Kejutan Dari Rena


Rena membetulkan letak kerah seragamnya. Ada sesuatu yang menggangu pikirannya beberapa hari belakangan. Bayangan wajah seorang gadis kecil tak mau beranjak pergi dari pikirannya. Gadis kecil itu sedang  meringkuk di depan emperan toko dekat sekolah Rena saat ia melihatnya.  Dengan bibir yang menggigil gadis itu masih berusaha melempar senyum. Entah mengapa rasa bersalah menyerangnya karena  tak sempat membalas senyum gadis tersebut.

“Pagi sayang! Siap berangkat?” suara bunda membuyarkan lamunan Rena.

“Siap bunda. Rena pergi dulu.” Rena bergegas keluar setelah mencium pipi ibunya.

“Hari ini aku harus menemui anak itu lagi” gunggam Rena

Rena melesat masuk ke kursi belakang mobil. Pak Joko, supir pribadi keluarga telah siap membawa Rena menuju sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah, mobil Rena melewati emperan tempat gadis kecil itu berada. Namun pagi ini Rena tak melihatnya. Ia memanyunkan bibir tanda kecewa.

***

Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. Tanpa menghiraukan teman-temannya, Rena beranjak keluar kelas dan langsung menuju parkiran sekolah. Disana terlihat pak Joko yang hendak menjemput Rena.

“Pak Jo, pulangnya lewat jalan tadi ya.” Dengan manis Rena meminta pada pak Joko.

“Siap Non.” Tanpa banyak bertanya, pak Joko mengiyakan permintaan Rena.

“Pak Jo, didepan toko kain itu bisa berhenti sebentar?”

“Emangnya Non mau kemana? Mau belanja? Kenapa perginya gak sama ibu aja Non?

“Psssst!” Rena menempelkan telunjuk dibibirnya. ” Rena ingin bertemu dengan seseorang pak Jo.”

“Baik Non, bapak tunggu disini ya.” Ujar pak Jo seraya mengatur posisi parkirnya.

Rena setengah berlari menghampiri gadis kecil yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Gadis itu sedang memeluk lututnya sambil bersiul rendah.

“Hai, masih ingat aku” ujar Rena sambil tersenyum.

“Ka-kamu siapa?” Gadis itu membalas dengan suara gemetar.

“Aku Rena. Siapa namamu?”

“Ana.”

Gadis kecil itu menjawab singkat pertanyaan Rena. Ia kemudian duduk, meletakkan sebuah kantong besar yang didekapnya lalu dikuti Rena.

“Kamu ngapain kok bawa-bawa kantong kayak itu?”

“Aku nyari barang-barang bekas.”

“Buat apa?”

“Buat dapet uang. Buat makan.” Jawab Ana singkat.

“Kamu nggak sekolah?” Rena bertanya kembali.

“Nyari uang buat makan aja susah, apalagi buat sekolah.” Ana kemudian bangkit kembali dan mengangkat kantong besarnya. Rena pun mengikuti.

“Kamu tunggu sebentar ya disini.” Rena kemudian berlari kecil mendekati pak Joko di tempat parkir.

“Pak Jo, Pak Jo punya uang Rp. 50.000?” Tanya Rena.

“Ada Non, buat apa?”

“Rena boleh pinjem nggak, nanti dirumah, Rena ganti ya uangnya.”

Pak Joko yang masih kebingungan hanya merohoh kantung kemejanya. Ia mengeluarkan satu lembar uang Rp. 50.000 dan memberikannya pada Rena.

“Makasih pak Joko.”

Rena kemudian berlari menghampiri Ana yang telah berjalan menjauh.

“Anaaaa!!!”

Ana berhenti seketika. Rena kemudian menarik tangan Ana lalu menyelipkan uang didalam genggamannya.

“Nanti kita ngobrol lagi ya ana. Besok pasti aku kembali.”

Rena tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Ana yang masih berdiri terdiam melihat apa yang ada ditanganya. Secercah senyum kemudian mekar indah menghiasi wajah Ana.

***

Rena masih berkutat dengan buku IPA sedari sore. Mengingat nama-nama ilmiah beberapa jenis hewan bukanlah hal mudah baginya.

“Ren, bunda boleh bicara sebentar?”

“Ada apa bunda?”

“Kenapa sudah tiga minggu ini Rena selalu pulang terlambat dari sekolah? Biasanya kan pulang jam satu Ren.”

“Rena mengunjungi teman bunda.”

“Kata pak Jo, Rena sering singgah di toko kain untuk menjumpai orang asing. Apakah itu betul sayang?”

“Orang asing? Rena bertemu Ana bunda. Dia teman Rena.”

“Tidak baik kalau Rena berteman dengan dia. Apalagi sampai memberikan dia uang.”

“Mengapa tidak baik bunda? Dia tidak punya uang untuk makan. Masa Rena biarin aja dia kelaparan? Dia jarang makan bunda. “

“Dia itu seorang gelandangan, kotor penuh kuman. Bisa saja itu akal-akalannya dia untuk menipu atau bahkan mencelakaimu sayang!”

“Mencelakai? Ana bahkan berusia lebih muda dari Rena, bunda. Mana mungkin berpikir seperti itu?

