Usang yang Tak Pernah Hilang

Kepada Februari dan April yang memiliki arti.

Ini hanya sebuah surat kecil yang tersimpan rapi dalam hati. Mungkin telah usang, tapi tak pernah hilang.

Aku tak pernah ingat kapan pertemuan terakhir kita? Saat mata kita sama-sama saling tertuju. Saat senyum kita masih terlihat oleh mata kita. Satu tahun yang lalu kah?  atau kapan? apakah kamu sendiri masih mengingatnya? ah, lupakan saja.

Masih ingatkah hampir selama 3 tahun saling kita mencoba untuk menjadi satu. Namun pada akhirnya Tuhan hanya memberikan waktu yang singkat untuk menjelmakan rasa-rasa menjadi cinta yang utuh.  Itu bukan salah siapa-siapa, mungkin aku menyadari betapa keegoisan ini membawa rasa-rasa yang bersemi selama hampir 3 tahun  kepada penyesalan yang terdalam. Tapi nyatanya kamu memberikan pelajaran berharga dan sangat teramat berharga.

I tell you something. Entah kenapa. Mungkin Aku yang malas untuk menyingkirkannya atau sebagainya. Foto kita masih tertancap dalam bingkai stereofoam putih di dinding samping tempat tidurku. Foto-foto photobox kita. Kadang aku tak mengganggap itu ada. Namun terkadang aku tersenyum biasa melihatnya. Aku hanya malas untuk menggerakkan tanganku untuk menyimpannya.

Aku tak pernah banyak menyimpan harapan untuk kembali. Namun saat Tuhan memberiku satu kesempatan untuk menatap wajahmu tepat dihadapanku,  biarkan aku menyampaikan semua rasa yang masih belum sempat tersampaikan. Kapanpun itu. Mungkin hari ini, esok, 2 bulan lagi atau 3 tahun lagi. Atau Tuhan akan membiarkan semuanya tetap tersimpan rapi di balik rasa dan pikir ini. Entahlah, seperti katamu disuatu kesempatan “Hanya Tuhan yang paling Tahu arti kata terbaik”.

Sampaikan salamku untuk jalan berbatu dirumahmu..

_dyazafryan_

Lebih Indah

Kita tertawa, Pada satu kesempatan saat titik-titik kelucuan menyentuh kalbu yang menegang.

Kita bersedih, Pada saat beribu-ribu rindu hanya membeku. Tak mampu meredakan rindu yang selalu saja merasuk.

Kita berharap pada senja yang selalu menghantarkan kebersamaan kita. Karena senja mendekatkan jarak kita.
Sejenak kulihat senjaku saat senyummu mampir di pikiranku.

Ah, Senyummu lebih indah dari senjaku.

Sebuah puisi untuk hari puisi.

Plastic Rose

Hari ini puasa yang keberapa ya? haha, nggak pernah tahu kalo ditanya puasa udah yang keberapa. Tapi nggak pentinglah, yang penting niatnya puasa untuk dapet berkah.

ehm.. Hari ini telat datang kekantor. Bukan karena bangun siang, tapi karena ada sesuatu yang bikin aku nggak mau pergi kerja dulu.

itu adalah…. (suara drum) ….. Taraaaaaa….

red flower

Itu bunga mawar merah plastik. Mungkin terlihat biasa ya. Tapi itu adalah buah tangan dari tangan Nenekku. Pagi ini beliau telah duduk lesehan di teras belakang rumah untuk membuat bunga yang terbuat dari plastik, tepatnya dari kantong kresek warna merah.

Tepatnya udah mandi, belum pake baju. cuma bermodalkan handuk langsung menhampiri beliau yang asik mrobek kecil sudut -sudit kantong agar menjadi lekukan. bergegas dengan cepat mengambil kamera dan masih menggunakan handuk.

plastik

Itu kantong kresek merah yang udah dibentuk menjadi bentuk…ehmm bentuk.. (mikir) bentuk bunga.. (jawaban ngasal). Jadi bunga itu terbentuk dari lapisan lapisan kantong kresek. Beliau membuat kantong kresek itu menjadi sebuah bunga dengan bantuan lilin. Yup, hanya lilin. Eh, ralat plus korek untuk nyalain api. kalo mau pake batu kayak dijaman Flinston mungkin lebaran belum idup-idup tuh api.

candle

Sempurna, tangan yang mulai renta itu memiliki kekuatan untuk membentuknya menjadi sebuah bunga. Beliau memanfaatkan waktu kosong, memanfaatkan barang yang nggak disangka-sangka. Beliau bilang kalo bunga yang sekarang itu sangat kecil. Beliau bisa buat yang lebih besar lagi. mungkin bisa hampir satu meter. tergantung besarnya kantong plastik. Amazing grandmother.

