Tanah Kematian


Sejak hujan tak lagi mampu kurasakan hadirnya, dan kemarau pun menjadi penguasa semesta terindah, hatimu.
Sebabnya menjadikan dedaunan yang hijau menjadi abu-abu.

Aku jatuh perlahan ke tanah kematian yang kau pijakkan kakinya di sana.
Engkau menjelma kupu-kupu yang berlalu, menuju warna-warna yang masih utuh di matamu.
Lalu aku tak bisa menebak kemana arahnya.

Pergi saja engkau dengan keindahan yang terberkas dalam ingatan.
Bersama musim-musim yang aku saja tak pernah bisa merasakannya.
Di dunia yang ingin kau ubah dengan satu kepakan sayapmu,
Bukan duniaku

#DuetPuisi

7 thoughts on “Tanah Kematian

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s