Experiences :D

Ah… udah lama enggak nulis sesuatu yang lebih berarti (selama ini kayak biasa aja, hehe). Selain enggak punya ide, alasan enggak posting tulisan di blog karena engga tau mau nulis apa (itu mah sama aja kali, :D)

*lalu enggak ada yang mau lanjut baca*

kali ini mau sharing pengalamana dalam motret memotret, ide ini adalah masukan dari Mas Ryan saat mengomentari postingan Food Photography, dan beliau menginginkan saya untuk sharing pengalaman saat memotret produk makanan yang pernah saya lakukan. Kedengarannya menarik, dan mulailah saya menulis.

Memotret makanan itu adalah sesuatu hal yang unik, objek yang menggiurkan dan membuat kita lapar. Hehehe. Bisa di hitung dengan jari sih, selama ini baru 4 kali punya job food photography. Pengalamannya asik banget, enggak perlu banyak ngomong buat ngatur pose-pose (ya iyalah, di sangka gila kalo gitu). Nasib buruk saat motret makanan adalah 3 dari 4 kali job itu adalah ketika bulan puasa. YAP, BULAN PUASA!! dan harus punya kesabaran penuh dalam menahan godaan, bro sist!! Terakhir adalah Bulan puasa kemarin dan saya harus memotret 55 menu makanan dan minuman dengan kesabaran ekstra. Hahaha..

20150630_104717_HDR

IMG_1740

SONY DSC

Yang namanya job, keuntungannya adalah ada hasil yang memuaskan. Ada tambahan pengalaman, keuangan, kenalan, dan perut kenyang tanpa dompet terkuras ( yang terkahir itu kalo enggak puasa ya..). Motret makanan itu punya keasikan sendiri. Bagi saya, punya keinginan buat berpikir bagaimana biar makanan itu terlihat lezat, seperti motret-motret yang lainnya bagaimana agar terlihat kurus atau yang lain, tapi food photography punya sisi seninya sendiri.

Tak hanya food photography, semua juga punya sisi bahagia dan sedih dalam motret. Foto keluarga yang bersahabat, yang ngeselin, anak kecil yang rewel, yang nurut, yang enggak mau ditinggal mamanya, pasangan yang cerewet, pasangan yang kocak.  Customer yang mati-matian mau murah dengan kualitas bagus dan cepat, dan yang punya royalitas terbaik. Tempat yang sulit di gapai, cuaca yang tak mendukung, atau orang-orang yang tak bersahabat saat motret alam dan Human interest. Semuanya bikin seneng, bikin gondok kadang. But, When you enjoy your job well, it is not be a problem. it is a balance and always happen in life.

Selama kita bisa berekspresi dalam bekerja, dan menuangkan semua ide-ide, semuanya baik-baik saja. 😀

Bagaimana dengan kalian, punya pengalaman dalam motret sesuatu?

Food Photography

Tak bisa di pungkiri jika fotografi telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang, dari yang menjadikannya hobi, ataupun profesi. Lalu yang telah menjadi kebiasaan di hidup masyrakat sekarang adalah memfoto makanan mereka sebelum memakannya, untuk di upload ke sosial media ataupun sekedar mengisi galery. Yah, food photography adalah salah satu jenis dari sekian banyak jenis fotografi.

Minggu lalu saya berkesempatan lagi untuk membuat foto makanan salah satu sebuah cafe baru di Palembang dan harus memotret sekitar 55 makanan. Di postingan kali ini saya sekedar ingin sharing tentang food photography yang saya ketahui, karena jika disadari memotret sebuah makanan atau minuman untuk terlihat menarik dan menggoda itu sangat susah dan terkadang butuh beberapa persiapan pastinya. Apa saja sih yang harus kita perhatikan dalam food photography.

Pertama, kita harus mengenali kamera kita sendiri, bagaimana dia bekerja. Dalam hal ini adalah seperti speed dalam kamera, diafragma, Iso dan sebagainya. Jika kita memakai kamera pro atau Dslr itu akan menjadi hal yang kita perhatikan. Begitu juga jika kita menggunakan kamera pocket ataupun ponsel. Apapun kameranya kita harus menguasainya.

Kedua, Penataan objek. Objek yang tertata dengan rapi dan menarik akan menambah kesan wah pada foto makanan kita. Kita dapat menambah properti yang dapat mendukung sebuah makanan. Seperti sendok, garpu atau sumpit. Lalu sebuah minuman, food condiment, atau sebuah vas bunga kecil. Jika kita mengalami kesulitan, kita dapat menggunakan jasa food stylist untuk membantu.

Ketiga, Pencahayaan. Ini sangat penting untuk menjadikan foto makanan kita jadi baik. Kita dapat menggunakan bantuan cahaya (Artificial Light) seperti Flash dan asesorisnya seperti softbox untuk mendapatkan cahaya terbaik. Atau kita dapat menggunakan cahaya alami (Available Light) seperti cahaya matahari. Untuk perhatian, hindari cahaya yang langsung dari matahari, carilah pencahayaan yang teduh untuk memfoto makanan kita. Untuk teknik pencahayaan, kita dapat mempelajarinya lebih lanjut dari web-web fotografi atau video tutorial basic food lighting.

Keempat, Komposisi. Hal ini adalah yang mendukung foto makanan kita. Sebenarnya kita bisa mencoba berbagai komposisi untuk menemukan foto terbaik kita, namun ada beberapa komposisi yang telah menjadi patokan, seperti rule of third, dead center, diagonal ataupun elips. Kita juga bisa melakukan zooming atau juga cropping dalam foto kita.

Rules of Third

Rules of Third

Dead Center

Dead Center

Diagonal

Diagonal

Elips

Elips

Cobalah untuk berimprovisasi dengan menemukan sudut-sudut baru dan menurutmu pas. Semakin banyak komposisi semakin banyak pilihan.

Kelima, Post-processing. Ini hanya sebagai tambahan, dilakukan atau tidak, enggak apa-apa. Post-processing adalah tahap setelah semua foto telah masuk kedalam ranah editing seperti photoshop untuk sedikit perbaikan. Mungkin warna, contrast atau cropping.

**

Mungkin itu adalah sedikit tips dari saya yang enggak seberapa. kalian bisa mencobanya dirumah dengan objek yang bisa kalian peroleh sendiri. Hehehe.. tertarik untuk mencoba?

All photo captured by dyazafryan and andre aka WhitePaper Photography