[Puisi] Menikmati Pagi


Alarm handphoneku terlalu berisik pagi ini. Berteriak kencang seperti orasi-orasi mahasiswa menolak kenaikan BBM. Lantas telingaku tak begitu tertarik untuk mendengarkan. Aku terlambat menemui Tuhan pagi ini.

Rumput masih basah. Burung-burung masih berceloteh pagi bersama kawanannya yang baru saja hinggap di dahan pohon mangga. Beberapa dari mereka baru saja mengepakkan sayapnya. Pergi mencari sarapan.

Aku benci pagi tanpa teh manis, atau tak ada suara adukan sendok melarutkan gula. Suara pembawa acara di televisi mengalahkan obrolan pagi yang lama hilang. Ibu sibuk di dapur. Bapak? aku tak pernah menegurnya lagi akhir-akhir ini.

Aku harus segera membasahi diriku. Tanggal merah hanya indah bagi yang merayakan, kecuali aku. Tuhan benci orang orang yang suka mengeluh, menyalahkan atasan kenapa tak ada libur.

Aku hanya ingin segera pergi meninggalkan sendu yang beberapa hari masih menginap dalam otak. Kutinggalkan sendirian di kamar. Pagi yang tak indah, tak juga terlalu menyenangkan.

 

Palembang, 16 Mei 2015.

10 thoughts on “[Puisi] Menikmati Pagi

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s