Aku Bisa..


Semua orang pasti pernah merasakan situasi terburuk dalam hidupnya. Keadaan dimana seseorang tak mudah untuk bangkit kembali melawan semuanya. Keadaan dimana keterpurukan itu menjadi momok yang paling sangat menakutkan.

***

Aku masih ingat bagaimana kecelakaan itu terjadi, Saat aku memacu motorku cukup kencang. Pandanganku terfokus pada lurusnya jalan, dan tak menyadari ada motor lain yang bergerak cepat dari arah belakangku. keadaan jalan pada saat itu tak terlalu ramai. Namun motor itu perlahan merapat ke motorku untuk memotong mobil yang ada didepannya atau lebih tepatnya disebelahku.
Brak!! motor itu menyenggolku.

Aku merasakan motorku bergerak miring tak seimbang. Kami sama-sama terjatuh. Aku tak sempat melihat kemana arah motor itu jatuh. aku merasakan tubuhku terguling-guling jauh. Sampai pada akhirnya aku merasakan sebuah hentakan yang cukup keras antara kakiku dan pembatas jalan. Aku belum merasakan sebuah kesakitan pada saat itu. Aku masih bisa bernapas didalam helm full-faceku. bernapas terengah-engah sampai beberapa orang telah berada didekatku dan membuka helmku. Seketika penghilatanku buram dan gelap. Aku tak sadarkan diri.

***

Entah berapa Lama aku tak sadarkan diri sampai aku kembali membuka mataku, melihat orang tuaku dan Mira kekasihku. Aku merasakan sakit kepala yang menusuk. begitu juga dengan tubuh dan tanganku.

“Aku dimana Yah?”

“Kamu sekarang dirumah sakit, kamu jangan banyak bergerak Za,” ucap Ayahku.

Sekarang yang kulihat adalah sosok ibu dan kekasihku yang sedang menangis. Aku tak kuasa melihat mereka menangis. Mereka duduk bersebelahan diatas ranjang tempat tidurku.

Ibuku beranjak mendekat. “Ibu bersyukur kamu bisa selamat Za.” Aku hanya bisa mencoba tersenyum padanya. Namun sesuatu yang tak kusadari sebelumnya. Aku melihat kakiku tergantung dan diikat. Aku tersadar aku tak bisa merasakan apa-apa pada kakiku.

Ada apa dengan kakiku, kenapa aku tak bisa merasakannya, batinku. aku ingin menangis dan menjerit, tapi sakit dikepalaku sudah sangat menyiksa.

“Kakiku kenapa bu. Aku nggak bisa ngerasain apa-apa.” tanyaku.  Ibuku hanya terdiam dan menitihkan airmata. “Bu, kakiku kenapa?”

“Tulang-tulang dikakimu ada yang patah Za.” Mira menjawab. aku hanya terdiam. butir-butir airmata keluar dari sudut mataku. Aku teringat saat aku merasakan sebuah hentakan keras pada kakiku.

“Tenang kok Za, kamu pasti sembuh.” Mira membelai tanganku.
***

Sudah 3 minggu saat aku terbaring dirumah sakit. aku sudah bisa merasakan tubuhku sehat kembali, namun tidak pada kakiku. Aku masih berada diatas kursi rodaku. Aku memang sudah bisa merasakan kakiku kembali akibat operasi. Namun sampai saat ini aku belum mampu betul untuk menggerakannya. Beberapa terapi sudah aku lakukan, tapi semuanya terasa percuma. Aku masih belum bisa betul menggerakan kakiku.

Brak!! aku menghempaskan handphoneku ke lantai.

“Percuma, ini nggak akan berhasil.” Aku berteriak kesal. Mira yang menemaniku, berjalan mengambil handphoneku.

“Kamu harus sabar Za, kamu harus yakin kamu bisa. Ini memang nggak mudah.”

Aku hanya menangis. “Kamu nggak ngerasainnya Mir. Sakit. Bukan hanya kakiku tapi semuanya. Aku cacat Mir.”

“Apa yang kamu pikirin saat kamu terjatuh Za?” tiba-tiba Mira bertanya padaku.

“Yang aku pikirin? ” Aku kemudian berpikir. “Aku hanya berpikir aku pasti selamat. Aku berdoa agar aku bisa selamat dari kecelakaan tersebut, ” aku menjawab.

Aku melihat Mira tersenyum. “Sekarang kamu masih bisa melihatku kan? Kamu selamat. Apa yang kamu pikir dan yakini pada waktu itu sekarang terkabul. Aku terdiam. Aku terpana mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Mira.

“Yang kamu butuhin sekarang adalah percaya. Kamu harus yakin pada dirimu sendiri. Semua orang sudah berusaha yang terbaik buat kamu sembuh. Orang tua kamu, dokter, bahkan aku. Kamu harus percaya pada dirimu sendiri Za, Kamu bisa.”

Mata Mira yang berkaca-kaca membuat aku ingin meneteskan airmata. Ada apa dengan diriku. Kenapa aku semudah ini menyerah. Batinku berteriak ingin melawan semua situasi ini.

“Waktu masih panjang Za. Kamu harus terus berusaha dan berdoa.”  Mira kemudian mendekatkan telunjuknya kearah dada sebelah kiriku. “Ingat, Percayalah pada diri sendiri.” Mira mengetuk-ngetukan jarinya didadaku, kemudian tangannya beralih kemataku dan menyeka airmataku.

Aku sadar, yang aku perlukan adalah sebuah kepercayaan pada diri sendiri. Sebuah rasa percaya untuk bangkit dan melepaskan semua hal yang dapat menjatuhkan. 

 

Sebuah cerita untuk #14DaysofInspiration #IWriteToInspire.

23 thoughts on “Aku Bisa..

  1. percaya pd diri sendiri adalah hal tersulit yg bs sy lakukan, tp sekalinya bisa percaya pd diri sendiri, yg terlihat dr sebuah masalah hnylah jalan keluarnya…

  2. tidak percaya diri itu adalah manusiawi, tapi kalau tidak segera kita otopsi ya lama2 ketidakpercayaan diri bisa menjadi momok yang menakutkan untuk masa depan kita.
    mas bro, ceritanya menyentuh.

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s