Memeluk Malam dengan Bahagia (Musikalisasi Puisi)


Memeluk MAlam dengan Bahagia

“Lihat, kita masih bisa saling memeluk bahagia, Meski terkadang ragu menyelimut asa.”

Malam ini terlalu pekat, dan hujan datang mengendap-endap menyambut sepi dalam waktu.

Ia lalu menari-nari dalam heningnya sanubari,

Mencipta jarak yang telah lama mati.

 

Pada satu genggaman jemari yang saling menarik,

Namaku dan namamu menjadi bait puisi-puisi sepi.

Melantunkan irama kesendirian, dan memenjarakan kebersamaan.

 

Dan Sepi kini diam, tak berkata apa-apa, seperti biasa.

Hingga kudengar lantunan nada nada suaramu mengalun

Dengan sekelumit rindu yang kau ucapkan.

Pelan.

Terucap pelan pada bibirmu yang kering.

Menggema mesra di balik gendang telinga.

 

Tiap kata tanpa bingkai merayu denyut nadi ini berdetak untukmu

Menggaris pelangi pada lengkungan senyum dibibir kita berdua.

Lihat, kita masih bisa saling memeluk bahagia,

Meski terkadang ragu menyelimut asa.

 

Berat, dalam napas yang berat

Kita berdua berusaha keras menepis ragu.

Biar kita berdua belajar bahagia dari ragu

Yang pergi perlahan.

 

Puisi karya dyaz afryan dan Gisti Riza Adistie

7 thoughts on “Memeluk Malam dengan Bahagia (Musikalisasi Puisi)

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s