Malam Puisi Palembang ke-3 #LoveToRemember

Hai para penyair dan pujangga, Para penikmat puisi dimanapun kalian berada.

Akhirnya Malam Puisi Palembang kembali dilaksanakan dan ini yang ketiga. Sebelumnya maaf karena Malam Puisi Palembang yang kedua kemarin enggak sempet di posting. Hihihi, jadi langsung lompat ke Malam Puisi yang ketiga.

Ini adalah kali ketiga Malam Puisi di kota Palembang. Dilaksanakan tanggal 16 November 2013, bertepatan di malam minggu. Tema dari Malam Puisi Palembang ke 3 adalah Lovember alias Love to Remember atau dengan bahasa sederhananya adalah mengenang sebuah cinta. Kenangan dan masa lalu pasti punya banyak cerita, ada sedih-senang-tawa-tangis dan sebagainya dan pastinya masa lalu itu sungguh luar biasa. Maka dari itu Malam Puisi ketiga bertemakan tentang Kenangan. Semua puisi pun harus menceritakan tentang kenangan.

E-Flyer #LovetoRemember

E-Flyer #LovetoRemember (by Sabrina)

Seperti Biasanya, Acara dimulai dari pukul 19:30. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh semua orang yang hadir. Lalu disambung dengan penampilan music akustik dari para penggerak MalamPuisi Palembang dan disambung oleh pembacaan cerpen Seno Gumira oleh Putra Zaman.

Akustik

Musik Akustik Oleh Kak Arco, Kak Ridho dan Kak Boy

Putrazaman

Putra Membacakan cerpen dari Seno Gumira

Meskipun Acara Malam Puisi Palembang diguyur hujan, namun tak mengurangi antusias para pengunjung untuk datang dan membacakan puisi mereka. Mereka dengan setia menikmati puisi-puisi yang dibacakan oleh orang-orang yang hadir. Hujan menambah suasana kenangan semakin terasa.

Para penikmat puisi yang hadir

Para penikmat puisi yang hadir

Penampilan special pada Malam Puisi Palembang ketiga adalah penampilan dari Zhaky. Anak kecil berumur 8 tahun yang berani membacakan Puisi tentang Ibu yang berjudul “Bidadari Serba Bisa”. Sebuah Puisi yang luar biasa. 😀

Zaky

Zhaky dan Mbak Shanaz

Acara Malam Puisi Palembang yang ketiga ini juga diliput oleh Stasiun TV Lokal dan telah di siarkan. 😀 . Sebuah kemajuan bahwa Malam Puisi Palembang telah diketahui oleh banyak orang. Kalian juga bisa melihat tayangannya di sini <–.

Oh ya, ternyata pada pelaksanaan Malam Puisi Palembang yang ketiga, ada yang merayakan ulang tahun. Yaitu mbak Rani dan juga mbak Shanaz. Semoga kejutan-kejutan yang diberikan di Malam Puisi ini menjadi sebuah kenangan indah buat mereka. Ucapannya semoga harapan-harapan mereka dapat tercapai dan menjadi lebih baik lagi. Amiiinnnn..

Malam Puisi akhirnya selasi lebih kurang pada pukul 22:00 lebih, ditutup dengan foto bersama. Sekali lagi, Malam Puisi Palembang sangat banyak mengucapkan terima kasih kepada para penggerak yang telah melakukan tugas dengan baik, kepada semua Kru dari Beranda 2b cafe atas kerja samanya dan bantuannya. Serta kepada para penikmat puisi yang telah hadir dalam Malam Puisi Palembang ini. Tanpa semuanya, acara ini tak akan terlaksana dengan baik. Semoga acara Malam Puisi selanjutnya akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Aminn.. Hidup Malam Puisi. Hidup Malam Puisi Palembang. Datang, Dengar dan Bacakan Puisimu.

Kalian dapat Lihat beberapa videonya di sini <–.

Galeri foto-foto

_dyazafryan_

Rindu dalam asa

Hitam yang aku suka. Manis yang terselip dikala aku menyeruput pelan kopi hitam kesukaanku. Setiap waktu,setiap saat pagi menampakan senyum hangatnya, membelai lembut kulitku dengan sinarnya yang belum terlalu menusuk. Dibalkon kamarku, masih dapat kunikmati setiap teguknya seraya menikmati ciptaan terindah sang pencipta, Dunia.