Tapi saya tak memotret banyak, karena saya harus pergi kerja dan harus cepat-cepat berpakaian. Dan pagi ini cerita itu langsung saya post karena masih hangat.. sehangat lilin yang dihidupin pake korek.

Selamat pagi teman-teman dan selamat hari puisi. 😀

_dyazafryan_

 

Kejutan Dari Rena

Rena membetulkan letak kerah seragamnya. Ada sesuatu yang menggangu pikirannya beberapa hari belakangan. Bayangan wajah seorang gadis kecil tak mau beranjak pergi dari pikirannya. Gadis kecil itu sedang  meringkuk di depan emperan toko dekat sekolah Rena saat ia melihatnya.  Dengan bibir yang menggigil gadis itu masih berusaha melempar senyum. Entah mengapa rasa bersalah menyerangnya karena  tak sempat membalas senyum gadis tersebut.

“Pagi sayang! Siap berangkat?” suara bunda membuyarkan lamunan Rena.

“Siap bunda. Rena pergi dulu.” Rena bergegas keluar setelah mencium pipi ibunya.

“Hari ini aku harus menemui anak itu lagi” gunggam Rena

Rena melesat masuk ke kursi belakang mobil. Pak Joko, supir pribadi keluarga telah siap membawa Rena menuju sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah, mobil Rena melewati emperan tempat gadis kecil itu berada. Namun pagi ini Rena tak melihatnya. Ia memanyunkan bibir tanda kecewa.

***

Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. Tanpa menghiraukan teman-temannya, Rena beranjak keluar kelas dan langsung menuju parkiran sekolah. Disana terlihat pak Joko yang hendak menjemput Rena.

“Pak Jo, pulangnya lewat jalan tadi ya.” Dengan manis Rena meminta pada pak Joko.

“Siap Non.” Tanpa banyak bertanya, pak Joko mengiyakan permintaan Rena.

“Pak Jo, didepan toko kain itu bisa berhenti sebentar?”

“Emangnya Non mau kemana? Mau belanja? Kenapa perginya gak sama ibu aja Non?

“Psssst!” Rena menempelkan telunjuk dibibirnya. ” Rena ingin bertemu dengan seseorang pak Jo.”

“Baik Non, bapak tunggu disini ya.” Ujar pak Jo seraya mengatur posisi parkirnya.

Rena setengah berlari menghampiri gadis kecil yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Gadis itu sedang memeluk lututnya sambil bersiul rendah.

“Hai, masih ingat aku” ujar Rena sambil tersenyum.

“Ka-kamu siapa?” Gadis itu membalas dengan suara gemetar.

“Aku Rena. Siapa namamu?”

“Ana.”

Gadis kecil itu menjawab singkat pertanyaan Rena. Ia kemudian duduk, meletakkan sebuah kantong besar yang didekapnya lalu dikuti Rena.

“Kamu ngapain kok bawa-bawa kantong kayak itu?”

“Aku nyari barang-barang bekas.”

“Buat apa?”

“Buat dapet uang. Buat makan.” Jawab Ana singkat.

“Kamu nggak sekolah?” Rena bertanya kembali.

“Nyari uang buat makan aja susah, apalagi buat sekolah.” Ana kemudian bangkit kembali dan mengangkat kantong besarnya. Rena pun mengikuti.

“Kamu tunggu sebentar ya disini.” Rena kemudian berlari kecil mendekati pak Joko di tempat parkir.

“Pak Jo, Pak Jo punya uang Rp. 50.000?” Tanya Rena.

“Ada Non, buat apa?”

“Rena boleh pinjem nggak, nanti dirumah, Rena ganti ya uangnya.”

Pak Joko yang masih kebingungan hanya merohoh kantung kemejanya. Ia mengeluarkan satu lembar uang Rp. 50.000 dan memberikannya pada Rena.

“Makasih pak Joko.”

Rena kemudian berlari menghampiri Ana yang telah berjalan menjauh.

