[Musikalisasi Puisi] Tak Lelahkah Kau dengan Ini?

a couple holding hands walking into the sunlight

“Aku tetap mencintamu seperti pertama kali aku memintamu.”

****

Tak Lelahkah Kau Dengan Ini?

Sepasang mataku risau
dan sementara 10 jari tanganku sudah lelah bersengketa denganmu, letih dengan segala emosi.
kenapa kita sering biarkan debat yang tak perlu itu terjadi,
atau kenapa tak kita biarkan saja tawa-tawa itu menggelitik kita sampai mati.

Akhir-akhir ini, sering kutemukan rambutku rontok karena sakit kepala.
namun, kau tahu tak pernah kubiarkan rindu ini habis karena amarah.
dan lalu kita izinkan sepi merayapi satu malam ini, malam ini saja.
dan melupakan semua tentang siapa yang paling bersalah, siapa yang harus mengalah.
tentang apa yang kau benci dan apa-apa saja yang aku tak sukai.
aku pikir, ini tak akan pernah ada habisnya.
dan sementara itu kita telah menghabiskan banyak waktu sia-sia, tanpa bahagia.

tak lelahkah kau dengan ini?
bisik-bisik yang mengusik telingamu.tanpa kau tahu bagaimana hari hari kita masing-masing.
dimana kita?
sedang apa kita?
terbiasakah kau dengan ini?

dimanapun kau saat ini, usir jauh tentang apa yang akan berubah. karena tak ada.
aku tetap mencintamu seperti pertama kali aku memintamu.

(Musikalisasi Puisi) Seperti Ini Saja Denganmu

a couple holding hands walking into the sunlight

“Bisa saja sore ini memelukku lebih erat.
Dengamu saja, aku ingin selalu dekat.”

***

Seperti Ini Saja Denganmu

Angin bersenandung sedikit lebih kencang.
Langit sudah tak lagi biru.
Katamu, ini saat yang bagus untuk menulis puisi,
Dan aku mengiyakan.
Setelah menyeruput kopi hitam lewat bibir mungilmu,
kalimat pertama kau ucapkan kepadaku.
Lalu menulisnya di buku yang baru saja kau ambil
dari dalam tas.
Beberapa menit diam, hanyut dalam kesendirian yang
kau buat.
Jari jemarimu tak berhenti, seperti kata-kata yang
muncul dalam kepalamu.
Angin masih kencang, menerbangkan rambutmu.
Aku masih diam, melihatmu lewat sudut mata sampai
kau berteriak pelan.

Benar-benar sore yang teduh untuk membuat puisi.
Lalu hujan Turun pelan-pelan.

“Bisa saja angin ini tentang rindu, ia kuat
menerpa wajahku.
Dan tubuh tak lagi kuat menampung
luapannya.
Hingga akhirnya aku tiba di garis akhir,
Tempat semuanya mereda.
Kopiku dingin, namun kau menghangatkanku
dengan tatapan yang beberapa waktu
terlewatkan.
Bisa saja sore ini memelukku lebih erat.
Dengamu saja, aku ingin selalu dekat.
Seperti ini saja.

-Puisi ini terdapat dalam buku Musim Semi Merah

(Musikalisasi Puisi) Hari Ini Terik

Hari Ini terik

“Mereka tak pernah tau bahwa bersamamu aku pernah lebih baik”

