[Puisi] Tentang Bahagia Di Waktu yang Singkat

Tak pernah kutinggalkan resah setelah beranjak dari pintu rumahmu.
Dan rindu rindu itu seakan tak ingin pergi, masih bersembunyi di balik sayu matamu yang setia menanti saat senja mulai pulang.

Aku tak ingin pergi dari tatap itu. Bahkan diam bersamamu adalah sunyi yang tak lelah kunikmati. Lalu menyapamu kecil sekedar untuk memecah kebisuan.

Di akhir peluk yang kau titipkan. Berulang-ulang kukatakan tentang bahagia yang hadir di waktu yang singkat.
Percayalah, kelak kau tak perlu bertanya tentang hari-hari yang harus kau lalui sendiri.

Sajak yang Enggan Kau Tuliskan

Tak lagi engkau mengepak sayapmu

Enggan membelah desah-desah rindu tatkala aku telah jatuh di peluknya

Bahkan kau tak menangkapku, merelakanku terjatuh

Airmataku bernyanyi dengan lirik-lirik kosong

Memisahkan kesadaran dari embus napas

 

Aksara pun tak mampu deskripsikan

Betapa denyut nadi dalam dada menyentak hingga kepala

Menyempitkan seluruh saraf hingga meradang

Entahlah, tiada sedikit pun terka yang bisa kulemparkan

 

Tiada sedikit luka yang bisa kusembuhkan

Engkau telah lupa, tak juga menarikku dari liang tak bercahaya

Garis matamu yang dulu bersinar teduh

Kini tampak pudar ditelan kebencian

 

Pun sajakmu sudah enggan kautuliskan

Sajak yang dulu kau rangkai menjadi kita

Kini, semua lari ke negeri antah berantah

Tempat di mana kau dan amarahmu bersemayam

Tempat di mana kau lepaskan semua kenangan

 

Puisi Karya Karya Dyaz Afryan & Yanti Handia