[Musikalisasi Puisi] Tak Lelahkah Kau dengan Ini?

a couple holding hands walking into the sunlight

“Aku tetap mencintamu seperti pertama kali aku memintamu.”

****

Tak Lelahkah Kau Dengan Ini?

Sepasang mataku risau
dan sementara 10 jari tanganku sudah lelah bersengketa denganmu, letih dengan segala emosi.
kenapa kita sering biarkan debat yang tak perlu itu terjadi,
atau kenapa tak kita biarkan saja tawa-tawa itu menggelitik kita sampai mati.

Akhir-akhir ini, sering kutemukan rambutku rontok karena sakit kepala.
namun, kau tahu tak pernah kubiarkan rindu ini habis karena amarah.
dan lalu kita izinkan sepi merayapi satu malam ini, malam ini saja.
dan melupakan semua tentang siapa yang paling bersalah, siapa yang harus mengalah.
tentang apa yang kau benci dan apa-apa saja yang aku tak sukai.
aku pikir, ini tak akan pernah ada habisnya.
dan sementara itu kita telah menghabiskan banyak waktu sia-sia, tanpa bahagia.

tak lelahkah kau dengan ini?
bisik-bisik yang mengusik telingamu.tanpa kau tahu bagaimana hari hari kita masing-masing.
dimana kita?
sedang apa kita?
terbiasakah kau dengan ini?

dimanapun kau saat ini, usir jauh tentang apa yang akan berubah. karena tak ada.
aku tetap mencintamu seperti pertama kali aku memintamu.

[Puisi] Eunoia

Suatu malam kutemukan airmata di tengah selimut yang membungkus tubuh mereka.

Akhir-akhir ini hidup membuat mereka merasa lebih lelah.

Dan isi kepalaku lebih ramai dari biasanya.

Tentang kamu, tentang orang tua yang ingin selalu kujaga bahagianya. Tentang segala kebaikan hingga kalimat “Semua akan baik-baik saja” itu akan benar baik-baik saja.

Doaku akan lebih panjang. Kurasa Tuhan tak akan mempermasalahkan. Bahkan ia sudah lebih dulu tahu sebelum sempat aku ucapkan.

Sepanjang kata ini menuntunku hingga subuh, hingga dingin senantiasa memelukku dalam-dalam. Sebelum lampu kamarku padam, aku masih kuat untuk mereka yang menangis lebih dulu dariku.

 

Palembang,27 Februari 2016

dan untuk segala hal yang kuinginkan tetap baik-baik saja.

(Musikalisasi Puisi) Hari Ini Terik

Hari Ini terik

“Mereka tak pernah tau bahwa bersamamu aku pernah lebih baik”

