Dari-Nya, Untukku dan Untuk Mereka


Tok.tok.tok
Hakim telah mehentakkan palunya dan telah memberikan vonis pada Randy. Lelaki muda yang masih berusia 26 tahun itu harus mendekam didalam penjara selama 3 tahun. Narkoba telah membuatnya jatuh dan meringkuh dibalik jeruji besi bersama para-para pengguna narkoba yang lain. Selain itu Randy juga harus menjalani masa rehabilitasi. Vonis yang mungkin terlalu berat mengingat Randy belum lama memakai barang haram itu.

Randy menangis saat hakim telah menjatuhkan vonis. Bahkan saat penggrebekan pun airmata itu telah jatuh dari matanya. Kini airmata itu banyak sekali mengandung arti. Penyesalan, kesalahan, ketidakmampuan, dan banyak lagi. Randy kembali memutar memorinya yang telah tersimpan balik kepalanya.

Mengapa dia harus terjerumus?Kenapa dia harus memakai barang haram itu. Lihatlah kini dia lemah tak berdaya. Pikiran Randy tertuju pada keluarganya yang hadir di dalam persidangan. Ayah, ibunya bahkan adiknya sangat marah terhadap Randy. Sangat kecewa dengan apa yang telah Randy lakukan terhadap keluarganya. Bahkan Ayahnya belum bisa memaafkan Randy. Mungkin tak seutuhnya kesalahan Randy. Orang tuanya yang terlalu sibuk dan mengabaikannyalah yang membuat Randy seperti itu. Tapi pada nyatanya, harusnya Randy tak terjebak dalam dunia hitam yang mencelakakan hidup banyak orang.

Tapi nasi telah menjadi bubur. Yang ada kini hanya menyesalan yang dalam. Randy harus menjalani masa tahanannya dan mungkin juga harus menjalani dampak sosial yang mungkin akan dia dapati dari luar sana.

***
Beberapa bulan telah terlewati. Randy banyak belajar dari teman satu selnya yang juga masih muda. Jangan pernah sekali-sekali mencoba,karena barang itu sangat mematikan, terlebih akan mematikan kehidupan kita.

Yang dipikirkan Randy hanyalah keluarganya,terlebih ayahnya yang masih saja marah padanya. Beberapa kali ibunya dan adiknya berkunjung tanpa kehadiran ayahnya. Randy berusaha meminta maaf kepada ayahnya lewat ibunya. Maaf yang sedalam-dalamnya.
“Ibu akan terus mencoba memberi tahu ayahmu, yang penting kamu harus kuat. Jangan lupa solat dan mohon ampun pada Yang Maha Kuasa.” Ibu Randy memberikan motivasi untuknya.

***
Randy kini harus menjalani bulan Ramadhan didalam penjara. Inilah kali pertamanya harus menjalani puasa tanpa keluarganya dirumah,melainkan bersama keluarga kecil barunya di penjara. Sampai saat inipun Randy belum mendapatkan maad dari ayahnya. Namun Randy tak pernah putus asa. Lewat doanya,dia memohon dengan sangat kepada Yang Maha Esa agar dibukakan pintu ampun yang sebesar-besarnya, dibukakan pintu maaf yang sebesar. Randy terus berdoa dan berusaha agar hati ayahnya dapat luluh dan memaafkan segala kesalahannya.

Dibulan yang suci inilah, Randy banyak mendapatkan hikmah dan pelajaran tentang arti kehidupan dibalik penjara. Banyak pelajaran yang dia dapatkan. Baik itu dari penjaga Lapas maupun dari sesama teman yang berada di penjara.

Ternyata semua yang diharapkan Randy itu tak kunjung tiba. Hingga satu bulan Ramadhan,ayahnya juga tak kunjung datang untuk menjenguknya. Sampai hari kemenangan yang dinantikan semua orang, para umat muslim pun tiba.

Selesai solat id berjemaah, para napi segera berkumpul bersama untuk menyantap menu-menu lebaran. Ada beberapa dari mereka yang terlebih dahulu bertemu dengan keluarga mereka yang datang berkunjung, termasuk Randy. Randy tak kuasa menahan tangisnya saat bertemu ibunya. Bersujud didepan ibunya untuk meminta ampun dan memohon maaf yang sebesar-besarnya. Dia tak mendapati sosok ayahnya hadir saat ini. Namun semuanya salah. Saat Randy bangkit dari sujudnya. Sosok ayahnya itu sekarang berada disamping ibunya. Dengan wajah yang tenang ayahnya menatap Randy.

Randy hanya diam. Dia tak berkata-kata. Dia hanya bisa menangis dan kemudian memeluk erat ayahnya. Bersujud di kaki ayahnya tersebut. Menangis terisak-isak. Ayahnya lalu menangkat tubuh putranya itu dan memeluknya dengan erat.

“Ayah maafin aku yah, aku salah. Aku janji nggak akan seperti ini lagi. Aku sayang sama ayah.” Dalam isak tangis itu Randy mengungkapkan semua perasaannya. Meminta maaf yang sedalam-dalamnya.

“Ayah kini maafin kamu nak. Ayah sadar,harusnya ayah memberikan motivasi kepada kamu,” ucap ayah Randy. ” Mohon ampunlah kepada Maha kuasa. Karena sejatinya orangtuamu itu selalu memaafkan kamu.”

Mereka bertiga kemudian terlarut dalam sebuah tangisan kebersamaan. Ketika sebuah kata maaf akhirnya dapat didengar oleh Randy dari ayahnya.

Sebuah cerita untuk #14DaysofInspirations dan #IWritetoInspire Tema : Ampunan / Maaf

16 thoughts on “Dari-Nya, Untukku dan Untuk Mereka

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s