Saat Terindah


“Din, kakak malam ini telat pulang kerumah ya. Pulang kerja kakak mampir kerumah teman mau nyelesain skripsi.” Pesan terkirim.
Aku memasukan handphoneku kedalam tas, bergegas memberhentikan bus yang aku tunggu menuju rumah teman kampusku.

*

Sudah hampir 2 bulan aku berkutat pada skripsiku, mencoba menyelesaikan semua di sela waktu kerjaku. Ya, keadaan ekonomi yang bisa dikatakan sulit, membuat aku harus bekerja untuk membantu ibuku. Tapi semua itu tak membuat aku putus asa, karena ini salah satu caraku untuk membuat ibu bahagia, yaitu menamatkan kuliahku dan mendapatkan gelar sarjana pendidikan. Menjadi guru adalah impianku, impian sejak kecilku. Impian untuk memberikan ilmu yang bermanfaat pada semua orang, terutama bagi mereka yang tak mampu untuk bersekolah.

2 minggu lagi sidang skripsi akan dilakukan. Untunglah dengan semangat yang membara, aku bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat. “Tapi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan terkadang tak mudah. Ada yang harus dikorbankan dari itu semua.” Perkataan ibu benar, semua telah kukorbankan. Tenaga, pikiran, uang, waktu istirahat, waktu berkumpul dan semuanya. Aku harus sedikit mengabaikan keluargaku bahkan saat ibu sakit, aku tak bisa ada disampingnya setiap saat.  Ibu sangat mengerti keadaan yang sedang ku alami dan Dinda , adikku bersedia untuk merawat ibu. Pada akhirnya dari semua ini, aku hanya berharap bisa mendapatkan hasil yang terbaik.

***

“Bu, doain aku ya berhasil hari ini.” Aku bersujud pada ibuku, sebelum aku berangkat untuk menghadapi. Ibu mengelus rambutku dan menciumku. Beliau memperlihatkan sebuah senyum indah, senyum seorang ibu.

“Setiap hari ibu mendoakan kamu nak.” Ibu menjawab singkat. Perkataan ibu menambah semangatku hari ini. Aku beranjak meninggalkan ibu dan Dinda. Gugup? pastinya. Tapi aku mencoba tenang saat menjalani sidang skripsiku. Memaparkan skripsiku, menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji.

Entah berapa lama aku berada di dalam ruangan, pada akhirnya aku telah menyelesaikan sidang skripsiku. Aku sangat bahagia ketika semua usahaku tak sia-sia. Aku mendapatkan nilai A untuk skripsiku. Airmata bahagia mengalir kepipiku. Aku tak berpikir banyak, segera aku ingin pulang dan menceritakan kebahagiaanku ini pada ibu dan juga Dinda.

***

” Andini Putri, Nilai 3,4 dengan predikat sangat memuaskan.” Suara itu mengalun didalam aula tempat wisuda digelar. Hatiku bergetar, ingin menangis saat suara itu terdengar ditelingaku. Lagi-lagi usahaku tak sia-sia. Aku berjalan dengan kebahagiaan luar biasa, bahkan saat kuncir wisudaku berpindah ke arah kanan.  Lagi-lagi tak banyak yang aku pikirkan. Aku ingin segera memeluk ibuku dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Saat acara telah selesai dan mahasiswa telah banyak berhambur keluar. Aku segera mengikuti mereka dan menemui ibuku ditempat yang telah sebelumnya kami janjikan. Aku telah melihat ibu dan dinda saat aku keluar. Mereka telah duduk di kursi batu tepat disamping aula. Aku berlari. Airmata telah jatuh saat langkah kaki ini menuju mereka. Aku memeluk tubuh ibuku saat tangan ini telah meraihnya. Kupeluk erat dengan segala cinta dan rasa bahagia.

“Selamat ya nak, ibu bangga sama kamu, kamu buat ibu bahagia.”  Aku hanya bisa menangis dan terus menguatkan pelukan. “Pasti Ayah kamu bangga disurga.”

“Makasih ya bu atas doanya. Makasih buat semua yang telah ibu lakukan sampe aku bisa wisuda.”

“Ibu melakukan yang harusnya ibu lakukan, semua yang terbaik untukmu. Kamu sudah membahagiakan ibu nak.”

Aku merasa ini adalah kebahagiaan yang luar biasa. Bisa punya ibu yang telah berjuang dan punya adik yang sangat mengerti. Aku bahagia bersama keluarga ini. Aku sangat senang melihat ibu tersenyum. Aku tak bisa menahan airmata ini untuk terus mengalir saat  melihat ibu dan Dinda juga menangis.

Kebahagiaan itu tak hanya hadir saat orang lain mampu membuat kita senang, tersenyum atau tertawa. Tapi kebahagiaan juga hadir saat kita bisa membuat orang lain bangga, senang, tersenyum, tertawa, bahkan menangis bahagia karena kita. Bahagia itu tentang membahagiakan.

 

Sebuah cerita untuk #14DaysofInspiration #IWriteToInspire. Tema : Kebahagiaan

dan sebuah cerita untuk Ayah dan Ibu kita yang telah berjuang demi kita.

23 thoughts on “Saat Terindah

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s