Sajak yang Enggan Kau Tuliskan

Tak lagi engkau mengepak sayapmu

Enggan membelah desah-desah rindu tatkala aku telah jatuh di peluknya

Bahkan kau tak menangkapku, merelakanku terjatuh

Airmataku bernyanyi dengan lirik-lirik kosong

Memisahkan kesadaran dari embus napas

 

Aksara pun tak mampu deskripsikan

Betapa denyut nadi dalam dada menyentak hingga kepala

Menyempitkan seluruh saraf hingga meradang

Entahlah, tiada sedikit pun terka yang bisa kulemparkan

 

Tiada sedikit luka yang bisa kusembuhkan

Engkau telah lupa, tak juga menarikku dari liang tak bercahaya

Garis matamu yang dulu bersinar teduh

Kini tampak pudar ditelan kebencian

 

Pun sajakmu sudah enggan kautuliskan

Sajak yang dulu kau rangkai menjadi kita

Kini, semua lari ke negeri antah berantah

Tempat di mana kau dan amarahmu bersemayam

Tempat di mana kau lepaskan semua kenangan

 

Puisi Karya Karya Dyaz Afryan & Yanti Handia

Cinta untuk Lovaboration

Surat Ketujuh, 7 Februari 2014

Kepada para sahabat pecinta menulis kolaborasi. Sahabat-sahabat Lovaboration yang sangat aku cintai.

Hari ini spesial untuk kalian, sahabat-sahabat yang terpecah pada beberapa pulau di indonesia bahkan dunia. Aku tak tahu telah berapa lama aku mengenal kalian, mungkin sekitar 1 tahun yang lalu. Tapi rasanya aku telah mengenal kalian jauh lebih itu.

Menulis kolaborasi mengenalkan aku pada kalian. Sosok-sosok yang penuh dengan keistimewaan masing-masing. Masya dengan logat ambonnya, cicik ai dengan logat jawa manado, uni dan sany yang suaranya maut, ellya yang kecil bahan bully-an, Putra yang dewasa banget, mbak indah yang akan menikah, mas teguh yang super duper memberi ilmu, mas ijul, mbak wulan, mbak lia, Sarah, Eka, Neng Ayu, Mopi dan lain-lainnya yang enggak bisa disebutin satu-satu. Kalian adalah manusia-manusia yang luar biasa. Para wanita yang di berkahi sebuah kecantikan luar dan dalam. Para lelaki yang diberi kehebatan.

Kata Berdansa yang menyatukan kita hingga saat ini. Lovaboration yang menggenggam kita lebih dalam. Ada tawa, ada keusilan, ada kegaduhan, atau ada kesedihan. Itu biasa, yang luar biasa adalah kita yang sebelumnya tak saling mengenal, bisa terus bertahan hingga kini, dengan cerita-cerita yang tak akan pernah ada habisnya. Mulai dari yang katanya cinlok, suara aneh, nyanyi dan voicenote enggak jelas mengundang tawa, atau lelaki homo, atau yang terbaru adalah cabe gandengan dan masih banyak lagi.

Hai, kalian semua. Aku merindukan kalian semua. Jarak bukan masalah kan, Karena mungkin aku yang belum sama sekali bertemu kalian. 🙂

Indah mungkin saatnya nanti kita bisa berkumpul bersama dalam satu kesempatan dan menulis bersama lagi.

Hai Lovaboration, aku mencintai kalian, persahabatan kita.

 

Mengeja Rindu (Musikalisasi Puisi)

Mengeja Rindu

“Seharusnya tak perlu lagi kita aliri napas dengan kecurigaan atau membumbui pagi dengan kecemburuan”

Ingin kusimpan dirimu dalam tidurku yang sekejap
Sebab disanalah aku bisa merengkuh jemarimu
Tanpa perlu mengeja banyaknya angka yg menjadi jeda antara kedua pelipis kita.

Kau tahu, malam adalah waktu terbaikku untuk hanyut dalam pelukmu. Dalam mimpi yang tak terbatas, kita mampu merekatkan ribuan langkah yang terpisah.

Seharusnya tak perlu lagi kita aliri nafas dengan kecurigaan
Atau membumbui pagi dengan kecemburuan
Karena jarak tak perlu kita salahkan
Tak ada yang salah dengan ribuan kilometer itu.

Mari pertanyakan jarak antara hati kita
Jika hati menjauh, maka hari tak akan lagi jadi hari
Kelam akan semakin pekat
Lantas kecemasan semakin menjadi-jadi diudara
Rindu-rindu kemudian terbang tanpa arah, menjadikan napas-napas kering berbuah ragu.