“Anaaaa!!!”

Ana berhenti seketika. Rena kemudian menarik tangan Ana lalu menyelipkan uang didalam genggamannya.

“Nanti kita ngobrol lagi ya ana. Besok pasti aku kembali.”

Rena tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Ana yang masih berdiri terdiam melihat apa yang ada ditanganya. Secercah senyum kemudian mekar indah menghiasi wajah Ana.

***

Rena masih berkutat dengan buku IPA sedari sore. Mengingat nama-nama ilmiah beberapa jenis hewan bukanlah hal mudah baginya.

“Ren, bunda boleh bicara sebentar?”

“Ada apa bunda?”

“Kenapa sudah tiga minggu ini Rena selalu pulang terlambat dari sekolah? Biasanya kan pulang jam satu Ren.”

“Rena mengunjungi teman bunda.”

“Kata pak Jo, Rena sering singgah di toko kain untuk menjumpai orang asing. Apakah itu betul sayang?”

“Orang asing? Rena bertemu Ana bunda. Dia teman Rena.”

“Tidak baik kalau Rena berteman dengan dia. Apalagi sampai memberikan dia uang.”

“Mengapa tidak baik bunda? Dia tidak punya uang untuk makan. Masa Rena biarin aja dia kelaparan? Dia jarang makan bunda. “

“Dia itu seorang gelandangan, kotor penuh kuman. Bisa saja itu akal-akalannya dia untuk menipu atau bahkan mencelakaimu sayang!”

“Mencelakai? Ana bahkan berusia lebih muda dari Rena, bunda. Mana mungkin berpikir seperti itu?

“Dunia luar itu kejam sayang. Pokoknya bunda tak mau tahu, mulai besok begitu pulang sekolah harus langsung pulang kerumah. Titik!”

Rena hanya mengganggkuk pelan. Dibiarkannya air mata mengalir dipipinya saat ibunya berlalu. Ia tak ingin lagi berkutat dengan buku IPAnya. Nama-nama latin yang berseliweran dikepalanya kini diganti dengan wajah Ana. Ia begitu khawatir pada teman kecilnya itu.

***

Sudah seminggu Rena memang tak menemui Ana. Ia  menuruti apa yang dipinta oleh bundanya. Namun kegelisahan tak mampu dikendalikannya. Rena tak dapat berhenti memikirkan teman keculnya yang sangat memerlukan pertolongan. Pak Joko pun tak ingin lagi menuruti permintaan Rena untuk menemui Ana. Supirnya itu tak ingin membuat bunda marah jika dia menuruti permintaan Rena.

Hari ini Rena yang ingin sekali bertemu Ana. Tanpa sepengetahuan pak Joko, Rena memutuskan untuk pulang sendiri agar dapat mengunjungi Ana. Ia sengaja mengambil jalan pintas agar pak Joko tak melihatnya.  Rena menyadari bahwa perbuatannya mungkin akan membawa masalah baginya. Bundanya pasti akan marah. Pak Joko pasti akan kebingungan mencarinya. Sesampainya di depan toko, Rena tak melihat sosok Ana. 10 menit berselang Ana kemudian muncul dengan membawa kantong besar yang berisi kaleng-kaleng. Ana tampak menyeret kantong yang berat tersebut.

“Hai Rena. Apa kabar? Sudah beberapa hari ini aku tak melihatmu. Kamu sedang banyak kegiatan disekolah ya? “

Rena menggeleng.

“Lantas baru pulang berlibur dari mana?”

“Bunda melarangku menemuimu.”

“Oh.” Ana hanya menjawab singkat. Terlihat kesedihan terpancar disudut matanya.

“Kamu masih mau sekolah lagi Ana?”

“Ya, tentu saja. Namun kamu tahukan masalahnya masih tetap sama Ren.”

“Kalau kamu mau, aku bisa membantumu bersekolah lagi.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku sudah bicara dengan kepala sekolah. Dia mau kok memberikan beasiswa padamu asal kamu mau belajar giat.”

“Serius?” Ana memandang Rena tak percaya.

“Iya. Besok kamu tunggu disini ya. Kepala sekolah mau menemuimu.”

“Terima kasih banyak Rena. Terimakasih.”

Airmata menggenangi sudut mata Ana. Rena tersenyum. Diraihnya sahabatnya kedalam pelukannya.

