Perempuan dan Alamat Kesayangan

Aku tahu ia tak ingin menulis apa-apa hari ini, hanya ingin memeluk seseorang dengan erat. Ia terbiasa membaca surat-surat yang ditulisnya sendiri, bertumpuk-tumpuk di atas meja riasnya, tanpa mengirimnya, sebab ia sendiri berada di alamat kesayangannya.

Aku tahu ia tak ingin berkata apa-apa hari ini, hanya ingin menangis sendirian. Ia tak punya banyak cara untuk mengungkap perasaanya, sebab terlalu lelah untuk bercerita panjang lebar.

Perempuan itu masih berada di alamat kesayangannya, menunggu seseorang pulang.

Ditulis untuk #aprilnulis NBC Palembang

Melahirkan Bahagia

Aku lebih kuat dari badai yang merobohkan pepohonan dan lelaki berkemeja lusuh yang setia itu berdoa lebih banyak di sampingku. Beberapa orang sibuk menunggu dalam kecemasan, sebagian lainnya hanya berlalu-lalang. Tak ada yang melegakan ketika suara tangis itu pecah, orang-orang yang tersenyum dan ucapan selamat. Dalam napas yang terengah-engah, aku ingin tertidur sejenak ketika melahirkan bahagia.

Ditulis untuk #AprilNulis #NBCPalembang #Perempuan

Menemukan Hadiah

Pada suatu malam, pernah aku terbangun dan merindukan percakapan. Lalu aroma kopi mulai hadir di kepalaku. Memintaku untuk terjaga lebih lama.

Celotehmu kuanggap sebagai hadiah terbaik sepanjang dini hari hingga pagi lebih terang dan hangat mulai merasuk lewat sela-sela jendela.

Bagimu, ucapan selamat pagiku dengan suara parau adalah hal terbaik sepanjang harimu. Cukup sederhana bagi kita yang sama-sama jatuh cinta tanpa pernah bicara perihal rasa,

Hingga akhirnya menemukan hadiah yang lain dan kita tak pernah lupa.

Ditulis untuk #AprilNulis #NBCPalembang

Lagu yang Pernah Menjadi Favoritmu

Kita pernah melewati masa ini, membenci lagu yang pernah kita sebut sebagai lagu kesukaan, dari lirik, nada hingga makna. Dan menjadi tuli ketika seorang pemusik menyanyikannya di sudut ruang kedai kopi, yang dulu kita sebut tempat favorit.

Kuingat, kau menenangkan rindumu dengan memintaku bernyanyi. Waktu itu, kira-kira pukul 1 pagi dan telingaku sudah panas dipenuhi cerita keseharianmu. Suaraku tak seberapa bagusnya, namun cukup membuatmu bahagia.

Kelak, ingin sekali ku tulis kembali lirik yang tak terselesaikan bersama nadanya dan ku kirimkan padamu agar kau bisa mendengarnya.

Mungkin bagimu terasa tak asing, namun jika kau bersedia, kau bisa menjadikan lagu itu favoritmu.

Atau kau bisa membencinya karena berisi tentang kita. Sekali lagi, ini hanya jeda dari melodi yang mengalun di perempatan jalan saat laju kendaraanku memelan.

Saat itu juga ingin kutahu, apa yang menjadi favoritmu kali ini.

Ditulis untuk #AprilaNulis NBC Palembang

[Musikalisasi Puisi] Tak Lelahkah Kau dengan Ini?

a couple holding hands walking into the sunlight

“Aku tetap mencintamu seperti pertama kali aku memintamu.”

****

Tak Lelahkah Kau Dengan Ini?

Sepasang mataku risau
dan sementara 10 jari tanganku sudah lelah bersengketa denganmu, letih dengan segala emosi.
kenapa kita sering biarkan debat yang tak perlu itu terjadi,
atau kenapa tak kita biarkan saja tawa-tawa itu menggelitik kita sampai mati.

Akhir-akhir ini, sering kutemukan rambutku rontok karena sakit kepala.
namun, kau tahu tak pernah kubiarkan rindu ini habis karena amarah.
dan lalu kita izinkan sepi merayapi satu malam ini, malam ini saja.
dan melupakan semua tentang siapa yang paling bersalah, siapa yang harus mengalah.
tentang apa yang kau benci dan apa-apa saja yang aku tak sukai.
aku pikir, ini tak akan pernah ada habisnya.
dan sementara itu kita telah menghabiskan banyak waktu sia-sia, tanpa bahagia.

tak lelahkah kau dengan ini?
bisik-bisik yang mengusik telingamu.tanpa kau tahu bagaimana hari hari kita masing-masing.
dimana kita?
sedang apa kita?
terbiasakah kau dengan ini?

dimanapun kau saat ini, usir jauh tentang apa yang akan berubah. karena tak ada.
aku tetap mencintamu seperti pertama kali aku memintamu.