1 Jam dari 24 jam dalam Satu harimu


Ini adalah permulaan dimana pikiran-pikiran mulai masuk dalam sistem melupakan. Bukan, mungkin bukan melupakan tapi menyimpan. Karena semua yang telah terekam tak mungkin bisa dilupakan, terlebih itu adalah sesuatu yang berbeda dalam hidupmu.

Lagi-lagi aku berbicara tentang kisah kita dulu yang pernah tertulis, termasuk hari ini atau mungkin juga esok.

Dulu kita terjebak dalam alur-alur cinta yang tak semestinya, seperti terjebak dalam labirin penuh jalan yang kita tak tahu arahnya, hingga kita bisa keluar dari liku-liku nya dalam waktu yang cukup lama. Kita tahu akhirnya diluar itu kita menemukan hal lainnya, bahagia, sedih, amarah, dan airmata, dan itulah kenyataan yang harus dihadapi. Pada akhirnya lagi kita harus memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Semua itu membawaku pada satu titik yang disebut menunggu.

Kamu pernah menunggu kan? Ada rasa yang ingin kamu ungkapkan, mungkin juga kamu lebih suka untuk menyimpannya. Mungkin terliihat bodoh ketika kita hanya berdiam tanpa aksi atau memang kenyataanya menunggumu hanya sebatas menunggu ย dan menanti keajaiban. Yang ada hanya lembar-lembar cinta yang masih ada untuk bertahan.

Aku berpikir satu hal, ternyata kondisi waktu menunggu kita berbeda, ya berbeda. Karena mata kita sudah sama-sama tak saling memandang dengan utuh, tak seperti dulu. Kita punya jarak.

Ternyata aku tak terlalu bisa menjadi seperti dirimu yang bisa menunggu selama itu, atau kenyataanya aku mungkin bisa? Entahlah.

Aku berharap ada waktu bagi kita untuk sama-sama berbicara tentang semua rasa. Atau aku memohon untuk dapat paling tidak 1 jam dari 24 jam dalam satu harimu. Saling menatap mata, berbicara lebih dalam tentang kita tanpa ada jeda untuk kisah lain masuk dalam perbincangan kita, lalu terdiam dalam sunyi. Membiarkan rasa-rasa menjelma titik-titik airmata dan kita sama-sama pergi, berlalu dalam kenangan yang tersimpan..

_dyazafryan_

10 thoughts on “1 Jam dari 24 jam dalam Satu harimu

    • sakit tuh nggak bo, cuma sedih aja. kenapa ada perbedaan kondisi dalam menunggu. menunggu saat masih bisa saling melihat dan berbincang dengan menunggu tapi tak bisa memandang mata dan berbincang.

  1. “menunggu saat masih bisa saling melihat dan berbincang dengan menunggu tapi tak bisa memandang mata dan berbincang.”
    Ini sedih banget deh komentnya. *cemplungin dyaz ke kuah pempek*

  2. bang, menurut abang kalau “saling menunggu saat masih bisa saling memandang dan berbincang, tapi juga menunggu tanpa bisa saling memandang dan berbincang” gimana tu, bang??

    • Gini, dia dulu menunggu waktu kita masih bisa setiap hari memandang. Kondisinya kita masih bisa saling bertemu.
      Sedangkan kini aku menunggu dengan kondisi yang berbeda, tak bisa saling memandang dan berbincang.

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s