“Dunia luar itu kejam sayang. Pokoknya bunda tak mau tahu, mulai besok begitu pulang sekolah harus langsung pulang kerumah. Titik!”

Rena hanya mengganggkuk pelan. Dibiarkannya air mata mengalir dipipinya saat ibunya berlalu. Ia tak ingin lagi berkutat dengan buku IPAnya. Nama-nama latin yang berseliweran dikepalanya kini diganti dengan wajah Ana. Ia begitu khawatir pada teman kecilnya itu.

***

Sudah seminggu Rena memang tak menemui Ana. Ia  menuruti apa yang dipinta oleh bundanya. Namun kegelisahan tak mampu dikendalikannya. Rena tak dapat berhenti memikirkan teman keculnya yang sangat memerlukan pertolongan. Pak Joko pun tak ingin lagi menuruti permintaan Rena untuk menemui Ana. Supirnya itu tak ingin membuat bunda marah jika dia menuruti permintaan Rena.

Hari ini Rena yang ingin sekali bertemu Ana. Tanpa sepengetahuan pak Joko, Rena memutuskan untuk pulang sendiri agar dapat mengunjungi Ana. Ia sengaja mengambil jalan pintas agar pak Joko tak melihatnya.  Rena menyadari bahwa perbuatannya mungkin akan membawa masalah baginya. Bundanya pasti akan marah. Pak Joko pasti akan kebingungan mencarinya. Sesampainya di depan toko, Rena tak melihat sosok Ana. 10 menit berselang Ana kemudian muncul dengan membawa kantong besar yang berisi kaleng-kaleng. Ana tampak menyeret kantong yang berat tersebut.

“Hai Rena. Apa kabar? Sudah beberapa hari ini aku tak melihatmu. Kamu sedang banyak kegiatan disekolah ya? “

Rena menggeleng.

“Lantas baru pulang berlibur dari mana?”

“Bunda melarangku menemuimu.”

“Oh.” Ana hanya menjawab singkat. Terlihat kesedihan terpancar disudut matanya.

“Kamu masih mau sekolah lagi Ana?”

“Ya, tentu saja. Namun kamu tahukan masalahnya masih tetap sama Ren.”

“Kalau kamu mau, aku bisa membantumu bersekolah lagi.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku sudah bicara dengan kepala sekolah. Dia mau kok memberikan beasiswa padamu asal kamu mau belajar giat.”

“Serius?” Ana memandang Rena tak percaya.

“Iya. Besok kamu tunggu disini ya. Kepala sekolah mau menemuimu.”

“Terima kasih banyak Rena. Terimakasih.”

Airmata menggenangi sudut mata Ana. Rena tersenyum. Diraihnya sahabatnya kedalam pelukannya.

“Rena, apa-apaan kamu?” Tiba-tiba suara bundanya menganggetkan Rena dan juga Ana. ” Bunda kan sudah ingetin kamu jangan kesini lagi.”

“Tapi bun, Ana itu sahabat Rena. Rena cuma mau bantu dia buat sekolah lagi.” Rena mulai menangis.

” Bunda kan yang bilang kalo sekolah itu penting. Ana nggak bisa sekolah bun, Ana gak punya cukup uang seperti kita Bunda.”

Bunda terhanyut melihat airmata Rena. Bagaimanapun ketidaksukaannya terhadap perbuatan Rena, melihat sang putri menangis seperti itu membuat hatinya bergejolak.

“Jangan menangis lagi sayang, Bunda gak tahan melihat Rena begitu. Bunda hanya ingin selalu membahagiakan Rena.”

“Bunda ingin lihat Rena senang kan?” Sang Bunda mengangguk pelan.

“Rena senang bisa bantu Ana buat sekolah lagi Bunda.”

“Rena bantu Ana sekolah lagi?” Tanya bunda keheranan.

“Rena udah bilang sama kepala sekolah tentang Ana,dan kepala sekolah mau memberi beasiswa penuh sama Ana. Untuk tempat tinggal baru akan segera dirapatkan katanya.”

Bunda tak menyangka putrinya yang masih kecil itu bisa punya sisi kebaikan yang dalam bahkan diluar dugaanya. Matanya tergenang air kemudia sekejap memeluk Rena bahkan tak segan-segan memeluk Ana.

“Terimakasih ya sudah mengingatkan bunda lagi. Bahwa kebaikan seharusnya dilakukan tanpa pandang bulu, pada siapa dan untuk apa tujuan akhirnya. Ayo kita temui kepala sekolah sekarang saja, sepertinya dia masih di sekolah. Soal tempat tinggal bisa ibu usahakan.”

Rena mengedipkan mata untuk ibunya. Ia begitu gembira, sahabatnya Ana akhirnya bisa bersekolah lagi.

 

Tulisan Kolaborasi dengan Masya Ruhulessin untuk #14DaysofInspirations #IWritetoInspire   Tema : Kebaikan

14 thoughts on “Kejutan Dari Rena

  1. coba aja ada Rena beneran yang kayak gitu. atau ada anak-anak lain yang begitu care sama anak kurang mampu – kayak Rena.
    menyentuh hati.
    – eh, fryan. kita nulis cerita tokohnya cewek. gak harus jadi cewek duluan ya buat nulis cerita cewek?

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s