Puisi-Puisi Hap!


Postingan ini hadir karena permintaan beberapa teman blogger yang penasaran dengan puisi-puisi dari Andi Gunawan di Buku Kumpulan Puisi Hap! yang kemarin saya review. Jadi kali ini enggak mau berpanjang lebar buat bersenandung yang enggak penting,ย  yuk kalian lihat aja beberapa puisi dari Andi Gunawan yang menjadi Favorit saya.๐Ÿ˜€

 

Setelah Hujan Reda

Hujan reda. Kenangan masih deras di kepala, tentang kopi dingin

yang luput dari kecupan bibir kita sebab sore itu kau sibuk mengecup

pikiranku dengan kisah dari masa depan sementara bibirku sibuk

mencari alamat biar sampai ke lelah matamu.

Hujan reda. Kenangan masih deras di kepala, tentang bocah-bocah

yang basah dipeluk hujan bebas di halaman rumah kita dan aku

serta engkau terlalu takut membaur sebab kebebasan kadang tak

memberikan pilihan selain diam di tempat.

Hujan reda. Kenangan masih deras di kepala, tentang warna abu-abu

saat langit mendung semendung mataku setelah ganjil pelangi

bertamu ke matamu dan menawarkan rumah yang lebih bebas

dari sepasang lenganku.

Hujan Reda. Kenangan masih deras di kepala, tentang engkau yang

kembang api dan dadaku langit malam.

Dor

sekali, lalu tak tampak lagi.

(2012)

Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat Lalu Kau Baca Saat Kau Merasa Sendiri

Ada yang diam-diam ingin disapa olehmu. Percayalah. Ada yang mengharap

pertemuan kedua, setelah matamu mendarat di matanya, tanpa aba-aba.

Ada yangย  setiap hari terbangun buru-buru, demi sebuah frasa ‘Selamat pagi’ dari bibirmu. Ada yang

tak pernah berhenti mencatat. Sebab, setiap kalimatmu adalah peta. Ia tak mau tersesat.

Ada mata yang berbinar sempurna dalam tunduk sipu, tiap kau sebut sebuah nama, miliknya.

Ada yang mengembangkan sesimpul lengkung di bibirnya, di balik punggungmu, malu-malu.

Ada yang memilih terduduk saat jarakmu berdiri dengannya hanya beberapa kepal. Lututnya melemas, tiba-tiba.

Ada yang tak pernah melepas telinganya dari pintu. Menunggu sebuah ketukan darimu.

Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau tak tertangkap matanya beberapa waktu.

Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.

Ada yang diam-diam mendoakanmu,

dalam-dalam.

Percayalah.

(2012)

Patah Tiga

Aku bertahan

di tengah ruang sempit yang Kau berikan

di antara rasa-rasa yang singgah bertautan

entah mimpi atau aku buta kenyataan

Aku bertahan

saat kalimatmu mulai mematikan langkahku

saat hatimu mulai terbagi beribu-ribu

rapuh aku tak tahu yang Kau tuju

Aku tetap bertahan

meski akhir itu nanti tetap datang

meski daun tak lagi setia kepada dahan

karena hanya kepadaku kau kembali pulang

(2010)

Ganjil

Tuliskanlah namaMu

di sini.

(2013)

Jadi itu adalah sebagian puisi-puisi yang ada di buku Kumpulan Puisi Hap! karya Andi Gunawan, buat lebih lengkapnya temen-temen bisa dapetin bukunya di toko buku Gramedia ya๐Ÿ˜€

63 thoughts on “Puisi-Puisi Hap!

  1. “Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat Lalu Kau Baca Saat Kau Merasa Sendiri”

    air mata ngegenang bacanya,, tertusuk banget dihati. Dilanjutkan ke “Patah Tiga” makin ketusukk hhaaha.

  2. Dyaz, kamu beli bukunya, ya?
    Aku datang pas Launchingnya Hap Ndigun ini. Tapi paling seneng pas Mas Adimas Imanuel bacakan puisinya Ndigun, lebih kerasa aja. Hehe๐Ÿ˜€

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s