

Materi dalam kelas poetica hari jumat, 3 Mei 2013 membahas mengenai Turning Point

 

Apa sih Turning point itu?

Turning Point adalah sebuah ‘titik balik’ atau ‘pengalihan’ yang mana posisinya bisa ditempatkan pada awal atau akhir atau mungkin juga di tengah-tengah cerita.

Turning point itu juga dapat diartikan dimana cerita yang kita anggap akan berakhir, ternyata berubah atau berbelok ke arah baru.

Contoh pada kisah laskar pelangi :

Di awal, diceritakan sekolah Muhammadiyah itu tidak akan berjalan kalau muridnya tidak banyak dan tidak memenuhi kuota kan. Tokoh utama, Andrea kecil, benar-benar khawatir karena takut dia tidak bersekolah. Ikal sendiri merasa kalau impiannya bisa jadi hancur karena tidak bisa bersekolah kalau tidak ada murid baru yang memenuhi kuota kan. Nah, tapi ternyata, datang satu tokoh baru yang menyelamatkan impian Ikal dan anak-anak lai.

Cerita di awal bisa jadi berakhir kalau ternyata kuota murid disana tidak terpenuhi kan. | Cerita – Tamat | ternyata ada tokoh baru yang membuat cerita tidak tamat begitu saja.

Itu adalah masa turning point yang ditempatkan di awal oleh Andrea.

Jadi, turning point juga bisa di katakan sebagai Perubahan atau Pembelokkan cerita bahkan bisa dikatakan sebagai jalan untuk menuju sebuah konflik.

Contoh lainnya :

Kita telah membaca keseluruhan cerita dimana ada tokoh A (wanita) dan tokoh B (laki2) sepanjang di novel itu menemui banyak masalah karena tidak diizinkan menikah, dll. Tapi ternyata menjelang akhir cerita, ada peristiwa tertentu yang menjadikan mereka akhirnya diizinkan menikah.

Atau bisa kita balik contohnya. Tokoh A dan B selama ini lancar berhubungan, ternyata di akhir cerita mereka batal menikah. Kemungkinan pembatalan itu bisa banyak: selingkuh, tokoh B meninggal, tokoh A terkena musibah, dll.

 

Kita juga harus memikirkan dengan seksama turning point tersebut,  Jangan tergesa-gesa, Jangan juga terlalu lambat temponya.

Kita sesuaikan dengan proporsi yang kita butuhkan di cerita. Kemudian kita juga pikirkan kelogisan dari resolusi/penyelesaian konflik yang kita punya di dalam cerita.

 

-          Reverse Writing

Reverse writing adalah tulisan yang ketika dibalik urutannya tetap jadi satu cerita yang utuh

Contoh :

Telah cukup lama ia terpaku menatap nisan yang ada di hadapnya.  Matanya sembab dan menghitam sebab isak tangis yang tak henti. Air mata menganak sungai menembus bumi yang kering karena kemarau. Kulit bibirnya telah pecah, dengan raga yang terlihat begitu lemah.

Ketika di reverse :

Kulit bibirnya telah pecah, dengan raga yang terlihat begitu lemah. Air mata menganak sungai menembus bumi yang kering karena kemarau. Matanya sembab dan menghitam sebab isak tangis yang tak henti.  Telah cukup lama ia terpaku menatap nisan yang ada di hadapnya

 

FOR YOUR INFORMATION :

KALAU KETIKA KITA MENULIS, KITA TIDAK TERGERAK DENGAN TULISAN KITA SENDIRI. Jangan harapkan orang lain akan tergerak. KALAU KITA MENULIS DAN KITA JUGA TIDAK TEMUKAN ‘SURPRISE’ ATAU ‘KETEGANGAN’ YANG KITA INGINKAN AGAR PEMBACA RASAKAN. Jangan harap pembaca bisa ikut merasakan.