Pada akhirnya
Dalam mata yang lelah aku ingin kau mampu untuk menggenggam jari-jari yang ingin mati
Menyembuhkan luka-luka yang tak terucapkan
Lalu mendekapku erat hingga matahari berubah hitam
dan menghilang dalam senyum yang telah abadi.

Puisi Kolaborasi Dyaz Afryan dan Masya Ruhulessin.

_dyazafryan_

Mengeja Rindu

Ingin kusimpan dirimu dalam tidurku yang sekejap
Sebab disanalah aku bisa merengkuh jemarimu
Tanpa perlu mengeja banyaknya angka yg menjadi jeda antara kedua pelipis kita.

Kau tahu, malam ada waktu terbaikku untuk hanyut dalam pelukmu. Dalam mimpi yang tak terbatas, kita mampu merekatkan ribuan langkah yang terpisah.

Seharusnya tak perlu lagi kita aliri nafas dengan kecurigaan
Atau membumbui pagi dengan kecemburuan
Karena jarak tak perlu kita salahkan
Tak ada yang salah dengan ribuan kilometer itu.

Mari pertanyakan jarak antara hati kita
Jika hati menjauh, maka hari tak akan lagi jadi hari
Kelam akan semakin pekat
Lantas kecemasan semakin menjadi-jadi diudara
Rindu-rindu kemudian terbang tanpa arah, menjadikan napas-napas kering berbuah ragu.

Pada akhirnya
Dalam mata yang lelah aku ingin kau mampu untuk menggenggam jari-jari yang ingin mati
Menyembuhkan luka-luka yang tak terucapkan
Lalu mendekapku erat hingga matahari berubah hitam
dan menghilang dalam senyum yang telah abadi.

Puisi Kolaborasi Dyaz Afryan dan Masya Ruhulessin.

Welcome Again

Welcome again..

Semesta Rasa

 

lagi-lagi Words of poetica (@Wordsofpoetica) mengeluarkan buku baru, dan kini berjudul SEMESTA RASA. Semesta Rasa lahir dari sebuah giveaway yang diadakan juga oleh Words of Poetica dan juga Lovaboration (@lovaboration). Sebuah giveaway yang menghadiakan buku KATA BERDANSA.

Sama seperti KATA BERDANSA, SEMESTA RASA adalah kumpulan cerpen-cerpen kolaborasi yang tergabung dari beberapa penulis luar biasa didalamnya (Hehe, saya juga termasuk didalamnya tapi belum luar biasa). Kumpulan cerpen (terdiri dari 16 cerpen) dengan tema Canda, Tawa dan Cinta ini memiliki cerita yang unik, menarik dan menginspirasi. Banyak kejutan-kejutan didalamnya. Banyak rasa yang bisa kita lihat dalam buku ini. Ada sedih, senang. Ada tangis dan juga bahagia. Semua rasa itu bercampur jadi satu dalam buku SEMESTA RASA. Kalian nggak akan nyesel kalo udah baca buku ini. 😀

So, tunggu apa lagi. Kalian bisa pesan buku ini lewat media online nulisbuku(dot)com dengan klik disini.

Atau kalian yang belum sempat membaca Kata Berdansa dapat juga pesan disini untuk Kata berdansa Part 1 dan klik disini untuk Kata Berdansa Part 2.

Kata Berdansa

Jelajahi setiap kalimat-kalimatnya. Penuhi hatimu dengan cinta kala membacanya dan kalian akan mendapatkan sebuah keindahan dibalik cerita-ceritanya :D.

Enjoy reading 😀

_dyazafryan_

 

Kejutan Dari Rena

Rena membetulkan letak kerah seragamnya. Ada sesuatu yang menggangu pikirannya beberapa hari belakangan. Bayangan wajah seorang gadis kecil tak mau beranjak pergi dari pikirannya. Gadis kecil itu sedang  meringkuk di depan emperan toko dekat sekolah Rena saat ia melihatnya.  Dengan bibir yang menggigil gadis itu masih berusaha melempar senyum. Entah mengapa rasa bersalah menyerangnya karena  tak sempat membalas senyum gadis tersebut.

“Pagi sayang! Siap berangkat?” suara bunda membuyarkan lamunan Rena.

“Siap bunda. Rena pergi dulu.” Rena bergegas keluar setelah mencium pipi ibunya.

“Hari ini aku harus menemui anak itu lagi” gunggam Rena

Rena melesat masuk ke kursi belakang mobil. Pak Joko, supir pribadi keluarga telah siap membawa Rena menuju sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah, mobil Rena melewati emperan tempat gadis kecil itu berada. Namun pagi ini Rena tak melihatnya. Ia memanyunkan bibir tanda kecewa.

