Jika Kau Cinta..


Karena hati akan selalu mengatakan yang sebenarnya. Tentang apa yang kita rasa dan kita inginkan. Seperti halnya hatiku yang selalu menginginkan kamu.

***

Entah sudah berapa lama aku mengenalmu. Dimulai dari hanya sekedar mengenal sampai pada akhirnya kita menjadi seorang sahabat yang selalu bersama. Bahkan kini, Persahabatan itu rasanya telah membangkitkan rasa untuk bisa memilikimu. Jelita, wanita berambut hitam lurus sebahu itu telah menghidupkan api- api cinta, dia telah membuat aku jatuh cinta. Sudah hampir 2 tahun sejak kita menyelesaikan kuliah kita bersama, tak ada satu katapun yang mampu aku ucapkan tentang perasaan ini. Hati ini seolah tak ingin merusak persahabatan yang telah terjalin jika harus mengungkapkan semuanya.

Terkadang aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Sesuatu yang menyenangkan ketika perhatian-perhatian kecil itu diberikan padaku. Namun lagi-lagi itu hanya sekadar perasaan tanpa ada satu kata terucap tentang semuanya.  Suatu waktu aku juga ingin sekali menghapus semua api cinta yang telah hidup itu saat aku tahu dia telah dimiliki orang lain. Namun semua percuma saat dia lebih memilih untuk sendiri.

6 bulan kemudian..

bip.bip.

Suara pesan masuk membuyarkan semua lamunanku saat aku menuju kekantor. Aku sudah menebak siapa yang mengirim pesan tersebut.

“Bil, kamu dimana? udah kekantor? semangat ya. Oia besok aku mau berangkat ke bandung sama mama papa, mau oleh-oleh apa?”

Aku tersenyum geli ketika membaca pesan-pesan yang selalu dia kirim.

“Iah ini lagi dijalan. Berapa hari perginya? Oleh-olehnya apa ya?? hmm. Kamu aja deh.” Aku segera mengirim pesan tersebut.

Aku tak harus menunggu lama untuk mendapatkan balasan dari Jelita. Semenit berselang pesan dari Jelita telah masuk ke handphoneku.

” lebih kurang 5 hari deh. Hihi, ya udah kamu yang baik ya.”

Aku tersenyum, lalu kembali fokus untuk menyetir mobilku.

***

Perasaanku menjadi tak karuan ketika nomor Jelita tak bisa kuhubungki ketika dia ke Bandung. Jelita hanya Sesekali  memberi kabar tentang keadaanya dan bertanya tentang keadaanku. Aku hanya berpikir positif tentang dirinya. Mungkin dia terlalu sibuk disana sehingga lupa untuk memberi kabar. Aku telah terbiasa dengan itu, terbiasa ketika Jelita pulang ke Bandung dan tak rutin memberi kabar. Aku hanya menunggu ketika Jelita telah pulang dan berada didepan rumahku.

Ting tong.

Suara bel rumah kini mengusik waktu santai pagiku. Dengan langkah santai aku menuju pintu depan rumah. Senyum mengembang terbentuk saat aku membuka pintu rumah. Yang selalu aku tau Jelita akan pulang dan berada didepan rumahku dan kini dia melakukannya lagi. Dia tersenyum lebar dan mengangkat tangannya yang membawa beberapa oleh-oleh.

Hari ini tepat hari minggu, aku berpikir untuk meluangkan waktu ini dengan mengajak Jelita menonton dan makan. Tapi aku merasakan sesuatu yang beda. Jelita tak seriang biasanya. Dia banyak diam dan menjawab pertanyaan dengan singkat. Mungkin dia masih kelelahan dan aku memakluminya, batinku.

2 minggu telah berlalu, Namun Jelita masih saja menunjukan sifat diamnya. Saat aku bertanya ada apa. Aku hanya mendapat jawaban “Nggak apa-apa kok, masalah kerjaan aja”. Pada akhirnya aku hanya bisa mencoba mengerti dengan keadaan itu.

Ting.tong

Suara bel rumah kembali berbunyi. Tak ada orang yang sepagi ini membunyikan bel rumah selain Jelita. Dugaanku benar, jelita tepat berada didepan pintu masuk rumahku. Aku melihat raut wajahnya ada yang berbeda.

“Ada apa Jelita?” tanyaku

“Boleh masuk? ada yang pengen aku omongin.”

Kami segera masuk dan duduk disofa ruang tamu. Aku menatapnya yang sedang tertunduk diam.

“Ada apa?” aku kembali bertanya. Namun Jelita hanya diam. Keheningan terjadi.

Jelita kemudian menatapku dan bersuara.

“Aku kesini mau pamit sama kamu bil.” ucap Jelita pelan.

“Oh, ke bandung lagi? berapa lama?” aku sediki tersenyum.

“Aku nggak balik lagi bil.” Aku terdiam.

“Maksud kamu?” aku bertanya dengan kebingungan. “Kamu nggak lagi bercanda kan?”

Jelita menggeleng. “Aku akan menikah Bil, dengan orang yang bener-bener ngasih kepastian sama aku.” Sepertinya ada pisau tajam yang menusuk jantungku. Sakit. Banyak pertanyaan yang melayang-layang dikepalaku. Namun semuanya tak dapat aku ungkapkan seperti perasaan cinta ini yang juga terpendam. Semuanya kini harus dapat kulawan.

“Tapi Aku cinta kamu, aku sayang kamu Jelita. Aku nggak mau kehilangan kamu.” Aku menangis. Semua kata yang telah terpendam selama hampir 3 tahun akhirnya terungkapkan.

“Itu yang selalu aku tunggu Bil. Kejujuran perasaan kamu.” Jelita ikut menangis. “Aku yakin kita punya perasaan yang sama. Tapi aku tak bisa mengungkapkan itu semua duluan. Yang aku tahu kamu nggak pernah ngerti dan kamu nggak pernah jujur.”

Aku terpukul. Aku menyesal tak sedari dulu aku mengungkapkan rasa ini. Tak pernah jujur bahwa aku mencintai wanita yang sedang menangis didepanku ini. Wanita yang sejatinya ingin aku miliki seutuhnya.

“Semua telah terlambat bil. Berapa bulan? Berapa tahun? aku harus nunggu kejujuran dan kepastian kamu bil? Aku diam akhir-akhir ini karena aku mencoba untuk bisa tak mencintaimu lagi dan melupakan semua.” Airmata terus mengalir dari kedua mata kami. Tak terbendung dan tak terelakkan. “Aku sadar aku tak mungkin bisa melupakan kamu. Yang harus aku jalanin sekarang adalah mencoba hidup tanpa kamu dan mencintai orang lain.”

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku telah menyia-nyiakan waktu yang ada. Ketidakjujuranku membuat aku kehilangan orang yang aku cintai dan mencintaiku.

“Jujurlah pada hatimu bil, pada perasaanmu. Hatimu yang tahu semuanya.”

Aku masih terdiam saat Jelita perlahan beranjak dari duduknya. Aku melihat punggungnya yang semakin lama semakin menjauh dan pergi.

 

Sebuah cerita untuk #14DaysofInspiration #IWriteToInspire. Tema : Kejujuran

dan untuk kalian yang terlalu takut untuk mengungkapkan.

27 thoughts on “Jika Kau Cinta..

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s