Untuk Warna Merah di Martapura


Surat keenam, 6 Februari 2014

Surat ini ditulis ketika aku melihat kau bahagia, ketika beberapa kesempatan mata ini harus melihatnya tanpa sengaja.

Aku tak ingin membicarakan rindu disini, atau cinta yang ingin kembali. Biarkan semua itu kuserahkan kepada yang lebih berkuasa.

Hai, apa kabar?? tampaknya itu pertanyaan yang tak ada artinya, tapi cukup untuk mengawali cerita.

atau harusnya aku bertanya seperti ini, “Hai, kapan kamu nikah?” haha, Entahlah. Mungkin pertanyaan itu juga cocok.

Oke. Aku tak ingin berpanjang lebar. Aku cuma ingin mengungkapkan sesuatu disini, tanpa ku ingat apakah sebelumnya pernah kukatakan atau tidak.

Aku adalah penyesal nomor satu atas kepergian dirimu, dan aku benar-benar mengakuinya. Mungkin terkadang kalimat-kalimat selalu muncul dan terbang di dalam sel-sel kepala tanpa kuminta. Meski dalam bentuk tak nyata. Tak begitu sering, karena sekuat raga aku mencoba melupakan tentangmu. Tentang perjalanan rindu kita dulu.

Terima kasih atas semua cerita yang telah terjadi dan maaf atas semua kesalahan yang juga pernah terjadi. Mungkin terlambat untuk mengungkapan semua, tapi tak ada salahnya membuat hati ini lega.
Oiya, tak usah pedulikan terlalu jauh tentang surat ini. Kalaupun kamu membacanya,ย  segera lupakan. Jangan sempatkan mengalir kesudut hatimu dan menjadi gangguan.

Untuk warna merah yang selalu kau suka, Selamat berbahagia ya.

_dyazafryan_

 

24 thoughts on “Untuk Warna Merah di Martapura

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s