Review Film – Dragon Blade (2015)

Dragon-Blade-2015

Film Rilis: 19 Februari 2015
Genre: Action, Adventure, Drama
Produser: Jackie Chan, Susanna Tsang
Casts: Adrien Brody, John Cusack, Jackie Chan, Sharni Vinson, Choi Siwon, Lin Peng, Amanda Wang
Ini adalah sebuah film sejarah yang menceritakan tentang masa Dinasti Han. Huo An (Jackie Chan) adalah pemimpin dari pasukan pelindung jalur sutra. Karena suatu masalah, Huo An dan pasukannya di bawa ke Gerbang Angsa Liar untuk mendapatkan hukuman membangun kota. Di sana terdapat banyak suku-suku yang menjalani hukuman. Lalu Gerbang Angsa Liar kedatangan Bangsa Roma yang di pimpin Lucius (John Cusack) yang sedang melarikan diri dan sedang menyelamatkan Publius, Kaisar Kecil Roma yang di khianati oleh salah satu petinggi bangsa Roma. Sempat berperang Antara Huo An dan Lucius, namun badai pasir menghentikannya. Huo An mempersilahkan Bangsa Roma untuk masuk ke Gerbang Angsa Liar. Mereka saling berterima kasih, dan Lucius menceritakan masalah yang terjadi di Bangsa Roma. Lucius dan kerajaanya di khianati oleh Tiberius, salah satu pemimpin Roma yang meracuni Publius. Pada Akhirnya Lucius tertangkap dan semua suku-suku tertangkap, dan perang terjadi.
Film ini sebuah pembelajaran tentang kekuatan Bangsa zaman terdahulu, dari Hun, Roma, Parthian, dan lainnya. Kabarnya film ini di proses selama hampir 7 tahun, dan hasilnya luar biasa. Sejarah yang di tampilkan, efek-efek, dan yang pasti adalah alur cerita yang memukau dan membuat penasaran. Bagi saya sendiri, tidak ada kata bosan untuk menikmati setiap menit-menitnya. Film yang berdurasi 2 jam ini layak di tonton. Terdapat banyak pesan moral dalam film ini, salah satu nya adalah walaupun dengan bangsa yang berbeda, banyak suku dan kekuatan, namun kedamaian harus tetap terjaga. Saling toleransi dan menolong sesama meski berbeda. Ketika kawan bisa menjadi lawan, lawan pun bisa menjadi kawan dan mampu saling memperjuangkan.
5 Bintang dari 5 bintang untuk film Dragon Blade.

(Musikalisasi Puisi) Aku Berharap, Aku Lebih Bisa Mencintaimu

Aku berharap, aku lebih bisa mencintaimu

“Harusnya aku lebih mampu untuk menepis lambaian tanganmu.
yang perlahan ragamu menjauh dalam kabut-kabut hujan.
Dan membuatku terjatuh, tanpamu.”

****

Aku Berharap Aku Lebih Bisa Mencintaimu.

Aku berharap bisa lebih kuat untuk mencintaimu.
Lebih dapat mampu menghalau badai yang datang,
yang membuatmu terjatuh, tanpaku.

Harusnya aku lebih mampu untuk menepis lambaian tanganmu.
yang perlahan ragamu menjauh dalam kabut-kabut hujan.
Dan membuatku terjatuh, tanpamu.

Sangat menyedihkan,
Ketika tulang-tulang yang telah rapuh, tak mampu membawaku berdiri.
Sangat menyedihkan.
Bahkan aku sendiri tak tahu bagian-bagian mana dari hidupku yang harus kurangkai kembali.

Sepertinya aku telah mati.
Dalam nyawa yang masih bernapas.
Dengan sisa-sisa kekalahan yang masih saja terlihat.

Aku berharap aku lebih bisa mencintaimu.

Review Novel “Walking After You” by Windry Ramadhina

Kembali lagi membaca karya-karya romance dari Gagasmedia. Sebenarnya sudah menjadi bagian untuk membaca karya-karya dari mbak Windry Ramadhina. Kali ini adalah buku ketujuh dari beliau berjudul Walking After You.

