Mengeja Rindu

Ingin kusimpan dirimu dalam tidurku yang sekejap
Sebab disanalah aku bisa merengkuh jemarimu
Tanpa perlu mengeja banyaknya angka yg menjadi jeda antara kedua pelipis kita.

Kau tahu, malam ada waktu terbaikku untuk hanyut dalam pelukmu. Dalam mimpi yang tak terbatas, kita mampu merekatkan ribuan langkah yang terpisah.

Seharusnya tak perlu lagi kita aliri nafas dengan kecurigaan
Atau membumbui pagi dengan kecemburuan
Karena jarak tak perlu kita salahkan
Tak ada yang salah dengan ribuan kilometer itu.

Mari pertanyakan jarak antara hati kita
Jika hati menjauh, maka hari tak akan lagi jadi hari
Kelam akan semakin pekat
Lantas kecemasan semakin menjadi-jadi diudara
Rindu-rindu kemudian terbang tanpa arah, menjadikan napas-napas kering berbuah ragu.

Pada akhirnya
Dalam mata yang lelah aku ingin kau mampu untuk menggenggam jari-jari yang ingin mati
Menyembuhkan luka-luka yang tak terucapkan
Lalu mendekapku erat hingga matahari berubah hitam
dan menghilang dalam senyum yang telah abadi.

Puisi Kolaborasi Dyaz Afryan dan Masya Ruhulessin.

Hening

“Izinkan aku menunggu jika aku memang pantas untuk mencintaimu lagi. Biarkan aku mendapatkan kesempatan bila aku memang pantas untuk memilikimu lagi”

Cinta telah mengalahkanku, membiarkan hal-hal yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya menjadi sesuatu yang akan aku lakukan.

dan semua kata yang telah terucap bersama airmata adalah keyakinanku untuk terus mencintaimu.

“Aku merapalkan ribuan doa dalam heningnya suasana

menguatkan satu harap pada lemahnya hembus napas.

Kamu, adalah satu-satunya alasanku untuk bahagia,

dengan atau tanpa airmata.”

_dyazafryan_

 

Puisi Pagi

Mungkin bait-bait puisiku tak pernah berarti untuk pagi.
Atau sajak-sajak lembutku rela mati untuk senjanya.

Namun untuk kesekian kalinya barisan-barisan kata itu ingin hidup untukmu. Memberi sebuah arti baru dalam dunianya, dan untuk dunia kita, yang mungkin akan bersama.

1 Jam dari 24 jam dalam Satu harimu

Ini adalah permulaan dimana pikiran-pikiran mulai masuk dalam sistem melupakan. Bukan, mungkin bukan melupakan tapi menyimpan. Karena semua yang telah terekam tak mungkin bisa dilupakan, terlebih itu adalah sesuatu yang berbeda dalam hidupmu.

Lagi-lagi aku berbicara tentang kisah kita dulu yang pernah tertulis, termasuk hari ini atau mungkin juga esok.

Dulu kita terjebak dalam alur-alur cinta yang tak semestinya, seperti terjebak dalam labirin penuh jalan yang kita tak tahu arahnya, hingga kita bisa keluar dari liku-liku nya dalam waktu yang cukup lama. Kita tahu akhirnya diluar itu kita menemukan hal lainnya, bahagia, sedih, amarah, dan airmata, dan itulah kenyataan yang harus dihadapi. Pada akhirnya lagi kita harus memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Semua itu membawaku pada satu titik yang disebut menunggu.

Kamu pernah menunggu kan? Ada rasa yang ingin kamu ungkapkan, mungkin juga kamu lebih suka untuk menyimpannya. Mungkin terliihat bodoh ketika kita hanya berdiam tanpa aksi atau memang kenyataanya menunggumu hanya sebatas menunggu  dan menanti keajaiban. Yang ada hanya lembar-lembar cinta yang masih ada untuk bertahan.

Aku berpikir satu hal, ternyata kondisi waktu menunggu kita berbeda, ya berbeda. Karena mata kita sudah sama-sama tak saling memandang dengan utuh, tak seperti dulu. Kita punya jarak.

Ternyata aku tak terlalu bisa menjadi seperti dirimu yang bisa menunggu selama itu, atau kenyataanya aku mungkin bisa? Entahlah.

Aku berharap ada waktu bagi kita untuk sama-sama berbicara tentang semua rasa. Atau aku memohon untuk dapat paling tidak 1 jam dari 24 jam dalam satu harimu. Saling menatap mata, berbicara lebih dalam tentang kita tanpa ada jeda untuk kisah lain masuk dalam perbincangan kita, lalu terdiam dalam sunyi. Membiarkan rasa-rasa menjelma titik-titik airmata dan kita sama-sama pergi, berlalu dalam kenangan yang tersimpan..

_dyazafryan_

Novel Writing Class With Roy Saputra

NOVEL WRITING CLASS

Kemarin,tanggal 12 oktober 2013. Saya mengikuti sebuah kegiatan menarik dan sangat bermanfaat.
Yaitu Novel Writing Class bersama Roy Saputra dan disponsori BUKUNE dan NBC Unsri.

Kegiatan tersebut dilaksanakan disalah satu ruang di BALPEKES Palembang.
For Your Information Bang Roy Saputra adalah salah satu penulis novel komedi terbaik yang telah mengeluarkan beberapa novel seperti Lontang-lantung, The Maling of Kolor, Doroymon, Oh Lala TIng-ting, Trave(love)ing, Kasih tahu Gak ya?, Rasa Cinta,Setahun Berkisah, The DestinASEAN, Trave(love)ing 2.
Dan kalian mesti baca deh novel-novelnya,terutama lontang-lantung yang juga bakal difilmkan.

Peserta yang mengikuti kegiatan ini terbatas dan kelas ini hanya untuk 20 orang saja. So kelas menulis dimulai pukul 8.30 pagi.

Mengenai materinya? Sangat bermanfaat banget.
Yaitu tentang menyusun outline, menciptakan adegan, menentukan dinamika, memasukkan unsur komedi, dan yang terakhir adalah menembus penerbit. Semuanya dijabarkan secara mendetail kepada para peserta. Enggak cuma menjelaskan, ada juga sesi latihan dan sesi tanya jawab disetiap waktunya. Jadi selain mendapat ilmu,kita juga langsung belajar mengaplikasikan materi yang didapat.

Tak terasa kegiatan selesai pada pukul 4 sore. Seperti yang kita tahu sesi terakhir adalah foto bersama dan minta tanda tangan Bang Roy saputra.

Ini adalah kegiatan yang jarang sekali terjadi dan saya sangat bersyukur dapat bergabung di kegiatan ini. Mendapat Ilmu baru yang tak pernah diketahui sebelumnya. Yang pasti lebih membuat semangatt untuk dapat menerbitkan novel sendiri.

Terima Kasih buat Bang Roy Saputra yang mau meluangkan waktunya datang ke Palembang dan berbagi ilmu yang sangat-sangat berguna. Semoga nanti bisa kesini lagi dan berbagi ilmu yang lainnya. Salam OLI GRENGG 😛

Serta terima kasih kepada NBC Unsri dan Bukune yang telah mensupport kegiatan ini.

_dyazafryan_