Ingat, kalau kita ingin membuat pembaca merasakan SESUATU, kita juga harus merasakan SESUATU itu dulu ketika menulisnya. Kalau kita sendiri SEDIH ketika menulisnya, pembaca akan ikut merasakan KESEDIHAN itu. Kalau kita sendiri BAHAGIA, pembaca akan ikut merasakan.

 

Sekian. Semoga Materi ini bisa bermanfaat ya :D

_dyazafryan_

Janji

Nesya melayangkan matanya ke sudut ruangan. Jam dinding merahnya telah menunjukan pukul 19.00. Ini malam sabtu. Oke oke. Semua orang bilang ini malam minggu dan Nesya masih tak beranjak dari kamarnya.
Diliriknya handphone sekali lagi meyakinkan diri bahwa benar tidak ada pesan yang masuk.
Ia menghela napas panjang, raut mukanya kecewa. Ia meletakan handphone kemudian menyetel TV. Tidak berapa lama ia mematikannya lagi.

“Tak ada acara yang bagus” rutuk Nesya.

Sebenarnya itu hanya alasan karena perasaannya memang sedang tidak tenang.

Diambilnya lagi handphone lalu diketiknya sebuah pesan.

“Kok sms Nes di anggurin sih?? Sebeell tau” 
-Send-

Selang beberapa menit kemudian, handphonenya berdering tanda ada pesan yang masuk. Nesya meloncar meraih handphonenya. Pesan balasan dari orang yang dari tadi Nesya harapkan.

“Lagi sibuk ‘ndut. Ini ada yang mau ngambil pesanan soalnya. Entar lagi pulang kok.​(ˇ-ˇ)-c

Nesya memandang balasan smsnya dengan raut muka aneh.

“Dasar!!” Ia lalu membenamkan wajahnya pada boneka kesayangannya.

***

Aku memacu motorku cukup kencang. Dingin malam ini sangat menusuk,karena ingin cepat aku lupa memakai jaketku. Tubuhku sudah sangat lelah untuk lebih memacu motorku. Kesibukanku kuliah dan membantu ibu mengantarkan pesanan jahitan, membuat aku jarang meluangkan waktu buat Nesya.

Aku memberhentikan motorku tepat dirumah ibu Nelly,langgana setia ibuku.

Bip.bip..

Sebuah pesan masuk ke handphoneku. Pesan itu dari Nesya.

“Kok sms Nes di anggurin sih?? Sebeell tau”

Otakku berpikir, 
“Ah,ini malem minggu ya?” Kataku dalam hati. Aku biasa mendapat sms seperti itu dimalam minggu.

“Lagi sibuk ndut,ada yang mau ngambil pesanan,ini bentar lagi pulang kok”
-send-

Kemudian aku memberikan pesanan pada ibu Nelly yang sudah menunggu. Aku langsung berpamitan pada bu Nelly, lelah tubuh membuat aku tak sanggup lagi untuk meluangkan waktu ngobrol sama bu Nelly.

Aku kembali kemotorku dan memacu lambat motorku.

“Maaf ya ‘ndut, malam minggu ini nggak bisa lagi berduaan” kataku dalam hati.

***
Nesya tersenyum lebar memegang map cokelat ditangannya. Dia masih tak percaya namanya yang tertera di dalam dokumen itu. Dokumen yang memperbolehkan Nesya belajar di Jepang selama enam bulan mulai awal bulan depan. Tak percuma kerja kerasnya belajar selama beberapa pekan terakhir, sibuk sesibuk-sibuknya untuk mengurus administrasi dan tentu ini adalah hasil yang sebanding.

“Ia ma, nanti kasih tau sama papa ya. Nes mau makan dulu. Nanti kita sambung lagi ya!” Ujar Nesya lalu mematikan sambungan teleponnya.

Dengan riang Nesya berjalan menuju kantin yang terletak disebelah utara kampus. Tiba-tiba handphonenya berdering tanda ada pesan masuk.