***

Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. Tanpa menghiraukan teman-temannya, Rena beranjak keluar kelas dan langsung menuju parkiran sekolah. Disana terlihat pak Joko yang hendak menjemput Rena.

“Pak Jo, pulangnya lewat jalan tadi ya.” Dengan manis Rena meminta pada pak Joko.

“Siap Non.” Tanpa banyak bertanya, pak Joko mengiyakan permintaan Rena.

“Pak Jo, didepan toko kain itu bisa berhenti sebentar?”

“Emangnya Non mau kemana? Mau belanja? Kenapa perginya gak sama ibu aja Non?

“Psssst!” Rena menempelkan telunjuk dibibirnya. ” Rena ingin bertemu dengan seseorang pak Jo.”

“Baik Non, bapak tunggu disini ya.” Ujar pak Jo seraya mengatur posisi parkirnya.

Rena setengah berlari menghampiri gadis kecil yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Gadis itu sedang memeluk lututnya sambil bersiul rendah.

“Hai, masih ingat aku” ujar Rena sambil tersenyum.

“Ka-kamu siapa?” Gadis itu membalas dengan suara gemetar.

“Aku Rena. Siapa namamu?”

“Ana.”

Gadis kecil itu menjawab singkat pertanyaan Rena. Ia kemudian duduk, meletakkan sebuah kantong besar yang didekapnya lalu dikuti Rena.

“Kamu ngapain kok bawa-bawa kantong kayak itu?”

“Aku nyari barang-barang bekas.”

“Buat apa?”

“Buat dapet uang. Buat makan.” Jawab Ana singkat.

“Kamu nggak sekolah?” Rena bertanya kembali.

“Nyari uang buat makan aja susah, apalagi buat sekolah.” Ana kemudian bangkit kembali dan mengangkat kantong besarnya. Rena pun mengikuti.

“Kamu tunggu sebentar ya disini.” Rena kemudian berlari kecil mendekati pak Joko di tempat parkir.

“Pak Jo, Pak Jo punya uang Rp. 50.000?” Tanya Rena.

“Ada Non, buat apa?”

“Rena boleh pinjem nggak, nanti dirumah, Rena ganti ya uangnya.”

Pak Joko yang masih kebingungan hanya merohoh kantung kemejanya. Ia mengeluarkan satu lembar uang Rp. 50.000 dan memberikannya pada Rena.

“Makasih pak Joko.”

Rena kemudian berlari menghampiri Ana yang telah berjalan menjauh.

“Anaaaa!!!”

Ana berhenti seketika. Rena kemudian menarik tangan Ana lalu menyelipkan uang didalam genggamannya.

“Nanti kita ngobrol lagi ya ana. Besok pasti aku kembali.”

Rena tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Ana yang masih berdiri terdiam melihat apa yang ada ditanganya. Secercah senyum kemudian mekar indah menghiasi wajah Ana.

***

Rena masih berkutat dengan buku IPA sedari sore. Mengingat nama-nama ilmiah beberapa jenis hewan bukanlah hal mudah baginya.

“Ren, bunda boleh bicara sebentar?”

“Ada apa bunda?”

“Kenapa sudah tiga minggu ini Rena selalu pulang terlambat dari sekolah? Biasanya kan pulang jam satu Ren.”

“Rena mengunjungi teman bunda.”

“Kata pak Jo, Rena sering singgah di toko kain untuk menjumpai orang asing. Apakah itu betul sayang?”

“Orang asing? Rena bertemu Ana bunda. Dia teman Rena.”

“Tidak baik kalau Rena berteman dengan dia. Apalagi sampai memberikan dia uang.”

“Mengapa tidak baik bunda? Dia tidak punya uang untuk makan. Masa Rena biarin aja dia kelaparan? Dia jarang makan bunda. “

“Dia itu seorang gelandangan, kotor penuh kuman. Bisa saja itu akal-akalannya dia untuk menipu atau bahkan mencelakaimu sayang!”

“Mencelakai? Ana bahkan berusia lebih muda dari Rena, bunda. Mana mungkin berpikir seperti itu?

“Dunia luar itu kejam sayang. Pokoknya bunda tak mau tahu, mulai besok begitu pulang sekolah harus langsung pulang kerumah. Titik!”