***

Hari Ini Terik

Hari ini terik… tapi bagiku mendung
Mendung yang meleburkan banyak molekul memori
Lalu hujan turun di hati
Haruskah kukubur rasa ini, padahal ia belum ingin mati?
Aku pun tak paham… mengapa aku terus menulis segala tentangmu pada tiap bait puisi
Padahal aku tau kau tak akan membacanya
Dulu.. mungkin aku ataupun kamu pernah sama sama berpikir tentang satu hal…
Aku dan kamu tau… kita adalah dua insan yang tepat tapi bertemu di waktu yang salah…
Sesaat setelah aku membuka kedua mataku dari tidur yang lelap.. taukah kau bermain dikepalaku segala cara untuk selalu bisa denganmu…
Satu debar ini takkan bisa aku jelaskan setiap kali melihat namamu dilayar ponselku…
Karena semenjak mengenalmu, hari hariku tak pernah sama lagi.. penuh rindu dan selalu butuh kamu..
Tapi sekarang… haruskah aku menyamar menjadi hujan, langit, dan udara, bahkan hadir dalam tiap mimpi malammu. Aku dekat, tapi tetap asing bagimu..
Kita pernah meninggalkan jejak pada jalan jalan kota yang kita lalui berdua, seolah kita yang punya dunia..
Jalan yang lurus dan panjang…
Hingga kita temukan ujungnya… kau belok ke kiri dan aku sebaliknya
Tanpa ucap pisah, tanpa peluk hangat, hanya punggung yang menjauh…
Mereka bilang… aku akan baik baik saja setelah perpisahan ini…
Tapi tentu mereka tak pernah tau bahwa bersamamu aku pernah lebih baik
Aku bingung, entah bagaimana aku menyelaraskan hukum semesta dengan ingatanku…
Kenapa setiap kali aku ingin melupakanmu… aku malah makin mengenangmu…
Karena sesungguhnya kamu masih menguasai satu per dua hatiku…
Karena hanya pada hatimu aku berhenti mencintai yang lain…
Mungkin hatimu mengatakan sesuatu ketika kau sedang membaca ini ;
“Jangan jatuh cinta padaku”
Mungkin hatiku juga akan berkata; “ Sudah terlambat”
Jadi kali ini… biarkan aku menyimpan memori tentangmu pada laci terbawah ingatanku…
Kemudian aku akan membuang kuncinya… sehingga bagaimanapun kuatnya rinduku… aku takkan bisa membukanya lagi…
Tapi… hingga saat ini… melihatmu… mendengar suaramu…namamu…tulisanmu… masih membuat ruang dadaku sesak…
Apa ini artinya kau masih menjadi segalanya untukku?
Dan yang lebih menyedihkan adalah.. aku baru menyadari bahwa selama ini aku bernyanyi untuk seseorang yang mencintai kesunyian…
Aku belum sembuh. Terhitung dari hari terakhir saat kita meyakinkan diri masing-masing akan mendapatkan pasangan terbaik…
Kau tak pernah kumiliki, tapi kenapa aku selalu merasa kehilangan?
Lagi-lagi aku harus paham bahwa seseorang yang kita genggam erat sekalipun, jika bukan jodoh.. kita harus belajar untuk melepaskannya pelan-pelan pada suatu ketika…
Suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali… pasti.. tapi dengan tatapan canggung dan hati yang mati rasa…
Kini kau menjelma menjadi rasa sakit yang kucintai terus menerus…
Dan sekarang aku memilih untuk mengingatmu saja… ketika ingin melupakan saja aku tak mampu…
Sebab sejauh apapun aku berjalan… kenangan tetap tidak berpindah, tepat dihati.

Kamu, Selamat berbahagia, selamat jatuh cinta lagi.

 

(Musikalisasi Puisi) Ingatkan Aku

a couple holding hands walking into the sunlight

“Aku ingin mengingatkan tentang ini.
Bagaimana aku mencintaimu dengan hebatnya,
bagaimana kau merindukanku begitu cepatnya,
bagaimana langkah kita pernah tertatih oleh hujan
yang deras dan berhasil melewatinya.”