“Gmn? udahan hasilnya ‘ndut?”

“Udah. Nes ke Jepang bulan depan Yo. Nez ke Jepang!! :) “. 
-send-

***

“Ndut, kamu di dalem kan?”

Nesya mengusap-usap matanya. Sepertinya suara seseorang yang dikenalnya. Ia berjalan malas membuka pintu rumahnya. Seorang pria berkulit sawo matang telah berdiri dihadapannya, tersenyum manis. Akh, kenapa senyum itu selalu manis.

“Congratulation ya ‘ndut. Nih ada titipan dari ibu. Katanya kado buat kamu” ujar Aryo seraya memberikan sebuah syal merah jambu, hasil rajutan ibunya kepada Nesya. 
Aryo adalah lelaki yang sudah dipacari Nesya selama dua tahun terakhir ini.

“Duh cantik banget. Bilang makasih ya ke ibu Yo”

Aryo tersenyum namun ada kekhawatiran menggantung di wajahnya.

“Kita bisa kan Nes melewati enam bulan ini? Sebentar doang kan?” Aryo memecah suasana dengan suaranya yang berat.

Nesya tersenyum. Ternyata pacarnya yang selalu terlihat cuek itu juga khawatir.

“Yes! Yes we are! Keep calm honey, I love You”

Pernyataan yang membuat Nezya mendapat sebuah hadiah cubitan di pipi kirinya.

“Awas kamu jangan nakal di sana ‘ndut”

***

Aku masih menyimpan perasaan gundah ketika dalam perjalanan pulang kerumah. Baru saja aku kerumah Nesya untuk memberinya selamat dan juga mengantarkan syal yang dibuat ibu untuk Nesya. Nesya sangat akrab dengan ibuku. Nesya adalah wanita yang selalu menemani kesepian ibu semenjak ayah meninggal 1 tahun yang lalu. Perhatian ibu ke Nesya sudah seperti anaknya sendiri.

Aku turut bahagia Nesya bisa mewujudkan impiannya ke Jepang. Namun dilain sisi aku merasa sedih harus ditinggalkannya sebentar lagi, ya walaupun hanya 6 bulan. Dia bisa mendapatkan beasiswa lanjutan jika dia mendapat nilai-nilai yang bagus dan dia telah bekerja sangat keras untuk itu.

“Ah,lupakan saja. Aku bangga dan bahagia jika impiannya terwujud. Aku harus meluangkan waktu sebelum dia pergi nanti!” kataku dalam hati.

Cittttt!!!!
Lamunanku terpecah,aku menghindari lubang jalan.

“Astaga,hampir saja.” Aku menghela nafasku,mengilangkan rasa cemas yang menerpaku.

Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku dikasurku. Aku mengambil handphoneku dan mengirim pesan pada Nesya.

“Inget ya jangan nakal loh disana.” Kuselipkan emoticon cium diakhir pesan.
-send-

***

Enam bulan telah berlalu. Akhirnya Nesya menginjakan kaki lagi di tanah kelahirannya. Hari ini matahari menyapa lembut. Disesapnya udara dalam-dalam. Ia tersenyum, rasanya lega sekali. Setelah mengambil semua barang bawaan, Nesya berjalan menuju gerbang penjemputan. Terlihat olehnya ayah dan ibunya berdiri dengan wajah berseri-seri. Ibunya bahkan menangis ketika mendekap Nesya. Terlalu rindu nampaknya.

Hari ini Aryo telah memberi tahu tidak dapat ikut menjemputnya di bandara karena ada urusan katanya. Nesya agak kesal sebenarnya tapi Aryo ya tetap Aryo, selalu saja begitu.

Dalam mobil, di sela-sela percakapan dengan ayah dan ibunya ponsel Nesya berdering tanda sms masuk.

“N’dut itu pipi apa bakpao sih?​hahaha”

Nesya melotot kaget menatap layar handphonenya. Ternyata tadi Aryo ada dibandara.

