Potret Sebuah Cinta


Dua tahun yang lalu, senyuman itu menghampiri hidupku. Menata manis tiap sendu dan mengubahnya menjadi tawa yang tak pernah hilang sepanjang hari. Mendungku berganti pelangi yang sangat indah, menghiasi tiap sisi jiwaku yang telah lama kosong.

Dua tahun yang lalu, tangan kasarmu  itu menggenggam mesra jari – jemari lembutku. Pelukmu merubah keluh kesahku menjadi sebuah kenyamanan. Menyatukan berbagai rasa menjadi satu cinta.

Dua tahun lalu,ya itu 2 tahun yang Lalu saat dimana cinta masih setia pada segenap jiwa. Saat suara-suara surga masih mengalun indahnya.

“Semakin lama perubahan ini akan semakin besar Ra, aku ga bisa janjiin apapun ke kamu” katamu, di siang Maret beberapa bulan lalu.

Langitku mendadak gelap kembali, ia kebingungan mencari sang mentari yang entah kemana perginya. Cintaku dihapus waktu, terenggut luka yang mematikan rindu.

Semuanya lenyap perlahan. Putihku kembali kelabu yang kemudian pelan-pelan menghitam. Waktu ternyata merubah segalanya, Rasa,cinta, rindu bahkan pikiran. Tapi aku masih tak percaya dengan semuanya yang menghampiri diriku.

Saat kata-katamu menusuk bagai tombak tajam,menembus dan mengancurkan dinding cinta yang berdiri lama. “Aku harus melepaskan semuanya,Ra. Semua tak berjalan dengan semestinya.” Katamu, diakhir bulan maret saat mataku lemah menatap matamu.

Rinduku satu persatu mulai kau abaikan. Senyuman yang pernah berhasil dibuatmu pada setiap pagiku, kini kau rebut kembali. Cintaku entah dimana, aku kehilangannya lagi untuk kesekian kali. Dan kau tak pernah lagi mencoba untuk peduli.

“Ka, apa kabarmu? Kangen”

“Ka, kamu semangat ya hari ini”

“Selamat malam Ka, mimpi indah ya sayang”

Tak satupun kata-kataku mendapat balasmu. Kau acuh, kau diam, membunuhku perlahan dengan ketidakhadiranmu. Kau dingin, kau memaksaku untuk tak mengenalmu lagi.

Dan pada akhirnya semua memang harus terpisah. Kau meninggalkan tanya besar pada cinta yang ingin bertahan.

“Ra,kita harus berakhir. Maaf atas segala yang sudah menyakiti perasaanmu.” Pesan terakhir yang kau kirim sebelum akhirnya kau memang tak pernah lagi hadir.

Jarak kita semakin jauh,jauh..sangat jauh.. Dan akhirnya tak terlihat oleh mata bahkan hati. Kau menghilang. Kau lenyap seketika dan kau memang memaksaku untuk tak sekedar melupakan tapi membenci.

 

***

 

“Dia udah mati, kan udah aku bilang, kalau dia masuk ke situ, berarti dia udah mati. Kamu ga perlu ngarepin dia lagi.” Ucap Fida sedikit gemas.

“Tapi…”

Ah sudahlah, mungkin Fida benar, aku tidak akan bisa mendampingi seseorang yang hidup matinya saja tidak bisa kupastikan. Hari ini aku memilikinya, tapi esok aku belum tentu melihatnya.

Aku merakit kembali hidupku. Beberapa minggu terakhir ini aku melupakan teman-temanku, tempatku biasa berbagi tawa dan duka. Siang ini Fida mengajakku bermain bersama teman-teman komunitasnya. Aku ragu, tapi jika ini jalan yang bisa membuatku melupakan semuanya, kenapa tidak?

Ya,tak perlu takut untuk memulai semuanya lagi. Aku menuruti kemauan Fida. Yah,sesekali mengibur diri itu lebih baik.

Aku dan Fida telah sampai di alun-alun kota. Kerumunan orang-orang sempat membuatku linglung. Mau dibawa kemana aku. Fida hanya menarik tanganku dan terpaksa aku mengikuti arah jalannya.

“Itu mereka.” Ucap Fida yang tetap menarik tanganku.

Aku melihat beberapa orang disana,berkumpul. Beberapa lelaki dan perempuan juga terlihat sedang memegang kamera. Fotografi, ya seperti hobi fida yang aku tau.

Aku tak mengerti sama sekali tentang fotografi terlebih dengan kamera-kamera yang bentuk besar seperti itu. Berbeda denga kamera yang ada di handphoneku. Yah,paling tidak aku bisa menjadi model untuk difoto.

