[Puisi] Eunoia

Suatu malam kutemukan airmata di tengah selimut yang membungkus tubuh mereka.

Akhir-akhir ini hidup membuat mereka merasa lebih lelah.

Dan isi kepalaku lebih ramai dari biasanya.

Tentang kamu, tentang orang tua yang ingin selalu kujaga bahagianya. Tentang segala kebaikan hingga kalimat “Semua akan baik-baik saja” itu akan benar baik-baik saja.

Doaku akan lebih panjang. Kurasa Tuhan tak akan mempermasalahkan. Bahkan ia sudah lebih dulu tahu sebelum sempat aku ucapkan.

Sepanjang kata ini menuntunku hingga subuh, hingga dingin senantiasa memelukku dalam-dalam. Sebelum lampu kamarku padam, aku masih kuat untuk mereka yang menangis lebih dulu dariku.

 

Palembang,27 Februari 2016

dan untuk segala hal yang kuinginkan tetap baik-baik saja.

Malam Puisi Palembang ke-23

Hai..hai para pecinta sastra khususnya puisi, udah lama banget enggak posting kegiatan ini. Sempet vakum ngadain agenda bulanan, bukan berarti Malam Puisi Palembang hilang, Malam Puisi Palembang disibukkan dengan menghadiri undangan teman-teman komunitas untuk tampil mengisi acara mereka. Kita juga sempat mengadakan lomba baca puisi yang alhamdulilah berjalan dengan sukses. dan Malam Minggu yang lalu tanggal 30 Januari 2016, Malam Puisi Palembang kembali ngadain acara bulanan yang bertajuk “POETRYGRAPH”.
IMG-20160126-WA0000

Acara yang di adain di Gowes Cafe berjalan dengan lancar, bahkan ramai oleh pengunjung yang mungkin sudah sangat rindu dengan Malam Puisi Palembang. Pembacaan Puisi, musikaliasi puisi bahkan akustik musik juga ditampilkan pada malam tersebut.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Alhamdulilah kegiatan Malam Puisi Palembang pada malam itu lagi-lagi bisa masuk di salah satu media massa di kota palembang. Hal itu membuktikan bahwa Malam Puisi Palembang selalu ingin melestarikan dan menggiatkan puisi di kota Palembang.

IMG-20160202-WA0001

Terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan Malam Puisi Palembang ke-23.

See you next month.. 😀

This slideshow requires JavaScript.

[Puisi] Kehilangan Tanpa Aba-aba, Tiba-tiba

Aku rindu pada beberapa ingatan, saat aku menatap matamu yang selalu ingin menjauh. Atau kita sadar semuanya tak lagi saling berbagi cerita di kedua mata.

Sayu suaramu mengalun diantara keramaian yang ku hiraukan,

Menebar jarak.

Bahkan sepertinya kita seperti tak ingin tahu jika berada dalam satu ruang.

Kehilangan tanpa aba-aba yang tiba tiba.

Saat itu pilu.

Engkau seakan kuat, atau bepura-pura.

Menyelipkan senyum yang kutahu itu tak baik-baik saja.

Aku rindu pada beberapa kesempatan saat kuingat keping-keping canda yang kulemparkan dan kau tersenyum.

Wajahmu terlintas di lalu lalang manusia yang tak kukenal.

Dan menghilang.

Benar benar menghilang.

Hingga kini, tak kembali.

[Puisi] Kosong

Lelaki itu telah pergi jauh, airmata tak lagi sudi jatuh.

Tak ada perbincangan tentang pagi, ataupun langkah kaki di depan pintu rumah.

Maka menangislah engkau, saat sesalmu telah menjadi mimpi buruk.

Memeluk diri sendiri yang kaku.

Mengorek waktu yang tak kembali.

 

14 Desember 2015

(Musikalisasi Puisi) Seperti Ini Saja Denganmu

a couple holding hands walking into the sunlight

“Bisa saja sore ini memelukku lebih erat.
Dengamu saja, aku ingin selalu dekat.”

***

Seperti Ini Saja Denganmu

Angin bersenandung sedikit lebih kencang.
Langit sudah tak lagi biru.
Katamu, ini saat yang bagus untuk menulis puisi,
Dan aku mengiyakan.
Setelah menyeruput kopi hitam lewat bibir mungilmu,
kalimat pertama kau ucapkan kepadaku.
Lalu menulisnya di buku yang baru saja kau ambil
dari dalam tas.
Beberapa menit diam, hanyut dalam kesendirian yang
kau buat.
Jari jemarimu tak berhenti, seperti kata-kata yang
muncul dalam kepalamu.
Angin masih kencang, menerbangkan rambutmu.
Aku masih diam, melihatmu lewat sudut mata sampai
kau berteriak pelan.