Rena hanya mengganggkuk pelan. Dibiarkannya air mata mengalir dipipinya saat ibunya berlalu. Ia tak ingin lagi berkutat dengan buku IPAnya. Nama-nama latin yang berseliweran dikepalanya kini diganti dengan wajah Ana. Ia begitu khawatir pada teman kecilnya itu.

***

Sudah seminggu Rena memang tak menemui Ana. Ia  menuruti apa yang dipinta oleh bundanya. Namun kegelisahan tak mampu dikendalikannya. Rena tak dapat berhenti memikirkan teman keculnya yang sangat memerlukan pertolongan. Pak Joko pun tak ingin lagi menuruti permintaan Rena untuk menemui Ana. Supirnya itu tak ingin membuat bunda marah jika dia menuruti permintaan Rena.

Hari ini Rena yang ingin sekali bertemu Ana. Tanpa sepengetahuan pak Joko, Rena memutuskan untuk pulang sendiri agar dapat mengunjungi Ana. Ia sengaja mengambil jalan pintas agar pak Joko tak melihatnya.  Rena menyadari bahwa perbuatannya mungkin akan membawa masalah baginya. Bundanya pasti akan marah. Pak Joko pasti akan kebingungan mencarinya. Sesampainya di depan toko, Rena tak melihat sosok Ana. 10 menit berselang Ana kemudian muncul dengan membawa kantong besar yang berisi kaleng-kaleng. Ana tampak menyeret kantong yang berat tersebut.

“Hai Rena. Apa kabar? Sudah beberapa hari ini aku tak melihatmu. Kamu sedang banyak kegiatan disekolah ya? “

Rena menggeleng.

“Lantas baru pulang berlibur dari mana?”

“Bunda melarangku menemuimu.”

“Oh.” Ana hanya menjawab singkat. Terlihat kesedihan terpancar disudut matanya.

“Kamu masih mau sekolah lagi Ana?”

“Ya, tentu saja. Namun kamu tahukan masalahnya masih tetap sama Ren.”

“Kalau kamu mau, aku bisa membantumu bersekolah lagi.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku sudah bicara dengan kepala sekolah. Dia mau kok memberikan beasiswa padamu asal kamu mau belajar giat.”

“Serius?” Ana memandang Rena tak percaya.

“Iya. Besok kamu tunggu disini ya. Kepala sekolah mau menemuimu.”

“Terima kasih banyak Rena. Terimakasih.”

Airmata menggenangi sudut mata Ana. Rena tersenyum. Diraihnya sahabatnya kedalam pelukannya.

“Rena, apa-apaan kamu?” Tiba-tiba suara bundanya menganggetkan Rena dan juga Ana. ” Bunda kan sudah ingetin kamu jangan kesini lagi.”

“Tapi bun, Ana itu sahabat Rena. Rena cuma mau bantu dia buat sekolah lagi.” Rena mulai menangis.

” Bunda kan yang bilang kalo sekolah itu penting. Ana nggak bisa sekolah bun, Ana gak punya cukup uang seperti kita Bunda.”

Bunda terhanyut melihat airmata Rena. Bagaimanapun ketidaksukaannya terhadap perbuatan Rena, melihat sang putri menangis seperti itu membuat hatinya bergejolak.

“Jangan menangis lagi sayang, Bunda gak tahan melihat Rena begitu. Bunda hanya ingin selalu membahagiakan Rena.”

“Bunda ingin lihat Rena senang kan?” Sang Bunda mengangguk pelan.

“Rena senang bisa bantu Ana buat sekolah lagi Bunda.”

“Rena bantu Ana sekolah lagi?” Tanya bunda keheranan.

“Rena udah bilang sama kepala sekolah tentang Ana,dan kepala sekolah mau memberi beasiswa penuh sama Ana. Untuk tempat tinggal baru akan segera dirapatkan katanya.”

Bunda tak menyangka putrinya yang masih kecil itu bisa punya sisi kebaikan yang dalam bahkan diluar dugaanya. Matanya tergenang air kemudia sekejap memeluk Rena bahkan tak segan-segan memeluk Ana.

“Terimakasih ya sudah mengingatkan bunda lagi. Bahwa kebaikan seharusnya dilakukan tanpa pandang bulu, pada siapa dan untuk apa tujuan akhirnya. Ayo kita temui kepala sekolah sekarang saja, sepertinya dia masih di sekolah. Soal tempat tinggal bisa ibu usahakan.”

Rena mengedipkan mata untuk ibunya. Ia begitu gembira, sahabatnya Ana akhirnya bisa bersekolah lagi.

 

Tulisan Kolaborasi dengan Masya Ruhulessin untuk #14DaysofInspirations #IWritetoInspire   Tema : Kebaikan