[Puisi] Mereka-mereka yang Tak Ingin Dilupakan

Aku tak ingin banyak perpisahan.

Daun yang menguning lalu jatuh ke atas tanah tempat sahabat-sahabatnya telah lebih dulu menangis.

Lalu akan ada yang baru,

seperti itulah setelah kehilangan.

Tak perlu ada kata melupakan, karena akan jadi hal yang ditakutkan ketika peluk berubah airmata.

Mereka-mereka yang punya kekuatan tertawa lebih banyak menjadi orang yang paling sibuk menenangkan pikirannya sendiri.

Yang lebih banyak diam akan tetap seperti itu.

Dan pada suatu saat, di sore yang tenang. Sebagian dari mereka mulai memikirkan tentang sebuah pertemuan atau sekadar mengenang.

Palembang, 25 Mei 2015.

Festival Lampion Suzhou Palembang

Ini salah satu event yang lagi berlangsung di kota Palembang. Udah dari tanggal 1 Mei kemarin sih dan saya sendiri baru bisa datang tadi malam bersama temen-temen kantor. Kegiatan ini di adakan oleh Lautan Lentera dan di Palembang sendiri hadir di kawasan GOR Bumi Sriwijaya bersebelahan dengan Palembang Square Mall. Lokasi yang strategis. Yang pasti acara ini indah jika dinikmatin malem hari bersama teman-teman dan keluarga. Sendirian mah enggak enak. Selain enggak ada yang motoin, mungkin juga enggak ada yang bayarin. :D Tiketnya juga enggak mahal kok, cuma 20.000 rupiah untuk dewasa dan anak-anak sebesar 10.000 rupiah.

IMG_6078

IMG_6125

Enggak cuma menampilkan beberapa lampion-lampion cantik, namun juga terdapat beberapa wahana permainan untuk anak-anak seperti kora-kora, sepeda-sepeda lampu, trampolin, dan juga balon air. Dimeriahkan juga oleh barongsai, kembang api dan acara-acara lainnya. Juga terdapat banyak stand-stand makanan dan oleh-oleh.

IMG_6086

IMG_6090

Festival Lampion Suzhou ini akan ditutup pada tanggal 31 Mei 2015 bersamaan dengan pengumuman doorprize. :D

This slideshow requires JavaScript.

 

[Puisi] Menikmati Pagi

Alarm handphoneku terlalu berisik pagi ini. Berteriak kencang seperti orasi-orasi mahasiswa menolak kenaikan BBM. Lantas telingaku tak begitu tertarik untuk mendengarkan. Aku terlambat menemui Tuhan pagi ini.

Rumput masih basah. Burung-burung masih berceloteh pagi bersama kawanannya yang baru saja hinggap di dahan pohon mangga. Beberapa dari mereka baru saja mengepakkan sayapnya. Pergi mencari sarapan.

Aku benci pagi tanpa teh manis, atau tak ada suara adukan sendok melarutkan gula. Suara pembawa acara di televisi mengalahkan obrolan pagi yang lama hilang. Ibu sibuk di dapur. Bapak? aku tak pernah menegurnya lagi akhir-akhir ini.

Aku harus segera membasahi diriku. Tanggal merah hanya indah bagi yang merayakan, kecuali aku. Tuhan benci orang orang yang suka mengeluh, menyalahkan atasan kenapa tak ada libur.

Aku hanya ingin segera pergi meninggalkan sendu yang beberapa hari masih menginap dalam otak. Kutinggalkan sendirian di kamar. Pagi yang tak indah, tak juga terlalu menyenangkan.

 

Palembang, 16 Mei 2015.

#Nyawa

Mungkin ada sedikit orang yang tau dengan hastag #nyawa ini, Tapi banyak yang lebih enggak tahu, Hahaha.

Saya sudah aktif ngetweet dengan hastag itu sejak Desember tahun lalu, bahkan sampai hari ini, dengan tambahan hastag #HujanRindu.

Yap #Nyawa adalah buku kumpulan puisi kedua saya yang sejak Desember 2014 sudah live di website nulibuku(dot)com, sebuah situs penerbitan buku self-publishing online.

Nyawa cover thumbnail

Buku nyawa ini saya tulis selama 7 bulan, sejak lahirnya #HujanRindu sebagai buku pertama.

Mengapa Nyawa? Karena saya hanya ingin menampilan bahwa selalu ada nafas dalam membuat puisi, tak ada puisi-puisi yang akan mati atau berhenti di tulis. Di dalam buku #Nyawa ada 2 bagian yaitu kesedihan dan kebahagiaan sebagai keseimbangan.

Berhubung self-publishinig, promosinya dilakuin sendiri plus dibantu temen-temen yang sudah memesan buku tersebut lewat saya ataupun langsung dari nulisbuku.com.

Belum terlalu banyak yang membeli, tapi ada beberapa teman yang sudi untuk berfoto bersama sang buku sebagai wujud apresiasi mereka, dan saya sangat berterima kasih atas hal itu. Ha, ha, ha.

 

This slideshow requires JavaScript.

Terima kasih teman-teman dari Palembang, Tangerang, Bogor, Surabaya, bahkan Jogjakarta yang sudah mau memesan dan membaca #Nyawa dan #HujanRindu.

Selamat berpuisi…

Banjir lagi..

Hujannya sih enggak selama waktu itu tapi banjirnya lebih tinggi. :D

Tadi malam hujan dimulai sekitar pukul 11.30 malam, dan saya masih sibuk tidur-tiduran dan sambil dengerin lagu dengan headset. Lalu ibu saya masuk ke kamar dan berkata.

“Udah tidur?”

Lalu saya menggeleng menandakan belum.

“Astafirullah, liat tuh, banjir kamarmu.”

Lalu saya bangkit dan berkata,”lah udah banjir?”

Enggak sampe satu jam hujan turun tapi banjir udah dateng, dan entah jam berapa saya tertidur, berharap pagi banjir akan surut.

Pagi udah tiba, dan bener. Ternyata banjir malah makin jadi, makin naik. Padahal hujan udah berhenti tadi malam.

Alhasil kawasan rumah seperti menjadi sungai

.CEDP2ShUUAAPRPL

CEDSgMfUgAADvOQ

Saya suka hujan, namun tak suka banjir. -_-

May, May I?

Judulnya aneh, mungkin iya.

Hehehee.. seperti permohonan.

Apa kabar semuanya, sudah beberapa minggu terlewati begitu saja tanpa ada satu pun postingan. Seperti kata Mas Ryan, saya jadi blogger yang sedang hiatus :D. Bukan enggak ada ide sih, ada.. hmmm ada beberapa. Seperti puisi-puisi, namun saya simpan untuk sebuah project yang baru, kecuali disiapkan untuk di posting.

Hari ini masuk bulan yang baru, yap Mei. dan di hari yang pertama ini adalah tanggal merah yang artinya libur untuk yang mendapatkan libur. Ada yang masih kerja, seperti saya? Hehehe. By the way, selamat hari buruh ya.

April. Sebenarnya banyak kisah di sana. Namun hanya tersimpan di ingatan dan perasaan. Tentang harapan, kebahagiaan, kesedihan dan…. kehilangan.

Tentang kehilangan, apakah mampu dikembalikan? atau digantikan?

Mei, menjadi bulan baru yang harus diisi dengan yang baru, seperti harapan, pelan-pelan bangkit dengan segenggam cerita di bulan sebelumnya tanpa melupakan kisahnya.

Berharap bulan Mei akan memberikan sesuatu yang indah. May, May I?

_dyazafryan_