“Rena, apa-apaan kamu?” Tiba-tiba suara bundanya menganggetkan Rena dan juga Ana. ” Bunda kan sudah ingetin kamu jangan kesini lagi.”

“Tapi bun, Ana itu sahabat Rena. Rena cuma mau bantu dia buat sekolah lagi.” Rena mulai menangis.

” Bunda kan yang bilang kalo sekolah itu penting. Ana nggak bisa sekolah bun, Ana gak punya cukup uang seperti kita Bunda.”

Bunda terhanyut melihat airmata Rena. Bagaimanapun ketidaksukaannya terhadap perbuatan Rena, melihat sang putri menangis seperti itu membuat hatinya bergejolak.

“Jangan menangis lagi sayang, Bunda gak tahan melihat Rena begitu. Bunda hanya ingin selalu membahagiakan Rena.”

“Bunda ingin lihat Rena senang kan?” Sang Bunda mengangguk pelan.

“Rena senang bisa bantu Ana buat sekolah lagi Bunda.”

“Rena bantu Ana sekolah lagi?” Tanya bunda keheranan.

“Rena udah bilang sama kepala sekolah tentang Ana,dan kepala sekolah mau memberi beasiswa penuh sama Ana. Untuk tempat tinggal baru akan segera dirapatkan katanya.”

Bunda tak menyangka putrinya yang masih kecil itu bisa punya sisi kebaikan yang dalam bahkan diluar dugaanya. Matanya tergenang air kemudia sekejap memeluk Rena bahkan tak segan-segan memeluk Ana.

“Terimakasih ya sudah mengingatkan bunda lagi. Bahwa kebaikan seharusnya dilakukan tanpa pandang bulu, pada siapa dan untuk apa tujuan akhirnya. Ayo kita temui kepala sekolah sekarang saja, sepertinya dia masih di sekolah. Soal tempat tinggal bisa ibu usahakan.”

Rena mengedipkan mata untuk ibunya. Ia begitu gembira, sahabatnya Ana akhirnya bisa bersekolah lagi.

 

Tulisan Kolaborasi dengan Masya Ruhulessin untuk #14DaysofInspirations #IWritetoInspire   Tema : Kebaikan

Kita Untuk Selamanya..

“Kebersamaan itu akan selalu ada, meski mata tak saling bertatap mata.”

—-

“Aku berangkat dulu ya brothers.” Ucap Haikal sembari memeluk ketiga orang sahabatnya di depan pintu masuk keberangkatan bandara. “Jangan nangis dong.” Haikal menggoda salah seorang sahabatnya Aji.

“Aku nggak nangis kok.” ucap Aji.

“Hati-hati ya Kal, kuliah yang bener ya diJogja. Jangan pacaran aja.” Dodon memberikan wejangan pada Haikal dan kemudian tertawa.

Haikal mengangkat jempolnya. “Ok” ucap Haikal yang beranjak pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.

***

Haikal, Aji, Dodon dan Endi. Bisa dikatakan sahabat yang sudah menjadi keluarga. Berteman sejak SMP sampai mereka sekarang mulai menempuh bangku kuliah. Meski ketika SMA Dodon dan Endi tak satu SMA dengan Haikal dan AJi, tapi mereka selalu bersama. Kini Haikal mengejar mimpinya di Jogja dan meninggalkan ketiga sahabatnya untuk menempuh kuliah perfilmannya di ISI. Semua tak menjadi masalah ketika hati mereka masih menyatu sebagai saudara tak sekedar sahabat semata.

Haikal cowok yang sedikit serampangan, berani dan emosional , meski sedikit takut jika bertemu kucing. Dia tak pernah menceritakan alasannya pada sahabat-sahabatnya.  Aji, cowok kurus yang romantis dan  sangat perasa, menjadi tujuan sahabatnya untuk menaklukan hati wanita. Dodon, cowok berkacamata berambut mohawk yang gokil dan humoris namun menjadi bahan utama cacian sahabat-sahabatnya. Endi, tipe cowok pendiam, dianggap seorang yang bijak oleh sahabat-sahabatnya karena pintar, selalu bisa menenangkan sahabatnya.

Kadang mereka berpikir kenapa Tuhan bisa mempertemukan mereka dan menjadi sahabat yang sangat akrab.  Sejak  dipilih menjadi satu kelompok dalam tugas fisika sewaktu kelas 2 SMP, mereka kini menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.  Seperti hidup, semua tak selalu yang indah, bahkan persahabatan ini tak selalu indah.