Aku seperti terasingkan, meski fida telah memperkenalkan beberapa teman-temanya padaku. Aku hanya tersenyum dan tak banyak bicara pada mereka sebelum akhirnya seseorang memangilku.

“Shera??”

 

***

Aku memalingkan wajahku mencari sumber suara itu. Suara yang sudah tidak asing lagi, terdengar akrab namun tersamarkan hiruk pikuk alun-alun kota siang ini.

“Hei” seseorang menepuk pundakku.

“Hei.. Emm” aku hanya bisa tersenyum sembari mengingat-ingat namanya.

“Aahh lupa ya? Jahat nih. Aku Dimas, kita pernah kolaborasi nulis di event Jakarta waktu itu, ingatkah?” Jawab seseorang itu.

“Oh iya, Dimas!!! Ahhh maaf, aku sedang banyak pikiran” sahutku.

“Iya aku tau kok, keliatan dari wajahmu. Kenapa? Lagi ada masalah ya?” Tanya Dimas sembari tersenyum.

Aku hanya tersenyum dan Tak menjawab pertanyaan dimas. Dimas,laki-laki yang kukenal entah berapa bulan yang lalu. Aku dan dia sempat berkomunikasi, tapi tak berlangsung lama. Kami kehilangan kabar begitu saja.

“Ra,kamu kenal ya sama dimas?” Tanya fida yang tiba-tiba menghampiri. Sedikit mencuri kesempatan memotret kami berdua.

“Apaan sih fid,hapus ah.” Ucapku. Tapi fida tak memperdulikan ucapanku.

“Kalian udah saling kenal ya?” Fida menanyakan hal itu untuk kedua kalinya.

“Iya” aku hanya menjawab singkat pertanyaan fida sebelum beranjak meninggalkan fida dan dimas untuk mencari tempat duduk.

Aku tak percaya bakal bertemu lagi dengan Dimas disni dan aku tak menyangka  kalau Fida mengenal dimas. Ah,aku menghela napasku dan melihat Dimas yang sedang sibuk berbicara dengan Fida.

Aku memandang ke segala penjuru alun-alun kota ini. Anak-anak kecil yang berlarian, para remaja, dewasa, hingga yang sudah lanjut usiapun ada di sini. Tempat ini memang sederhana, mungkin udara sejuknyalah yang membuat siapapun betah berlama-lama di sini meski matahari seterik ini.

Sampai mataku tertuju kembali pada dua orang yang masih asyik berbincang. Fida dan Dimas, entah apa yang mereka bicarakan. Aku jadi tergoda untuk ikut mengobrol bersama mereka.

Tapi belum sempat aku melangkahkan kakiku, Dimas sudah lebih dulu melihat ke arahku. Ia melambaikan tangannya, pertanda untukku mendekat.

Aku beranjak dari duduk dan berdiri. Berjalan pelan kearah mereka.

“Nah gitu dong,gabung kesini.” Fida menggodaku.

“Aku capek berdiri terus daritadi.” Jawabku.

Fida hanya tertawa mendengar jawabanku. “Oia Ra,minggu depan mau ya,jadi model poto kita.” Aku sontak terkejut mendengar permintaan Fida. Aku menaikan alisku dan menatap Fida. “Apa? Model? Nggak mau ah. Aku nggak pinter gaya.”

“Udah tenang aja, ntar dibantu gaya nya,dimas tuh pinter. Kamu nurut aja. Ya.ya mau ya. Kali ini aja.”

“Iah,wajah kamu itu pas banget kok untuk difoto. Pokoknya postur yang ideal.” Dimas menyambung ucapan Fida. Mencoba untuk mempengaruhiku.

‘Kok aku sih,kenapa harus aku. Masih banyak cewek yang lebih cantik dari aku’  kataku dalam hati,bertanya-tanya pada diri sendiri.

“Hmm,tapi aku kan..” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku,Fida memotongnya.

“Udah tenang aja,yang penting kamu mau ya?”

Ah,aku tak bisa menolak permintaan teman baikku ini. Yang ada Fida bakal terus memintaku dan memohon untuk jadi modelnya.

“Yawdah,terserah deh.” Dengan pasrah aku menerima ajakan mereka. Senyum lebar terlihat dari wajah Fida,bahkan Dimas.

***

Click.

Untuk kesekian kalinya kamera Dimas mengambil fotoku. Hari ini rasanya begitu ringan, dan menjadi model foto ternyata tidak semenyeramkan yang kufikirkan.

Dan akhirnya pemotretan selesai. Ini berarti pula bahwa project yang kita kerjakan berhari-hari lamanyapun telah selesai dan hanya tinggal bagian editing. Semuanya berjalan cukup menyenangkan dan sekarang aku tahu mengapa Fida begitu tergila-gila pada dunia fotografi ini.