“Kamu menyebalkan. Tau deh!”
-send-

Hari ini adalah hari kepulangan Nesya. Aku sengaja tak menjemputnya dibandara saat di kembali. Hmm.. Bukan tak menjemput sih,hanya saja aku tak menampakan diriku saat dia tiba. Aku melihatnya dari kejauhan sedang bersama ayah dan ibunya. Aku tersenyum ketika melihat sedikit perubahan pada pipinya yang semakin tembem. Aku tertawa sendiri.

Mereka kemudian masuk ke mobil, dan kelihatannya akan langsung menuju kerumah. Aku kemudian dengan cepat menaiki motorku dan melaju kencang mendahului mereka tiba dirumah nesya. 30 menit perjalanan membawa aku tiba lebih dulu dirumah Nesya. Ya, aku dan keluarganya menyiapkan acara kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan Nesya. Semuanya sudah siap dan aku tinggal menunggu kedatangan mereka. 10 menit menunggu, akhirnya mereka datang. Aku mengintip lewat jendela untuk memastikannya. Terdengar langkah-langkah kaki yang mendekat, suara pintu yang terbuka dan

“SURPRISE!!!”

Aku berteriak dengan lantang dengan membawa sebuah kue coklat kecil kesukaannya. Aku melihatnya terkejut dengan raut muka yang ingin mencubitku.

“Welcome home ya ndut.” Aku kemudian mengelus rambutnya dan tak lupa mencubit pipinya.
“Hihi, ini ya pipi bakpao tadi.”
Aku tertawa. Nesya hanya bisa mencubit lenganku.

“Kamu tetep aja nyebelin Yo”

Aryo tertawa lalu melirik syal merah yang Nesya lingkarkan di lehernya.

“Masih kamu simpan ‘ndut?”

“Ya iyalah. Supaya aku inget ibu kamu terus jadinya semangangat Yo.”

“Terus anak lelakinya nda diingat ‘ndut?”

“Terus kalo setiap hari di kontak tuh namanya gak ingat gitu ya?”

Aryo tertawa terbahak-bahak lalu menarik Nesya kedalam pelukannya. Ia memeluk Nesya erat sekali, seolah menumpahkan segenap rindu yang tertabung selama enam bulan belakangan.

“Welcome home swettie”
Bisik Aryo mesra.

Nesya tersenyum lebar dalam pelukan Aryo. Rindunya kini  terbayar sudah. Namun yang membuat Nesya lebih gembira adalah karena sebutan sweetie yang baru saja di dengarnya. Ya ya, Aryo memang jarang romantis. 
Tapi Nesya tak peduli. Seorang pria idaman kan tidak selalu harus romantis bukan?

Bukan banyaknya kata-kata sayang yang membuat cinta ini terus ada, tapi satu pelukan hangat ini yang mengatakan bahwa aku dan kamu akan terus mencintai.

Tulisan kolaborasi dengan Masya Ruhulessin

Senyum Sederhana.. :)

Aku tersenyum..

Aku rindu merindu..

Aku rindu memiliki..

Aku rindu….

 

Aku tersenyum..

Pada satu malam aku duduk didepan barisan buku-buku bacaku.

Mendekap satu pasang buku untukmu..

 

Aku tersenyum..

Kuletakkan kembali buku itu, sebelum kamu memilikinya nanti.

Ketika jemari ini pelan-pelan  memberi.

 

Aku tersenyum..

kumatikan lampu pada meja buku ini.

berdiri tegap melangkah keluar rumahku.

Melihat sekumpulan bintang bersinar..

dimataku mereka membentuk sebuah senyuman.

 

Aku tersenyum..

Bintang.. tetaplah kalian seperti itu..

sampai nanti, aku menginjakan kaki pada satu tempat terindah dulu..

Tempat yang pernah membuatku tersenyum indah.

 

_dyazafryan_