Bagaimana persahabatan mereka diuji ketika adanya kesalahpahaman yang terjadi antara Aji dan Haikal.  Aji dituduh mendekati pacar Haikal ketika hubungan Haikal dan pacarnya sedang dalam masalah. Haikal yang selalu curhat pada Aji pun mencoba memberikan masukan. Seperti Haikal, pacarnyapun selalu curhat mengenai Haikal pada Aji. Entah ada kabar apa yang menyebutkan bahwa Aji dekat dengan Shelly pacar Haikal, membuat emosi Haikal. Haikal yang terlalu emosi dan tak dapat berpikir tenang justru membuat keadaan menjadi kacau.

“Brak!!” Satu pukulan melesat jatuh di wajah Aji, ketika Haikal mendapati Aji sedang bersama Shelly.

Pertengkaran pun terjadi. Aji yang merasa tak seperti dalam tuduhan Haikal dan berita yang dia dapat menjelaskan semuanya. Dodon dan Endi pun ikut campur tangan menyelesaikan masalah tersebut. Dengan penjelasan yang matang akhirnya masalah kesalapahaman itu selesai. Aji hanya menjadi perantara untuk tempat cerita mereka. Meski aji belum menjelaskan tentang masalah itu pada Haikal.

***

4 tahun sudah Aji, Dodon dan Endi berpisah dengan Haikal. Seperti yang diduga Endi berhasil menyelesaikan Kuliah Akuntansinya mendahului sahabat-sahabatnya.

“Aku wisuda nih.” Dengan bangganya Endi memperlihatkan toganya pada sahabat-sahabatnya saat acara wisuda. Bahkan Haikal meluangkan waktunya untuk kembali ke Palembang untuk menhadiri acaranya.

“Hebat kamu En. Nggak salah deh, kamu selalu ngajarin kita. Kamu wisuda duluan. Kamu menang taruhan deh.” Dodon tertawa.

“Kita foto dulu yuk, kapan lagi nih.” Ajak Aji dan merangkul sahabatnya.

***

“Aku berangkat ya Ji, Don.” Ucap Endi yang menaruh tasnya kelantai dan memeluk kedua sahabatnya didepan pintu masuk bandara.

“Wah kamu lebih jauh dari Haikal nih ke Australia.” kata Dodon yang melepaskan pelukannya. “Dari dulu aku salut deh sama kamu En, sekarang justru kamu dapet beasiswa nerusin kuliah kamu disana.”

“Iah, demi mimpi Don. Eh, Kamu jangan nangis dong Ji.” Endi menggoda Aji dan memeluknya. Aji kini tidak bisa menahan tangisannya. Diapun menangis.

“Kamu semangat kuliahnya, masa belum selesai-selesai. Mau jadi penjaga kampus ya.” Endi dan Dodon tertawa.

“Iya, tunggu aja kabarnya ya. jangan nggak pulang kalo aku wisuda,” paksa Aji.

“Tenang kita sahabat. walaupun jauh, hati kita masih tetep bersama kok.” Endi kemudian meninggalkan kedua sahabatnya dan masuk. Aji dan Dodon melihat punggung Endi yang semakin jauh, dan melambai pada mereka.

“Tinggal kita berdua Don disini. Kamu mau pergi juga ya nanti?” Tanya Aji.

“Iya Ji, nanti aku bakal pergi.”

Aji menoleh pada Dodon. “Mau kemana kamu?

“Kehatimu.” Dodon tertawa dan berlari meninggalkan Aji.

“Setan kamu Don.”

***

Sampai waktu yang lama, mereka berempat masih selalu berkomunikasi. Meski dalam jarak yang tak sama lagi, namun persahabatan yang mereka jalani selalu dekat. Aji dan Dodon akhirnya menamatkan kuliahnya. Meski Endi tak dapat menghadiri wisuda Aji dan Dodon,  tetap bisa mendengar kebahagiaan sahabatnya bisa menyelesaikan kuliah adalah suatu berita yang menyenangkan.

 

Cerita untuk #14DaysofInspirations #IWritetoInspired Tema: Persahabatan

dan untuk mereka yang selalu ingin mempertahankan persahabatannya.