Blurry Eyes


Masihkah kau merindukanku? Masihkah?

Masihkah kau menginginkanku? Masihkah?

Semua pertanyaan itu bergema dalam kepala Shera. Ada setitik noktah dalam lembar kepercayaan yang seharusnya ia jaga kesuciannya. Air mata Shera menitik. Kerinduan yang belum juga berjeda menyiksanya. Tapi ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia wanita. Dan baginya, menyatakan perasaan bukan sesuatu yang biasa dilakukan. Shera lebih suka menggali kemudian memendam perasaannya sendiri. Meski sudah pasti, ia akan terluka karena makan hati. Semua ini karena sosok lelaki itu, seseorang yang selama ini menjadi objek kerinduan Shera, yang sepertinya, rindu itu hanyalah rindu searah.

Shera terkadang benci ketika rindu itu memaksa masuk dan menguasai pikiran dan hatinya.  Namun benci hanya sebuah kata, nyatanya dia selalu menyukai rindu meski semuanya terlihat tak berarti. Kini Shera bertemankan airmata. Airmata tampak setia menemani malamnya. Bahkan sahabat sejatinya pun tak sesetia airmatanya.

“Kenapa aku terlihat bodoh karenamu?”
“Kenapa kamu tega buat aku kayak gini?” Shera membatin kesal didalam kesendiriannya bersama airmata.
“Aaaaakkkkkkk!!!!” Teriak shera dalam bantal tidurnya yang basah.

Shera terisak. Terlintas dalam pikirannya kejadian yang membuatnya berteman dengan kesedihan tiga hari terakhir. Shera yang tengah berada di sebuah mal pusat kota, terkejut saat melihat Adri, lelaki kesayangannya, sedang makan berdua dengan sahabatnya sendiri, Kia. Shera tahu mereka berdua berteman akrab, namun jika sudah seperti ini, ini terlihat seperti pengkhianatan bagi Shera. Shera mencoba tenang dan mengirimkan sms pada Adri. ‘Sayang, kamu dimana?’ Shera sangat berharap Adri menjawab jujur, misalnya, ‘Oh, aku lagi nemenin Kia, soalnya Kia perlu bantuan untuk… bla,bla,’ dan semacamnya. Shera mungkin akan lebih tenang dan berusaha percaya pada mereka berdua. Namun nyatanya, Adri berbohong. ‘Aku di kampus, sayang, lagi ngumpul sama teman-teman.’ Isi sms itu membuat Shera meradang. Baiklah, batin Shera. Ini sudah satu kesalahan.

Ingin sekali Shera melabrak mereka. Tapi Shera berpikir beribu kali sebelum melakukannya. Dia takut akan merusak suasana, termasuk suasana hatinya. Shera melangkah mundur dan menghindari mereka. Ingin rasanya Shera menangis disana. Namun keramaian membuatnya menahan laju airmatanya. Tangannya kembali sibuk untuk membalas pesan Adri. ‘Ya udah,kamu semangat ya sayang’.

Pesan itu terkirim dengan sedikit rasa sakit yang melekat. Shera menunggu balasan Adri,namun lagi-lagi Adri mengacuhkan pesannya.
‘Kenapa Adri tega begitu berbohong sama aku?’ Shera takut akan ada kebohongan selanjutnya. Ah,lebih baik aku pulang saja, kata Shera dalam hati.

***

Shera merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya. Sesekali menganti posisinya ke arah kanan, sesekali ke kiri. Shera tak tenang selama Adri belum membalas pesan dan menjawab teleponnya. Pikirannya masih menyimpan tanya tentang apa yang dilakukan Adri dan Kia tadi siang.

Terlintas dipikirannya sesuatu hal. Shera dengan cepat mengambil handphonenya yang berada tak jauh darinya. Dengan cepat tangan menekan huruf-huruf yang ada di keypad handphonenya.]

‘Kiaaaa, lagi apa?’

Kenapa dia tak bertanya saja pada Kia sahabatnya sendiri.

‘Nggak lagi apa-apa say,tiduran aja. Ada apa Ra?’

Ingin sekali shera langsung mengatakan yang sebenarnya. Namun Shera ingin tahu jawaban Kia.

‘Ngapain aja hari ini, tadi siang aku telpon tapi nggak aktif. Kamu sibuk ya?’

Shera menunggu jawaban yang akan dibalas Kia dan berharap Kia tak berbohong dengan kejadian siang tadi.

‘Iah Ra, Handphoneku mati. Aku dirumah aja seharian ini. Males mau ngapa-ngapain’

Hati Shera berdetak. Sama dengan Adri,Kia pun tak mengatakan yang sebenarnya. Shera terdiam dan meletakkan handphonenya, membiarkan pesan yang dikirimkan Kia tak terbalaskan.