 

walking after you

Judul : Walking After You
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagasmedia
Tebal : 320 hlm
Terbit : 2014

Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

***

Novel ini menceritakan kisah An (Anise) yang mempunyai saudara kembar bernama Arlet dan mereka sama-sama menyukai memasak. An dengan masakan Italia dan Arlet dengan kue-kue. Keinginan mereka adalah untuk membuka sebuah toko makanan Italia dan kue-kue Prancis. Namun suatu terjadi ketika Saudaranya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil setelah pertengkaran hebat mereka berdua. Keributan terjadi karena Arlet mengetahui hubungan An bersama Jinendra, lelaki yang Arlet sukai ketika berada di La Spezia. An yang merasa berasalah atas kematian saudara kembarnya, terkurung dalam masa lalu. Ia membangun mimpi untuk menjadi koki kue seperti Arlet, mimpi Arlet, bukan An. Hingga Ia bekerja di Afternoon Tea milik sepupunya dan bertemu Julian, seorang koki kue yang mengubah hidupnya. Jinendra yang kemudian hadir kembali setelah 2 tahun berpisah membawa kenangan-kenangan tentang masa lalu mereka, An, Arlet dan Jinendra. An dalam pilihan yang sulit antara masa lalu dan menuju impiannya.

Ini adalah novel kelima Mbak Windry yang saya baca setelah Memori, Montase, London, dan Interlude. Lagi-lagi sangat menyukai tulisan-tulisannya. Meskipun di pusingkan dengan kisah-kisah makanan dan kata-kata khusus dalam bidang memasak serta kalimat-kalimat Bahasa Italia, namun hal itu justru menarik untuk mendapatkan pengetahuan baru. Bagi yang sangat menyukai memasak kue, buku ini dapat menjadi motivasi tersendiri. Kisah dituliskan secara manis, dan apik. Gabungan alur masa lalu dan kini nya juga pas menurut saya. Di awal menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi dan membuat penasaran. Menurut saya sendiri ending ceritanya yang sedikit kurang terlalu “wah”. Tetapi secara keseluruhan novel ini membuat saya ingin cepat menyelesaikannya. Menarik.

Satu quote yang sangat saya sukai dari novel ini berada di halaman 293.

“Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengan menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri.

4 bintang dari 5 bintang untuk Walking After You.

Late March..

Bukan. Bukan Bulan Maretnya yang datang terlambat, melainkan postingan awal bulan Maret yang terlambat. He.he.he

Selamat datang bulan Maret yang sudah memasuki tanggal 2, meninggalkan bulan Februari yang menurut saya sendiri dilalui dengan sangat berat. Banyak cobaan tentang perasaan dan pikiran. Cuma berharap di bulan ini bisa menyelesaikan beban-beban yang menumpuk di bulan sebelumnya.

Februari yang lelah, Februari yang mungkin bukan diriku. Semoga Maret ini jauh lebih baik lagi dan bahagia buat saya dan kita semuanya.

Amiinnnnn…

Welcome March.. :D

Tak Tertulis, Tak Terucap.

Surat keempatbelas, hari ke-24.

 

Mungkin ada waktunya kita harus berterima kasih kepada sesuatu yang dianggap biasa, yang mana ternyata ia pernah membantumu akan sesuatu. Seperti airmata.

Semua orang pernah menangis oleh sebuah kesakitan, ketidaktenangan, kebahagiaan, kelucuan dan lain sebagainya. Ia yang menjadi salah satu bentuk akhir dari sebuah hal yang tertahan. Kesedihan, ataupun kebahagiaan yang berakhir pada sebuah ketenangan dan kedamaian.

Kadang dianggap cengeng atau lemah. Tapi kita tahu bahwa efek dari menangis itu luar biasa, dan bagi saya, menangis adalah salah satu cara untuk lepas sejenak dari beban.

 

Airmata membuatku semakin hangat di tengah malam yang dingin dan sendiri.

Detak jarum jam tak berarti apa-apa.

Berjalan seperti biasa.

Tak salah,

Airmata hanya sebatas kata-kata yang tak tertulis

dan tak terucap.

Lepaskanlah bebanmu dengan airmata, lalu kau bisa bangkit lagi setelahnya.

ditulis untuk #30HariMenulisSuratCinta