***

Hari Ini Terik

Hari ini terik… tapi bagiku mendung
Mendung yang meleburkan banyak molekul memori
Lalu hujan turun di hati
Haruskah kukubur rasa ini, padahal ia belum ingin mati?
Aku pun tak paham… mengapa aku terus menulis segala tentangmu pada tiap bait puisi
Padahal aku tau kau tak akan membacanya
Dulu.. mungkin aku ataupun kamu pernah sama sama berpikir tentang satu hal…
Aku dan kamu tau… kita adalah dua insan yang tepat tapi bertemu di waktu yang salah…
Sesaat setelah aku membuka kedua mataku dari tidur yang lelap.. taukah kau bermain dikepalaku segala cara untuk selalu bisa denganmu…
Satu debar ini takkan bisa aku jelaskan setiap kali melihat namamu dilayar ponselku…
Karena semenjak mengenalmu, hari hariku tak pernah sama lagi.. penuh rindu dan selalu butuh kamu..
Tapi sekarang… haruskah aku menyamar menjadi hujan, langit, dan udara, bahkan hadir dalam tiap mimpi malammu. Aku dekat, tapi tetap asing bagimu..
Kita pernah meninggalkan jejak pada jalan jalan kota yang kita lalui berdua, seolah kita yang punya dunia..
Jalan yang lurus dan panjang…
Hingga kita temukan ujungnya… kau belok ke kiri dan aku sebaliknya
Tanpa ucap pisah, tanpa peluk hangat, hanya punggung yang menjauh…
Mereka bilang… aku akan baik baik saja setelah perpisahan ini…
Tapi tentu mereka tak pernah tau bahwa bersamamu aku pernah lebih baik
Aku bingung, entah bagaimana aku menyelaraskan hukum semesta dengan ingatanku…
Kenapa setiap kali aku ingin melupakanmu… aku malah makin mengenangmu…
Karena sesungguhnya kamu masih menguasai satu per dua hatiku…
Karena hanya pada hatimu aku berhenti mencintai yang lain…
Mungkin hatimu mengatakan sesuatu ketika kau sedang membaca ini ;
“Jangan jatuh cinta padaku”
Mungkin hatiku juga akan berkata; “ Sudah terlambat”
Jadi kali ini… biarkan aku menyimpan memori tentangmu pada laci terbawah ingatanku…
Kemudian aku akan membuang kuncinya… sehingga bagaimanapun kuatnya rinduku… aku takkan bisa membukanya lagi…
Tapi… hingga saat ini… melihatmu… mendengar suaramu…namamu…tulisanmu… masih membuat ruang dadaku sesak…
Apa ini artinya kau masih menjadi segalanya untukku?
Dan yang lebih menyedihkan adalah.. aku baru menyadari bahwa selama ini aku bernyanyi untuk seseorang yang mencintai kesunyian…
Aku belum sembuh. Terhitung dari hari terakhir saat kita meyakinkan diri masing-masing akan mendapatkan pasangan terbaik…
Kau tak pernah kumiliki, tapi kenapa aku selalu merasa kehilangan?
Lagi-lagi aku harus paham bahwa seseorang yang kita genggam erat sekalipun, jika bukan jodoh.. kita harus belajar untuk melepaskannya pelan-pelan pada suatu ketika…
Suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali… pasti.. tapi dengan tatapan canggung dan hati yang mati rasa…
Kini kau menjelma menjadi rasa sakit yang kucintai terus menerus…
Dan sekarang aku memilih untuk mengingatmu saja… ketika ingin melupakan saja aku tak mampu…
Sebab sejauh apapun aku berjalan… kenangan tetap tidak berpindah, tepat dihati.

Kamu, Selamat berbahagia, selamat jatuh cinta lagi.

 

(Musikalisasi Puisi) Ingatkan Aku

a couple holding hands walking into the sunlight

“Aku ingin mengingatkan tentang ini.
Bagaimana aku mencintaimu dengan hebatnya,
bagaimana kau merindukanku begitu cepatnya,
bagaimana langkah kita pernah tertatih oleh hujan
yang deras dan berhasil melewatinya.”

***

Ingatkan Aku

Pernah aku berandai-andai tentang kehidupan 5 atau
7 tahun kedepan. Kita sedang merapikan perabotan di
rumah baru kita. Kau merapikan alat-alat dapur dan
aku sibuk mengangkat kotak-kotak ukuran besar
untuk dibawakan kepadamu. Lalu kita sedikit
berdebat mengenai tata letak.
Tatkala sore tiba, kita berbincang tentang berapa
bocah manis yang ingin engkau lahirkan. Dua,
jawabmu. Sembari menuang teh kedalam cangkirku
yang telah kosong. Kali ini kita sependapat, tak ada
perdebatan.
Aku ingin sempatkan bertanya padamu. Pernah kah
kau membayangkan hal yang demikian indah itu lagi?
Katakan padaku yang sesungguhnya tentang anganangan
yang ingin kau wujudkan bersamaku. Kapan
terakhir kita bicara perihal rasa? perihal masa depan?
Mungkin kita telah lupa.
Sebelum kita sama-sama memutuskan untuk berpisah
suatu saat. Aku ingin mengingatkan tentang ini.
Bagaimana aku mencintaimu dengan hebatnya,
bagaimana kau merindukanku begitu cepatnya,
bagaimana langkah kita pernah tertatih oleh hujan
yang deras dan berhasil melewatinya.
Aku menghela napas panjang, dan saat kita benarbenar
tak lagi bicara tentang keindahan di ujung
waktu. Saat kau berpikir telah menemukan kekasih
yang menjadi idamanmu selama ini, ingatkan bahwa
aku tak akan pernah menahanmu untuk pergi.
5 atau 7 tahun nanti akan tetap datang, meski tak
sama dengan keinginan.

