Maafkan aku, Rasa.


Surat Kedua, 2 Februari 2014

Entah bagaimana aku harus menyebutnya, mungkin seperti permintaan maaf.

Kepada sudut terdalam diriku, yang disebut rasa, atau lebih tepatnya diriku sendiri.

Aku yang memintamu untuk hadir, lalu memintamu untuk terus ada, dan menjadikanmu yang ingin aku pertahankan. Lalu aku kembali menjadi seseorang yang memintamu pergi tanpa menyelesaikan semua.

Maaf, hanya menjadikanmu sebuah rasa yang terpendam, mungkin kamu ingin sekali keluar dan mengungkapkan. Melihat sisi dimana kamu merasakan bahagia atau kesedihan.

Ini mungkin sudah jadi yang kesekian kalinya. Menjadi laki-laki yang berubah, tak seperti dulu. Kamu yang dulu bisa merasakan indahnya pengungkapan, namun kini kamu tak lagi bisa. Aku yang dulu selalu berjuang, dan kini yang hanya mudah menyerah. Yang kau ingin kamu tahu, ada sisi baik dan buruk. Aku tak ingin mengecewakanmu, atau diriku sendiri.

Sekali lagi maafkan aku, Rasa. Aku harus memintamu untuk mundur dan pergi kembali, menjadi seperti biasa.

Maaf…

_dyazafryan_

46 thoughts on “Maafkan aku, Rasa.

  1. Dan surat yang ini kena banget di aku ya

    Hmmmm melipir sebentar ah
    Besok datang lagi pas surat ketiga
    Wakakakaka

    Wah aku bisa ikutan ya ?

  2. wah…. saya udah sering nulis surat, ada yang fiksi ada juga yang non fiksi. kalau menurut saya seh ada unsur cintanya…. cuma ya kebanyakan untuk anak (non fiksi) dan untuk istri/suami (non fiksi)
    πŸ˜€

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s