Pertanyaan di Ujung Kemarau


Di ujung biru langit matamu, tak bisa kutebak apa yang sedang terjadi disana.

Dadaku kering. Mataku basah.

Seperti musim yang tak jelas, menjatuhkan banyak daun-daun di tanah yang basah dan anak-anak ranting mulai patah, tak tumbuh lagi.

Lalu, bagaimana dengan hatimu?

Tak tuntas ia tumbuh sempurna, lebih dulu mati dariku.

12 thoughts on “Pertanyaan di Ujung Kemarau

  1. Meskipun pada akhirnya pohon cinta itu harus mati, semoga saja sisa-sisa tubuh mereka yang terberaikan itu menjadi penyubur bagi benih-benih cinta yang beterbangan dan mendarat menjelang musim hujan, pun ketika benih cinta untuk mereka sendiri telah habis ditelan waktu #harap.

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s