(Musikalisasi Puisi) Bahagia Setelah Kita

Bahagia Setelah Kita

Karena kutinggalkan semua ketenangan dibalik jemarimu,
Kutinggalkan semua kebahagian yang tak akan pernah beku.
Karena bahagiaku adalah kau yang berbahagia.”

****

Bahagia Setelah Kita

Suatu waktu, di akhir bulan Oktober.
Kau bertanya padaku tentang satu hal.
Jika saatnya nanti, saat kita ditakdirkan untuk tak bertemu lagi.
Saat kita tak bisa saling bicara lagi.
Apa yang akan kau lakukan.

Saat itu aku menuliskan sesuatu.
Biakan aku menjadi pemuja atas semua puisi-puisimu, dan kan kubiarkan airmata menjadi hidup sebagai bagian dari goresnya.

Kau tahu, pada pertemuan kita yang tak terduga, pada setiap tawa kita yang terekam dunia, pada setetes airmata yang kau dan aku lepaskan tiba-tiba.
Tuhan menjadikannya cerita yang tak mungkin terlupa.
Semesta berbahagia.

Aku tahu, jalan kita berbeda.
Dan tuhan menyiapkan sesuatu yang tak pernah kita sangka.
Mungkin iya, mungkin saja tidak.
Kita hanya bisa menganggap semua pertemuan ini adalah pertemuan yang akan membawamu dan menuntunku pada sebuah kebenaran perasaan.
Rindu yang terbang bebas kepadaku,
Rasa yang berlabuh tepat di genggamanmu.
Semuanya benar, kita pernah saling jatuh cinta.

Kau tak perlu takut.
Kau adalah perempuan hebat, yang mampu berdiri kuat meski langkahmu tersekat.
Engkau adalah perempuan yang mampu melengkungkan senyumku, meski disaat kau sedang berpesta airmata.

Jadi, apa yang harus kita lakukan jika semuanya benar-benar berlalu?
Tak ada, namun ingatlah hari dimana kita masih bisa saling bergenggaman tangan,
Kau merasa nyaman bukan?
Karena kutinggalkan semua ketenangan dibalik jemarimu,
Kutinggalkan semua kebahagian yang tak akan pernah beku.
Karena bahagiaku adalah kau yang berbahagia.

_dyazafryan_

(Musikalisasi Puisi) Jatuh Cinta dan Rindu yang Tak Akan Patah

Jatuh Cinta dan Rindu yang Tak Akan Patah

“Saat ini aku masih jatuh cinta, masih jadi pemujamu yang setia. Sama, dan tak akan berubah.”

*****

Jatuh Cinta dan Rindu Yang Tak Akan Patah

Sejak saat pertama ku tuliskan satu puisi untukmu,
disana aku tahu, aku jatuh cinta.
Jatuh perlahan pada hatimu, pada kesederhanaanmu.
pada setiap bahagia yang ingin kau tularkan pada sekelilingmu.

Tanpa sadar, rindu terbang dengan damai kepadamu.
dengan tenang berlabuh lewat celah kecil senyummu.
tak patah meski sayap-sayap yang membawanya lelah,
tak mati meski ia sendiri.

Kepadamu, yang ku anggap sebagai jalan pulang atas cinta dan rinduku,

yang kumaknai setiap langkah-langkahnya.
Saat ini aku masih jatuh cinta,
masih jadi pemujamu yang setia.
Sama, dan tak akan berubah.

_dyazafryan_