Usai pemotretan, Dimas mengantarku pulang ke rumah seperti yang biasa ia lakukan beberapa hari terakhir ini. Sibuknya jadwal pemotretan, membuat kami jarang sekali mendapat kesempatan untuk benar-benar mengobrol selain di perjalanan pulang ketika Dimas mengantarku.

Dimas, lelaki tinggi berkacamata itu kini menyita banyak perhatianku. Caranya memperlakukanku membuatku sejenak melupakan segala luka yang sempat tergores begitu dalam. Dimulai dari menulis dan fotografi, aku dan Dimas kini semakin dekat. Kita mulai saling mengenal satu sama lain. Aku tak berani menebak perasaan macam apa ini, hanya saja rasanya hariku tidak lengkap bila tak mendengar tawanya.

Dimas datang disaat yang tepat,ketika jiwa ini rapuh untuk bangkit. Tawanya yang membuat hari hariku kini seperti berwarna lagi. Dimas memberi sesuatu yang baru dalam hidupku. Aku seperti menemukan mentari baru yang akan menerangi gelap masa lalu. Ah,tapi aku tak ingin cepat memastikan perasaan ini ,walaupun aku seperti merasakan sesuatu yang mungkin lebih sekedar perasaan suka. Meskipun dimas telah membuatku melupakan sejenak luka lamaku, tapi perasaan takut terkadang masih menyelimuti sebagian perasaan ini.

Kepergian Dika yang begitu tiba-tiba dan misterius membuatku banyak belajar. Bahwa memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Dika berjanji untuk selalu menjagaku, tapi Dika pergi dan memilih dunia militernya untuk masa depannya. Kata Dika ini amanah, lantas aku bisa apa selain menunggunya kembali dengan hati yang selalu hampir patah.

Dika dan Dimas, dua lelaki yang begitu berbeda. Dika mengenalkanku pada banyak hal baru, tapi Dimaslah yang selalu menemaniku kini. Aku suka cara Dimas mengisi kekosonganku. Aku suka tulisan-tulisannya, aku suka senyuman kecilnya dan alisnya yang naik saat selesai memotoku. Ah, kenapa aku jadi terbayang-bayang wajah Dimas. Hmm.

Beep beep.

Hpku bergetar, sebuah pesan masuk diterima. Dan ah, ini dari Dimas.

“Ra, aku boleh jatuh cinta ga sama kamu?”

 

Deg.

Pertanyaan itu sontak membuatku terkejut. Aku terdiam untuk beberapa saat. Ada rasa suka saat aku membacanya, tapi ada juga rasa bimbang. Jariku masih tertahan di atas tombol handphone, tak bergerak. Aku menghela napasku dan mencoba membalas pesannya.

“Maksud kamu apa dimas?”

Tak lama berselang,dimas langsung membalas pesanku.

“Aku cinta sama kamu ra dan aku ingin miliki cinta kamu utuh,kamu mau jadi bagian hidup aku,aku bakal jaga kamu ra”

Deg.

Jantungku lagi-lagi bedetak. ‘aku bakal jaga kamu’. Kalimat yang hampir sama diucapkan dika pada waktu itu.

Aku dilanda kebingungan. Aku harus menjawab apa. Aku harus bahagia atau bagaimana. Sekelumit pertanyaan tiba-tiba hadir begitu saja dikepala ku tanpa aku tahu sendiri jawabanya.

Aku mencoba menggerakan jari-jari yang kaku ini. Mencoba menuliskan apa yang ada dihati.

“Aku syg kamu. Tapi aku ingin kita jalani saja. Bukan berarti aku nggak nerima kamu. Kamu mau kan jalaninya?” Dengan pelan aku menekan tombol send pada handphoneku.

Tak perlu menunggu lama. 5 menit kemudian Dimas telah membalas pesanku.

“Apapun itu. Asal bisa sama kamu. Aku bakal jaga kamu.”

Jawaban itu terasa meyakinkan. Entah karena apa, aku seperti sedikit percaya dengan jawaban yang Dimas berikan padaku.

***

1 tahun kemudian. Dimas masih memegang janjinya untuk menjagaku. Cinta itu ternyata datang secara utuh ketika aku dan Dimas saling menjaganya. Aku tak pernah memastikan hubunganku sejak Dimas mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku. Lebih dari itu, kami percaya bahwa kami saling mencintai.

Tulisan Kolaborasi Dyaz Afryanto dan Ayu kartika untuk #ALoveGiveAway

14 thoughts on “Potret Sebuah Cinta

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s