Usang yang Tak Pernah Hilang


Kepada Februari dan April yang memiliki arti.

Ini hanya sebuah surat kecil yang tersimpan rapi dalam hati. Mungkin telah usang, tapi tak pernah hilang.

Aku tak pernah ingat kapan pertemuan terakhir kita? Saat mata kita sama-sama saling tertuju. Saat senyum kita masih terlihat oleh mata kita. Satu tahun yang lalu kah?  atau kapan? apakah kamu sendiri masih mengingatnya? ah, lupakan saja.

Masih ingatkah hampir selama 3 tahun saling kita mencoba untuk menjadi satu. Namun pada akhirnya Tuhan hanya memberikan waktu yang singkat untuk menjelmakan rasa-rasa menjadi cinta yang utuh.  Itu bukan salah siapa-siapa, mungkin aku menyadari betapa keegoisan ini membawa rasa-rasa yang bersemi selama hampir 3 tahun  kepada penyesalan yang terdalam. Tapi nyatanya kamu memberikan pelajaran berharga dan sangat teramat berharga.

I tell you something. Entah kenapa. Mungkin Aku yang malas untuk menyingkirkannya atau sebagainya. Foto kita masih tertancap dalam bingkai stereofoam putih di dinding samping tempat tidurku. Foto-foto photobox kita. Kadang aku tak mengganggap itu ada. Namun terkadang aku tersenyum biasa melihatnya. Aku hanya malas untuk menggerakkan tanganku untuk menyimpannya.

Aku tak pernah banyak menyimpan harapan untuk kembali. Namun saat Tuhan memberiku satu kesempatan untuk menatap wajahmu tepat dihadapanku,  biarkan aku menyampaikan semua rasa yang masih belum sempat tersampaikan. Kapanpun itu. Mungkin hari ini, esok, 2 bulan lagi atau 3 tahun lagi. Atau Tuhan akan membiarkan semuanya tetap tersimpan rapi di balik rasa dan pikir ini. Entahlah, seperti katamu disuatu kesempatan “Hanya Tuhan yang paling Tahu arti kata terbaik”.

Sampaikan salamku untuk jalan berbatu dirumahmu..

_dyazafryan_

41 thoughts on “Usang yang Tak Pernah Hilang

  1. Februari, April…
    Juni gak? apa Juli?

    Ah Dyaz…
    nangkep banget ini… lama tak melihat, dan putus asa dengan keadaan. melihatnya, tersenyum (walau tak tahu senyum bahagia atau bukan) adalah kebahagiaan.

  2. kerennn kang … aku suka tulisannya ^^
    aku cukup lama takbertamu dimana-mana , termasuk ngurus wrdpressku sendiri banyak sarang laba2nya … disini menemukan “sederhana yang bermakna” …🙂

  3. Lama nggak mampir ke sini ternyata ada yang sedang galau hehe..

    sebenernya nih bukan kamunya yang malas menggerakan tanganmu utk melepas foto2 itu tapii hati kamu yang masih betah di area kenangan.

    yah nikmatin aja perih pedihnya tapi jangan lama2, abis itu harus move on lagi😀
    semangat Dyaz!!!

  4. Ah bang dyaz, kenapa harus menyampaikan salam pada batu ? Itu terdengar menyedihkan, aku jadi teringat pada seseorang yang sampai detik ini hidup di alam bawah sadar secara tidak langsung dan dia juga seperti batu, tapi batu berhati Malaikat🙂 *salam buat abang yang sedang setengah mati mendekap rindu *

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s