“Rangga..” Aku mengalihkan pandanganku dari indahnya langit biru menuju sumber suara, tepatnya di bawah, dipagar rumah. “Kenapa ma?” Sautku dari balkon kamarku dengan suara sedikit lantang. Aku menyeruput kopiku kembali. “Kamu nggak kerja?” Tanya mama. “Nggak ma,aku cuti kerja 1 minggu, mau istirahat.” Jawabku dan memutarkan tubuhku kesudut dimana mama berada. Aku melihat mama menutup pagar rumah dan berada pada sisi luarnya. “Yawdah,kamu jaga rumah bentar ya, mama mau kerumah tante Risa bentar,ada urusan.” Mama melambaikan tangannya dan berbalik memunggungiku, berjalan dengan langkah santai meninggalkan rumah. Tak sempat ku ucapkan hati-hati, mama sudah tak terlihat. tegukan kopi terakhir sebelum aku berlalu dari balkon kamarku.

Aroma kopi yang kini menyebar seantero ruangan seakan membawaku melayang. Memberi sensasi yang hanya aku yang mengerti. aku kini menikmati kopi, bahkan saat aku tersiksa karenanya. Aku kini menyukai kopi karena kau begitu menyukai rasa kopi. Aku ingin mengenangmu,mengenang cintamu meskipun menyakitkan. Aroma kopi membuatku membayangkan senyum menawanmu,aroma kopi membawaku kepada cinta yang ingin ku rengkuh. Saat aku mencecap aku merasakan sensasi manis,pahit yang lekat. Setiap tegukan yang mengalir melewati rongga lidahku seakan mengingatkan perjalanan cintaku. Cinta yang menyakitkan. Seperti cintaku padamu. Aku menikmati saat rasa pahit,pahit yang tetap bertahan di saat manis mengambil alih. Ah, aku menyukai kopi,karena kopi membuatku menyadari. Cintamu tidaklah nyata.

Menyendiri tak sepenuhnya lepas dari sebuah aroma masa lalu. Bahkan dia mendekat lebih cepat padaku. Raut wajahmu terbentuk dalam sela aku terdiam. Membuka ruang kebencian,kesakitan, dan keindahan.
Hahaha, aku tertawa. Entah apa yang aku tertawakan. Aku seperti orang gila dengan 3 cangkir kopi yang telah kuhabiskan. Hanya ampasnya yang kusisakan untuk dibuang. Dan kenangan itu seperti ampas. Namun tak bisa aku membuangnya.

Saat kenangan itu kembali , aku hanya bisa berharap. Aku dalam tidur. Hingga saat aku terbangun semuanya hilang tak berbekas. Namun relakah aku?

Jika seteguk saja telah membawaku pada segala rasa. 3 cangkir kopi seolah ingin menyadarkanku. Aku seperti terperosok dalam jurang asa.
Sepertinya aku hanya bisa menjadi malammu. Tak kan pernah mungkin menjadi siang.
Seperti pahitnya kopi tak mungkin bersatu dengan manisnya teh.
Namun tak selamanya malam itu gelapkan?
Ada bintang meski hanya memberi keindahan. Ada rembulan yang menyinari meski dengan redup. Kopi tak selamanya pahit dan teh tak selamanya manis.

Namun kopi pahit akan menyadarkanku bahwa selalu menyakitkan mengenangmu. Namun apapun yang aku rasakan kini,aku tetap kembali meneguk rasa pahit.
kenangan yang selalu menghantuiku saat aku merindukan kehadiranmu.
Tak bisa lepas karena aku yang tak ingin melepaskan. Kenangan yang tak bisa aku buang, karena aku terlalu sakit kehilangan.

Aku ingin memiliki harapan itu. Harapan akan kembalinya cintaku yang telah hilang. Aku terhuyung, tak perlu bergelas-gelas minuman beralkohol untuk membuatku mabuk. aku melangkah dan tak hentinya bibir ini menghamburkan tawa. Aku ingin berteriak membencimu. Ingin menjerit dengan suara yang melengking. Aku ingin mengatakan,aku membencimu karena membuatku seperti ini.
arrrrh kenapa harus aku yang tersiksa akan segala yang berkaitan akan dirimu? Hah.Tapi aku tidak bisa.

 

***

Tok.tok

Pintu kamarku diketuk,seraya suara orang yang kucintai satu-satunya memanggilku.
Aku berjalan dan membuka pintu kamarku perlahan.
“Kenapa ma?” Tanyaku.
“Makan udah siap dibawah,kamu makan sana gih,dari tadi nggak keluar kamar.”
“Iah ma,nanti aku kebawah ya.”
Mama beranjak turun meninggalkan kamarku dan aku kembali menyendiri.

