Tak Tertulis, Tak Terucap.


Surat keempatbelas, hari ke-24.

 

Mungkin ada waktunya kita harus berterima kasih kepada sesuatu yang dianggap biasa, yang mana ternyata ia pernah membantumu akan sesuatu. Seperti airmata.

Semua orang pernah menangis oleh sebuah kesakitan, ketidaktenangan, kebahagiaan, kelucuan dan lain sebagainya. Ia yang menjadi salah satu bentuk akhir dari sebuah hal yang tertahan. Kesedihan, ataupun kebahagiaan yang berakhir pada sebuah ketenangan dan kedamaian.

Kadang dianggap cengeng atau lemah. Tapi kita tahu bahwa efek dari menangis itu luar biasa, dan bagi saya, menangis adalah salah satu cara untuk lepas sejenak dari beban.

 

Airmata membuatku semakin hangat di tengah malam yang dingin dan sendiri.

Detak jarum jam tak berarti apa-apa.

Berjalan seperti biasa.

Tak salah,

Airmata hanya sebatas kata-kata yang tak tertulis

dan tak terucap.

Lepaskanlah bebanmu dengan airmata, lalu kau bisa bangkit lagi setelahnya.

ditulis untuk #30HariMenulisSuratCinta

 

16 thoughts on “Tak Tertulis, Tak Terucap.

  1. fryan, kamu pernah mengoreksi posting kamu nggak? aku mengoreksi postinganku semuanya rasanya jadisemua salah to? aku jadi pingin hapus semua dan mulai lagi semua dari awal. nanti jadi kasihan posting sebanyak itu dihapus. komentar dan like teman-teman juga ikut terhapus. menurut kamu gimana?

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s