Kita Bersama Bahagia yang Nyata

Seseorang berbisik padaku tentang ramainya hujan yang turun ketika aku sedang menunggunya reda.

Nyatakah?

atau hanya cerau yang bernada risau.

Sayang, kenapa kita tak biarkan tubuh kita merasakan riuhnya rintik hujan.

dan membiarkan jemari kita basah saat bergandengan.

Lalu dapat kau rasakan bahwa ini nyata.

Seperti engkau yang selalu inginkan kebersamaan,

bahwa tak ada sesuatu yang harus kita takutkan.

Tuhan menjaga setiap langkah yang kita pijakkan.

aku yang ada di sampingmu, Menguatkan.

 

Puisi Balasan “Akan Ada Waktu” oleh Insany Camilia Kamil

#DuetPuisi

Mengeja Bayangmu (Musikaliasasi Puisi)

Mengeja Bayangmu

“Datanglah dengan hati yang bulat penuh agar genaplah anganku.”

———–

MENGEJA BAYANGMU

(Puisi Karya Masya Ruhulessin dan Dyaz Afryan)

Lelah ku didera penat yang menyayat,

bersama perasaan yang tertahan dan masih dalam kepalan tangan.
Masih utuhkah dirimu?

Aku membayangkan perjumpaan dengan dirimu
Pada suatu senja yang merah sempurna
Kau dan aku terlihat tersenyum bahagia
Tapi masalah hati siapa yang  bisa menerka?

Syahdu langkahmu berbisik ditengah ramainya jerit-jerit kerinduan.
Selintas,
perjumpaan itu hanya bayang yang dalam waktu singkat akan pudar dimakan ingatan.

Aku sendiri masih utuh dengan tanya yang belum reda
Tengadah pada bayangmu yang semakin susah diterjemahkan
Tak ada lagi senja yang meredakan amarah
Warna disana menjadi semakin palsu tertimpa keegoisan

Aku harus apa sayang?
Atau kita harus bagaimana??
Lelah menyeka airmataku sendiri
Bergetar menahan lemahnya kaki berpijak sesaat setelah ragu datang meyapaku

Datanglah dengan hati yang bulat penuh agar genaplah anganku
Datanglah segera, saat matahari mulai gelap
Supaya kita telisik bersama jalanan tanpa curiga
Lalu kembali berlari melawan waktu

_dyazafryan_

Memeluk Malam dengan Bahagia (Musikalisasi Puisi)

Memeluk MAlam dengan Bahagia

“Lihat, kita masih bisa saling memeluk bahagia, Meski terkadang ragu menyelimut asa.”

Malam ini terlalu pekat, dan hujan datang mengendap-endap menyambut sepi dalam waktu.

Ia lalu menari-nari dalam heningnya sanubari,

Mencipta jarak yang telah lama mati.

 

Pada satu genggaman jemari yang saling menarik,

Namaku dan namamu menjadi bait puisi-puisi sepi.

Melantunkan irama kesendirian, dan memenjarakan kebersamaan.

 

Dan Sepi kini diam, tak berkata apa-apa, seperti biasa.

Hingga kudengar lantunan nada nada suaramu mengalun

Dengan sekelumit rindu yang kau ucapkan.

Pelan.

Terucap pelan pada bibirmu yang kering.

Menggema mesra di balik gendang telinga.

 

Tiap kata tanpa bingkai merayu denyut nadi ini berdetak untukmu

Menggaris pelangi pada lengkungan senyum dibibir kita berdua.

Lihat, kita masih bisa saling memeluk bahagia,

Meski terkadang ragu menyelimut asa.

 

Berat, dalam napas yang berat

Kita berdua berusaha keras menepis ragu.

Biar kita berdua belajar bahagia dari ragu

Yang pergi perlahan.

 

Puisi karya dyaz afryan dan Gisti Riza Adistie