Benar-benar sore yang teduh untuk membuat puisi.
Lalu hujan Turun pelan-pelan.

“Bisa saja angin ini tentang rindu, ia kuat
menerpa wajahku.
Dan tubuh tak lagi kuat menampung
luapannya.
Hingga akhirnya aku tiba di garis akhir,
Tempat semuanya mereda.
Kopiku dingin, namun kau menghangatkanku
dengan tatapan yang beberapa waktu
terlewatkan.
Bisa saja sore ini memelukku lebih erat.
Dengamu saja, aku ingin selalu dekat.
Seperti ini saja.

-Puisi ini terdapat dalam buku Musim Semi Merah

(Musikalisasi Puisi) Hari Ini Terik

Hari Ini terik

“Mereka tak pernah tau bahwa bersamamu aku pernah lebih baik”

***

Hari Ini Terik

Hari ini terik… tapi bagiku mendung
Mendung yang meleburkan banyak molekul memori
Lalu hujan turun di hati
Haruskah kukubur rasa ini, padahal ia belum ingin mati?
Aku pun tak paham… mengapa aku terus menulis segala tentangmu pada tiap bait puisi
Padahal aku tau kau tak akan membacanya
Dulu.. mungkin aku ataupun kamu pernah sama sama berpikir tentang satu hal…
Aku dan kamu tau… kita adalah dua insan yang tepat tapi bertemu di waktu yang salah…
Sesaat setelah aku membuka kedua mataku dari tidur yang lelap.. taukah kau bermain dikepalaku segala cara untuk selalu bisa denganmu…
Satu debar ini takkan bisa aku jelaskan setiap kali melihat namamu dilayar ponselku…
Karena semenjak mengenalmu, hari hariku tak pernah sama lagi.. penuh rindu dan selalu butuh kamu..
Tapi sekarang… haruskah aku menyamar menjadi hujan, langit, dan udara, bahkan hadir dalam tiap mimpi malammu. Aku dekat, tapi tetap asing bagimu..
Kita pernah meninggalkan jejak pada jalan jalan kota yang kita lalui berdua, seolah kita yang punya dunia..
Jalan yang lurus dan panjang…
Hingga kita temukan ujungnya… kau belok ke kiri dan aku sebaliknya
Tanpa ucap pisah, tanpa peluk hangat, hanya punggung yang menjauh…
Mereka bilang… aku akan baik baik saja setelah perpisahan ini…
Tapi tentu mereka tak pernah tau bahwa bersamamu aku pernah lebih baik
Aku bingung, entah bagaimana aku menyelaraskan hukum semesta dengan ingatanku…
Kenapa setiap kali aku ingin melupakanmu… aku malah makin mengenangmu…
Karena sesungguhnya kamu masih menguasai satu per dua hatiku…
Karena hanya pada hatimu aku berhenti mencintai yang lain…
Mungkin hatimu mengatakan sesuatu ketika kau sedang membaca ini ;
“Jangan jatuh cinta padaku”
Mungkin hatiku juga akan berkata; “ Sudah terlambat”
Jadi kali ini… biarkan aku menyimpan memori tentangmu pada laci terbawah ingatanku…
Kemudian aku akan membuang kuncinya… sehingga bagaimanapun kuatnya rinduku… aku takkan bisa membukanya lagi…
Tapi… hingga saat ini… melihatmu… mendengar suaramu…namamu…tulisanmu… masih membuat ruang dadaku sesak…
Apa ini artinya kau masih menjadi segalanya untukku?
Dan yang lebih menyedihkan adalah.. aku baru menyadari bahwa selama ini aku bernyanyi untuk seseorang yang mencintai kesunyian…
Aku belum sembuh. Terhitung dari hari terakhir saat kita meyakinkan diri masing-masing akan mendapatkan pasangan terbaik…
Kau tak pernah kumiliki, tapi kenapa aku selalu merasa kehilangan?
Lagi-lagi aku harus paham bahwa seseorang yang kita genggam erat sekalipun, jika bukan jodoh.. kita harus belajar untuk melepaskannya pelan-pelan pada suatu ketika…
Suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali… pasti.. tapi dengan tatapan canggung dan hati yang mati rasa…
Kini kau menjelma menjadi rasa sakit yang kucintai terus menerus…
Dan sekarang aku memilih untuk mengingatmu saja… ketika ingin melupakan saja aku tak mampu…
Sebab sejauh apapun aku berjalan… kenangan tetap tidak berpindah, tepat dihati.

Kamu, Selamat berbahagia, selamat jatuh cinta lagi.