Hujan Rindu

Diamlah sejenak, dan resapi indahnya suara rintik hujan yang semakin deras.

Nikmati aroma tanah yang baru saja basah karenanya.

Rayuan nyanyian hujan itu tak akan pernah habis, mencipta setetes embun yang manis untuk ditulis.

Memompa rindu untuk berdetak, berdegup, berdentum menusuk jantung.

Sebenarnya tak ada yang perlu kurisaukan tentang riuhnya hujan yang jatuh

atau tentang rindu yang hadir setelahnya.

Tak ada.

Yang ada hanya perasaan yang tertahan dalam genggaman.

Hujan berbisik padaku tentang banyaknya rindu yang harus kulepas,

seiring dengan perasaan yang ikut terhempas.

bahwa pada saatnya rindu ini tak akan lagi untukmu, tapi untuk hati yang akan kusinggahi, setelahmu.

Puisi ini dibacakan di MalamPuisi Palembang ke 7

_dyazafryan

Aku Ingin Hujan

Surat keenam belas, 16 Februari 2014

Untuk beberapa waktu, aku merasakan seperti ada yang hilang. Entah itu tentang apa, entah itu karena apa.

Ada sesuatu yang sepertinya gersang, yang jauh tak kurasakan. Mungkin itu rindu.

Aku butuh hujan, yang mampu meredakan kering. Untuk hati yang hampir mati, untuk dunia yang sedang panas.

Aku rindu titik-titik air itu jatuh ditelapak tangan ini, atau hanya sekedar memberi rasa sejuk pada hati yang ingin tenang.

Aku rindu bau hujan, rindu suara derasnya yang jatuh pada genting rumah, rindu pada ujung daun yang meneteskan butir-butir hujan.

Dear hujan, turunlah meski sesaat. Beri aku anugerah dari hadirmu.

_dyazafryan_

Kepada Jarak, Aku Akan Mengalahkanmu!

Surat Ketiga, 3 Februari 2014

Kepada jarak yang tak pernah menghilang, Aku tak pernah ingin menyalahkanmu, ataupun membencimu.

Yang aku tahu kamu adalah salah satu cara agar rindu-rindu tetap berada pada tempatnya, meski aku berusaha keras untuk mengobatinya.

Kepada jarak yang tak pernah mundur sedikitpun dari kehidupan, tetaplah jadi bagian penghias cinta.

karena aku ingin kau tahu, suatu saat aku akan mengalahkanmu.

kepada  yang menjadi pejuang jarak nan jauh disana, tetaplah mencintai jarak. Karena dia, kita saling merindu. 🙂

_dyazafryan_

Memeluk Malam dengan Bahagia (Musikalisasi Puisi)

Memeluk MAlam dengan Bahagia

“Lihat, kita masih bisa saling memeluk bahagia, Meski terkadang ragu menyelimut asa.”

Malam ini terlalu pekat, dan hujan datang mengendap-endap menyambut sepi dalam waktu.

Ia lalu menari-nari dalam heningnya sanubari,

Mencipta jarak yang telah lama mati.

 

Pada satu genggaman jemari yang saling menarik,

Namaku dan namamu menjadi bait puisi-puisi sepi.

Melantunkan irama kesendirian, dan memenjarakan kebersamaan.

 

Dan Sepi kini diam, tak berkata apa-apa, seperti biasa.

Hingga kudengar lantunan nada nada suaramu mengalun

Dengan sekelumit rindu yang kau ucapkan.

Pelan.

Terucap pelan pada bibirmu yang kering.

Menggema mesra di balik gendang telinga.

 

Tiap kata tanpa bingkai merayu denyut nadi ini berdetak untukmu

Menggaris pelangi pada lengkungan senyum dibibir kita berdua.

Lihat, kita masih bisa saling memeluk bahagia,

Meski terkadang ragu menyelimut asa.

 

Berat, dalam napas yang berat

Kita berdua berusaha keras menepis ragu.

Biar kita berdua belajar bahagia dari ragu

Yang pergi perlahan.

 

Puisi karya dyaz afryan dan Gisti Riza Adistie

Segenggam Rindu yang Berpulang

Tersenyumlah, kasih.

Aku kini berada di sampingmu

Duduk manis dan tersipu malu

Melukis senyumkusendiri pada wajah yang telah memerah.

Ah, tatapan matamu tak berubah,

Selalu menyejukkan,

Bahkan kini mampu menenangkan.

Tertawalah, cinta.

Aku membawa sejuta rindu dari kotaku,

Rindu yang kini akhirnya pulang, kepadamu.

Rindu yang ingin kutitipkan pada genggaman yang menghangatkan.

Erat..

Semakin erat, tak ingik kulepas.

Lembut,

Dan lalu aku menyandarkan kepalaku dibahumu.

Ini janjiku untuk pulang dan membawa ruang hatimu dalam setiap perjalanan.

Jangan pernah takut,

Aku menggenggam seluruh rindu yang telah utuh untukmu.

: Ada genggaman yang tak ingin kulepas saat rindu akhirnya mampu kuraih. Bahagia itu bersamamu :

_dyazafryan_