Kebohongan kedua, batin Shera. Kali ini hatinya sudah remuk redam. Kalau memang mereka tak menyembunyikan apapun, untuk apa keduanya berbohong? Shera membatin. Ia sangat, sangat ingin percaya bahwa keduanya tidak sedang mengkhianatinya. Tapi, apa yang dilihatnya dan apa yang dibuktikannya menunjukkan sebaliknya. Menguatkan hatinya, Shera memutuskan untuk bertanya pada Adri. Shera takut, namun ia juga ingin tahu kebenarannya, meski kebenaran akan membuatnya sakit.

Keesokan harinya, pagi-pagi, Shera menelpon Adri. Suatu hal di luar rutinitasnya selama ini. Namun, Shera hanya ingin memastikan. Ia tak ingin terbakar prasangkanya terus-menerus.
”Sayang, kemarin kamu kemana aja?” tanya Shera, memulai basa-basinya setenang mungkin.

“Kan sudah kubilang aku ke kampus,” jawab Adri. Nadanya sedikit ketus di telinga Shera, membuat hati Shera mencelos.

“Cuma ke kampus? Kamu nggak ke tempat lain?” Adri yang ditanya seperti itu tak bisa menyembunyikan kejengkelannya. “Kan sudah kubilang dari kemarin, aku ke kampus.Memangnya ada apa sih? Kamu nggak percaya?” Kali ini suara Adri meninggi. Shera hampir menangis di ujung telepon. “

Maaf, aku cuma…”

“Sudahlah, kamu tahu sendiri kan, aku nggak suka kalau kamu terlalu posesif. Aku gerah.” Shera menelan ludah, panik. Aku? Posesif? pikirnya.

“Maaf, aku nggak bermaksud…” Suara Shera memelan. Tangisan sudah bercampur dengan suaranya. “Ah, sudahlah.” Dan suara tut-tut yang kemudian bergema di telinga Shera.

Dan disinilah Shera, tiga hari ini tanpa berhubungan dengan Adri. Ia sangat rindu padanya, meski sesak didadanya akibat pertengkaran mereka terakhir membuat Shera urung mengajak Adri berbaikan. Shera kebingungan, tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Shera mencoba menghubungi Adri beberapa kali,namun nomornya selalu tak bisa dihubungi. Beberapa pesan permintaan maaf juga telah dikirimkan,tapi hasilnya sama, nihil. Shera berniat menemui Adri secara langsung namun dia harus mempersiapkan diri. Pikirannya tertuju pada Kia, sahabatnya yang biasanya menjadi tempat curhatnya. Walaupun sedang menyimpan curiga pada sahabatnya, kenyataannya di masih sangat membutuhkan Kia untuk membantunya. Shera memutuskan untuk menelepon Kia.

‘Halo Ra’ Kia menjawab telepon Shera.

‘Halo Kia’

‘Ada apa Ra’ tanya Kia singkat.

‘Siang ini ada kerjaan nggak Kia? Mau minta bantuan nih.’ Shera bertanya balik.

‘Bantu apa?kayaknya nggak bisa deh Ra. Soalnya ada kerjaan yang harus aku selesain. Besok aja gimana?’

‘Hmm ya udah deh, kalo nggak bisa.” Jawab Shera dengan perasaan kecewa.

‘Bener nih nggak papa Ra’

‘Iah,nggak apa-apa kok Kia, Ya udah kalo gitu makasih ya Kia’

Shera kemudian menutup teleponya. Ada rasa kecewa dihatinya, namun Shera tak bisa memaksakan Kia untuk membantunya. Shera tampaknya harus berusaha sendiri untuk berbaikan dengan Adri. Shera akhirnya mengumpulkan keberaniannya dan memutuskan untuk datang kerumah Adri sore ini.

***
Shera dalam perjalanan menuju rumah Adri dengan menggunakan Taksi. Shera tak tahu pasti apakah Adri ada di rumah atau tidak. Meskipun tak ada,shera sudah berniat untuk menunggu Adri sampai pulang kerumah.
Perjalanan terasa menegangkan bagi Shera. Dia telah mempersiapkan mentalnya untuk bertemu Adri dan meminta maaf. Tak henti-hentinya shera menarik napasnya.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Shera telah sampai di rumah Adri dan melihat mobilnya sedang terparkir di depan garasi rumahnya. Pertanda bahwa Adri ada dirumah. Setelah membayar taksi, langkah kaki Shera dengan pelannya melangkah masuk. Melewati pagar yang telah terbuka dan berjalan menuju pintu masuk. Pintu rumah Adri tampak sedikit terbuka. Sekali lagi Shera menarik napasnya dalam-dalam dan meghembuskannya.