Terkadang untuk makanpun aku tak punya waktu. Waktu dan pikiranku hanya tertuju pada wanita itu. Wanita yang kini mungkin telah menemukan kebahagiaan baru. Menikmati kopi hitam manisnya sendiri atau mungkin dengan seseorang yang baru. Sedangkan aku disni,terjebak dalam cinta yang ingin aku hadirkan lagi meski aku tau tak mungkin. Ketika aku mencoba membencimu,aku teringat akan baikmu. Ketika aku ingin mencintaimu lagi, kebenciaan dan kesakitan itu menyergap menghalangi.

Aku menangis, akhirnya aku bisa menumapahkan airmata yang telah terpendam. Mengantikan tawa semu yang akhirnya kalah. Aku tak lemah,mungkin aku hanya telah lama berjuang dan seperti gagal. Tetes-tetes airmata jatuh kedalam kopi hitam yang ku genggam. Aku tertunduk, terisak, kopi hitamku kini terluka. Cinta harusnya tak menyakiti,tapi nyatanya cinta selalu berakhir menyakitkan. Cinta harusnya tak membuat luka,tapi aku terluka. Apa kehadiranku hanya untuk kau sakiti?

Cinta yang harus aku pertahankan bahkan tak mampu aku genggam.
Aku merasa bodoh karena telah buta akan cinta. Bahkan aku terlalu bodoh dengan menyiksa diri. Apakah ini namanya cinta. Harus kemana aku pergi? Harus kemana aku aku mencarimu? Diantara debu yang berterbangan. Ah aku ingin membenci cinta ini karena telah membuatku tak berdaya.
Jangan sembunyi dariku. Jangan tinggalkan aku saat aku ingin mendepmu erat. Erat..sangat erat. Ketika aku ingin menggeggammu erat,kau tancapkan duri tajam yang membuatku terluka. Lagi-lagi aku tak mampu meraihmu kembali. Lagi – lagi kau melangkah jauh ketika aku mendekat.

Aku menyadari semua telah hilang ketika aku tau cintamu memang tak lagi ada untukku. Kau menggenggam sebuah cinta baru yang lebih indah,menurutku, dan yang aku lihat. Kau memperlihatkan tawa, canda dan bahagia yang semestinya untuk kita,aku dan kamu. Tapi semua berbeda,itu semua bukan untukku.

Kopi hitamku kini tak semanis cerita cinta kalian. Ada rasa pahit yang terselip didalamnya,aku menyebutnya kesakitan. kesakitan atas cinta yang terkhianati.

Memang mudah menyalahkanmu atas sakitku. Sungguh aku hanya ingin kau tau,semua sakitku adalah kamu.
tapi kini aku menyerah. Menyerah tak ingin berlari lagi, aku menyerah tak ingin mengenangmu. Setahun waktu yang aku berikan untuk hatiku sebelum aku menghapus segala kenangan akan hadirmu. Aku lelah selalu terjebak dalam cintamu. Meskipun aku akan merindukan belaian tanganmu. Meskipun aku akan merindukan dekapanmu. Namun segala nyata harus aku raih.
Kopi yang pahit akan selalu pahit. Namun aku tak harus mencecap bukan?

 

***
Pagi kembali hadir menerangi dunia yang sebelumnya gelap oleh malam. Memberi keajaiban dikala mentari tersenyum dengan lebarnya. Tanganku menggenggam secangkir kopi hitam. Kopi hitam yg kini berisi cinta yang baru.

Ya,ini hanya akhir cintaku untuknya, dan awal cinta yang baru untuk seseorang yang baru. Aku tersenyum. Kali ini aku benar-benar tersenyum dengan arti bahagia.  Aku langkahkan kaki ku keluar kamar. menuruni setiap anak tangga. Mama sedang asyik mengobrol dengan tante Risa yang datang bersama seorang wanita.

“Rangga”. Pangil mama ketika aku telah mencapai anak tangga terakhir. Aku mendekati mereka.

“Rangga kenalin nih,keponakan tante baru pindah kesini.” Tante memperkenalkan.

Aku ulurkan tanganku. “Rangga” kataku.

“Rindu” ucapnya.  Kami berjabat tangan. Senyum manis diperlihatkan wanita berlesung pipit dengan rambut sebahu itu,dan aku membalas senyumnya.

“Rangga kedepan dulu tante, mau jalan-jalan bentar keliling komplek,” ucapku yang kemudian berjalan menuju pintu keluar. Mama memanggilku ketika aku melangkahkan kaki keluar. “Rangga,sekalian nih ajak rindu keliling juga ya.”
aku tersenyum dan berkata dengan santainya.

“Ayo”.

 

Tulisan kolaborasi dyaz afryanto (@dyazafryan) dan Aini W.K (@baelovesee) untuk #ALoveGiveAway