[Puisi] Tentang Bahagia Di Waktu yang Singkat

Tak pernah kutinggalkan resah setelah beranjak dari pintu rumahmu.
Dan rindu rindu itu seakan tak ingin pergi, masih bersembunyi di balik sayu matamu yang setia menanti saat senja mulai pulang.

Aku tak ingin pergi dari tatap itu. Bahkan diam bersamamu adalah sunyi yang tak lelah kunikmati. Lalu menyapamu kecil sekedar untuk memecah kebisuan.

Di akhir peluk yang kau titipkan. Berulang-ulang kukatakan tentang bahagia yang hadir di waktu yang singkat.
Percayalah, kelak kau tak perlu bertanya tentang hari-hari yang harus kau lalui sendiri.

Just Do It!

Surat keempat, hari ke-4.

 

Tiba-tiba saja pengen buat surat seperti ini. Dan enggak tau tertuju kepada siapa. Mungkin kepada siapa saja yang pernah ngalamin hal seperti ini. Kepada para manusia yang mungkin cintanya bertepuk sebelah tangan dan tidak berbalas. Mungkin karena yang dicintai enggak suka kamu, atau udah punya pasangan lain, dan kamu hanya bisa memendam perasaan hingga ia enggak pernah tahu.

Just do it, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jika keputusanmu adalah untuk terus mencintai dia dengan ikhlas hingga benar-benar ada saatnya kau berhenti, lakukan itu dengan bahagia. Dan jangan terlalu bersedih atas resiko yang akan terjadi, mungkin terabaikan atau komentar-komentar disekitarmu dan sebagainya.

Karena untuk lebih memahami, kita harus melakukan dan ketika kita melakukan butuh sebuah pengorbanan.

Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang kau lakukan, dan jangan pernah menyalahkan orang yang kau cintai karena ia tak mengerti. Atau suatu saat kamu bisa untuk menungkapkan.

Just let it flow, dan bersemangatlah.

ditulis untuk #30HariMenulisSuratCinta

580 km

Jangan lagi menyalahkan jarak ataupun lelah terhadapnya, karena jarak kita bertemu, karena jarak kita punya banyak rindu. Mungkin terkadang lelah atau resah, wajar saja.

Mungkin pernah gagal, atau ingin mencoba kembali, bisa saja.

Jarak memberikan pelajaran bahwa setiap detik pertemuan adalah anugerah, adalah bahagia nyata yang harus di syukuri.

Dan setelah pertemuan pertama, yakinkan akan ada pertemuan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya dan hingga benar-benar tak terpisah.

Dan jarak hanya jadi pemisah untuk mata, bukan cinta.

Ini bukan apa-apa, hanya doa untuk 580 km itu.