Ting-tong..
Shera menekan bel rumah Adri. Tak butuh waktu lama, seseorang kemudian hadir membukakan pintu untuk Shera.
“Shera,ngapain kamu kesini?” Ucap Adri dengan wajah kagetnya.
“Aku datang kesini buat minta maaf yang,aku kangen sama kamu.” Jawab Shera. Suaranya bergetar. Ingin rasanya dia memeluk tubuh Adri. Namun sesuatu mengejutkannya.

“Adri,Aku lapar,kitaaa..” Ucap kia yang datang dari dalam mendekati Adri. Mereka bertiga terdiam,saling memandang. Shera yang menatap Adri dan Kia sepertinya membeku. Badannya melemas. Matanya hangat.

“Shera” ucap Kia.

Ada apa lagi ini? Apa yang terjadi? Batin Shera bertanya. Airmatanya mengalir.
“Kalian ada apa sebenarnya?” Ucap Shera lirih.

“Ini nggak seperti yang kamu sangka, Sher…” Kia menyahut cepat.

“Lalu apa?!” tanya Shera. “Jangan coba bohong lagi ke aku! Aku lihat kalian kemarin di mal, makan bareng. Kalau nggak ada apa-apa, kenapa kalian bohongin aku?” tuntut Shera. Ia tak mau lagi menahan emosinya.

“Sher, dengerin aku…” pinta Adri.

“Nggak! Aku nggak mau denger satu kata dari kalian. Kalian pembohong! Sudah jelas yang sekarang kulihat, kalian masih mau membela diri?” Shera berkata dengan suara gemetar.

“Terserah kalau kamu marah-marah. Tapi kamu harus lihat ini dulu.” Adri tiba-tiba menarik tangan Shera ke dalam rumah Adri. Dan di ruang tengah keluarga itu, tampaklah berbagai macam barang yang berserakan di lantai:alat-alat kosmetik, mukena, pakaian kebaya, peralatan mandi, dan semacamnya. Selain itu tampak juga berbagai pita, plastik pembungkus, dan bermacam-macam keranjang yang telah dihiasi dengan kain berwarna putih tulang berpita emas.

“Ini…” ucap Shera dengan nafas tertahan.

“Ya, ini buat lamaran pertunangan kita. Kamu tahu kan skripsiku udah mau selesai. Tahun depan, aku mau kita nikah.” Adri menimpali.

“Jadi, kamu dan Kia nggak…” Shera menutup mulutnya dengan tangan, terkejut.

“Ya nggak lah, justru Kia bantuin aku nyiapin semua ini. Kamu pikir, bungkus membungkus begini kerjaan laki-laki?” Adri menyahut sewot.

Shera masih tak percaya. Dia rasanya ingin menangis, kali ini menangis bahagia karena tahu apa yang dilakukan Adri adalah untuknya.

“Tapi kok kalian tega banget bohongin aku,” ucap Shera.

“Ya elah Ra. Kalo dikasih tahu yang nggak surprise lah. Ini aja berantakan gara-gara kamu datang,padahal kami mau nyiapin yang lebih WOW lagi.” Kata Kia dengan sedikit tertawa.
“Eh tapi kalo lama-lama aku jadi beneran suka deh sama Adri.” Kia melanjutkan.

“Kiaaaaaa!! Jangan gitu.” Shera berteriak.
Kia tertawa terbahak-bahak. “Main-main aja Ra”

“Ya udah, aku minta maaf ya sayang semingguan ini udah bohong sama kamu. Udah buat kamu berpikir yang nggak-nggak.” Adri menggenggam tangan Shera dengan lembutnya.
“Kamu jangan sedih lagi ya.” Lanjut Adri bicara.

“Ehm, aku permisi bentar ya, mau nelpon buat pesen makan. Kalian pesen apa?” Tanya Kia.

“Apa aja deh Kia, asal enak.” Jawab Adri. Kia kemudian meninggalkan Adri dan Shera berdua. Membiarkan mereka menikmati suasana.

“Kamu jangan pernah ya ninggalin aku sayang.” Shera bicara manja pada Adri. Adri tersenyum kecil.

“Nggak akan pernah Ra,kamu lihat semua ini. Semua ini aku lakuin hanya untuk kamu, untuk kita. Bukti keseriusanku mencintai kamu.”

Shera tak sanggup menahan airmata bahagianya dan sekejap memeluk Adri. Menumpahkan segala rasanya pada pelukan itu. Adri membalas pelukan shera  dengan erat. Bagi shera ini adalah pelukan kebahagiaan Bukan seberapa lamanya pelukan Adri, melainkan besarnya cinta yang tersalurkan di setiap pelukannya.

Tulisan Kolaborasi Dyaz Afryanto (@dyazafryan) dan Jusmalia Oktaviani  (@juzzyoke)

_dyazafryan_

18 thoughts on “Blurry Eyes

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s