***

Ingatkan Aku

Pernah aku berandai-andai tentang kehidupan 5 atau
7 tahun kedepan. Kita sedang merapikan perabotan di
rumah baru kita. Kau merapikan alat-alat dapur dan
aku sibuk mengangkat kotak-kotak ukuran besar
untuk dibawakan kepadamu. Lalu kita sedikit
berdebat mengenai tata letak.
Tatkala sore tiba, kita berbincang tentang berapa
bocah manis yang ingin engkau lahirkan. Dua,
jawabmu. Sembari menuang teh kedalam cangkirku
yang telah kosong. Kali ini kita sependapat, tak ada
perdebatan.
Aku ingin sempatkan bertanya padamu. Pernah kah
kau membayangkan hal yang demikian indah itu lagi?
Katakan padaku yang sesungguhnya tentang anganangan
yang ingin kau wujudkan bersamaku. Kapan
terakhir kita bicara perihal rasa? perihal masa depan?
Mungkin kita telah lupa.
Sebelum kita sama-sama memutuskan untuk berpisah
suatu saat. Aku ingin mengingatkan tentang ini.
Bagaimana aku mencintaimu dengan hebatnya,
bagaimana kau merindukanku begitu cepatnya,
bagaimana langkah kita pernah tertatih oleh hujan
yang deras dan berhasil melewatinya.
Aku menghela napas panjang, dan saat kita benarbenar
tak lagi bicara tentang keindahan di ujung
waktu. Saat kau berpikir telah menemukan kekasih
yang menjadi idamanmu selama ini, ingatkan bahwa
aku tak akan pernah menahanmu untuk pergi.
5 atau 7 tahun nanti akan tetap datang, meski tak
sama dengan keinginan.

(Musikalisasi Puisi) Aku Berharap, Aku Lebih Bisa Mencintaimu

Aku berharap, aku lebih bisa mencintaimu

“Harusnya aku lebih mampu untuk menepis lambaian tanganmu.
yang perlahan ragamu menjauh dalam kabut-kabut hujan.
Dan membuatku terjatuh, tanpamu.”

****

Aku Berharap Aku Lebih Bisa Mencintaimu.

Aku berharap bisa lebih kuat untuk mencintaimu.
Lebih dapat mampu menghalau badai yang datang,
yang membuatmu terjatuh, tanpaku.

Harusnya aku lebih mampu untuk menepis lambaian tanganmu.
yang perlahan ragamu menjauh dalam kabut-kabut hujan.
Dan membuatku terjatuh, tanpamu.

Sangat menyedihkan,
Ketika tulang-tulang yang telah rapuh, tak mampu membawaku berdiri.
Sangat menyedihkan.
Bahkan aku sendiri tak tahu bagian-bagian mana dari hidupku yang harus kurangkai kembali.

Sepertinya aku telah mati.
Dalam nyawa yang masih bernapas.
Dengan sisa-sisa kekalahan yang masih saja terlihat.

Aku berharap aku lebih bisa mencintaimu.

(Musikalisasi Puisi) – Awal Sebuah Akhir

Ada keheningan sesaat di akhir dialog-dialog kerinduan yang kita pertahankan di awal pertemuan.

Lalu tak kau ukir lagi senyum yang sejak awal telah terbentuk sempurna. Terbiasakan, terpudarkan tanpa rencana.

Kenapa kita biarkan kesedihan datang lebih cepat?

Karena setiap kesedihan yang kita pertemukan di sela kebahagiaan, tetap bermakna keresahan.

Mungkin itu tentang perpisahan yang nantinya tak akan terelakkan.

Mungkin saja, sebab kita tak pernah berbicara tentang akhirnya.

Tentang waktu yang akan membawa kita menjadi sendiri, lalu pulang membawa hati kita masing-masing.

Masihkah kita harus menyepi di pertemuan kita? atau memang sudah saatnya?

Saat kita sama-sama harus memunggungi waktu dan melangkah menjauh.

Saat bayangmu menghilang bersama aroma tubuhmu yang pernah menjadi candu.

dan tak akan ada mata yang akan saling bertemu.

Karena di sebelum awal kita, ada akhir yang telah tercipta.

dan ketika pintu kebersamaan kita telah tertutup, semua ingatan tentangmu selalu terbuka,

hingga dunia tak ada.

(dibacakan pada Malam Puisi Palembang ke-14, 20 Desember 2014)