Surprise!!


Apa Jatuh cinta itu seperti ini? Yang ada di kepala hanya dia, terus mikirin dia. Kadang senyum-senyum sendiri, bahkan nggak bisa tidur cuma karena mikirin dia. Jatuh cinta itu hebat banget. Mataku hanya terfokus padanya, pada senyumnya saat dia sedang berdiri memaparkan tugas makalah bahasa indonesia didepan kelas. Entah apa yang dia jelaskan, karena pikiranku hanya berisi-berisi tentangnya. Aku masih melamun sampai aku dikejutkan oleh ucapan teman yang berada disampingku. “Re, giliran lo tuh, melamun aja”. “eh, iya-iya maaf,” ucapku.

Aku kemudian maju kedepan kelas dengan membawa makalah ku. Aku sedikit gemetar tak seperti biasanya. Mataku terarah pada Lea yang juga menatapku. Dia tersenyum dan aku pun membalas senyumannya. Leandra, Perempuan manis teman satu kelasku di kampus. Entah mungkin karena sunyumnya aku jadi jatuh cinta padanya. Aku dan lea belum terlalu akrab mengingat kami baru berada pada semester awal kuliah. Tapi Lea telah membuat jatuh cinta padanya, Telah membuat aku menjadi salah tingkah ketika berhadapan dengannya.

Grogi. Iya, aku grogi sekarang. Bukan karena terlalu banyak orang yang menyaksikanku berdiri disini. Tapi hanya karena satu orang yang duduk manis disana, Leandra. Bahkan untuk mengendalikan diri sendiri pun aku enggak bisa. Bagaimana kalau Leandra tau aku grogi karena dia. Wah, bunuh saja aku sekarang.

Untuk mengalahkan rasa grogiku, kualihkan pandanganku ke Eza, temanku. Tatapan Eza berbeda 180 derajat dari Leandra. Matanya melotot. Dan aku yakin itu tanda bahwa aku harus berhenti grogi-grogian. Harus mulai presentasi sekarang. Iya, sekarang. Tapi Leandra? Ah, sudahlah. Anggap saja dia sedang tidur.

Tarik nafas, hembuskan. Aku mulai mempresentasikan hasil kerja kerasku selama beberapa hari ini. Makalah kali ini adalah makalah yang lumayan rumit. Aku harus lebih sering bertanya pada si google, mengobrak-abrik buku-buku di perpustakaan, mencari sumber disana sini. Merepotkan sekali. Sejatinya aku ini adalah orang yang bisa dibilang pemalas. Apalagi yang berhubungan dengan tugas seperti ini. Jauh-jauhlah dariku.

Tapi permasalahannya adalah aku, dan juga teman-teman yang lain, harus tampil sendirian membahas makalah ini. Okelah kalau tampil sendirian. Tapi sekarang ada hambatan lain. Kalian pasti tau apa itu. Yup, that girl. The one who has made my heart beats really fast.

Setengah jam berlalu. Presentasiku lumayan berhasil. Aku tampil profesional. Aku menjawab pertanyaan dari teman-teman tanpa ragu. Aku menguasai materi makalahku kali ini. Jadi, untuk tidak berhasil tampil hanya karena rasa grogi itu menurutku bodoh sekali. Dan harus aku beri tau juga kalau Lea punya sedikit andil dalam behind the scene pembuatan makalahku ini. Kemarin, entah karena nyawaku belum terkumpul semua atau apa, aku terlambat datang ke kampus.

Aku harus tiba di kampus tepat jam 7 pagi. Dan aku baru berada di tempat itu jam 8.15. Pagi itu aku benar-benar kacau. Sudah kesiangan, terlambat datang, ditambah lagi lupa membawa laptop. Padahal aku harus segera menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia itu. Pengen marah, tapi harus marah pada siapa.

Si manis itu datang lalu duduk di sebelahku. Aku tersentak, lalu menggeser sedikit kursiku. Mungkin dia heran melihat tampangku yang seperti orang kemalingan motor. Atau seperti Spongebob kehilangan rumah nanasnya. “Kamu kenapa Re? Kok suntuk gitu?” Tanya Lea heran. “Aku kacau banget hari ini. Udah kesiangan, telat, lupa lagi bawa laptop. Janjinya hari ini mau nyelesaiin makalah bareng si Eza. Gara-gara semalem nonton bola nih. Duh…” Jawabku kesal.

Lea hanya tersenyum melihatku. “Kamu simpen di flash disk gak datanya? Bawa gak flash disknya? Kalau bawa pinjem laptop aku aja. Makalah aku udah selesai semua. Tinggal di print aja. Jadi kamu bisa pinjem. Oke gak?” Benar-benar tawaran yang sangat brilian! Segera aku bongkar semua isi tasku. Dan, hap! Aku bawa flash disk sang penyelamat itu. Jadilah tim baru terbentuk kemarin. Aku dan ehem, Lea, menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia itu berdua. Janji dengan Eza tadi aku lupakan. Sengaja. Hehe. Ada orang yang lebih profesional sekaligus manis yang bisa membantuku saat itu.

****

“Hebat lu bro. Tampil dengan sempurna lu bro. Makin cinta dah tu si cewek.” Aku dan Eza sekarang terdampar di kantin langganan kami. Ditemani dua cangkir kopi hitam hangat, kami membiarkan diri kami rileks setelah serangan presentasi makalah tadi. Tapi aku sedikit kaget dengan apa yang baru saja Eza katakan. “Apa? Ngomong apa lo barusan?” Tanyaku penasaran. “Emang gue ngomong apa barusan?”. Tanya Eza balik. “Aaaah. Payah lo.”

Cuaca hari ini tidak seperti biasanya. Hari ini mendung. Awan diatas sana sudah mulai berubah warna menjadi abu-abu. Tinggal menunggu hujannya saja turun. Walaupun mendung, tapi hatiku tidak semendung yang di atas. Cerah, ceraaah sekali. Hmm, benar-benar si manis itu. Sebenarnya tidak banyak yang dia lakukan padaku. Dia seperti teman-teman cewek di kelas pada umumnya.

Dia cantik, tapi ada yang lain yang lebih cantik. Dia manis, tapi ada juga yang lain yang lebih manis. Hanya satu yang menjadi alasan kenapa dia bisa menjadi topik utama dalam kehidupanku akhir-akhir ini. Dia murah senyum. Hanya senyum. Tapi efeknya benar-benar luar biasa. Dia berhasil membuatku grogi di depan kelas. Dia berhasil membuatku memikirkannya, setidaknya saat menjelang tidur. Dia juga orang yang inisiatifnya tinggi. Terbukti ketika kemarin dia membantuku menyelesaikan makalah, menawarkan laptopnya untuk kupakai. Aku bisa bilang dia sempurna, setidaknya bagi diriku sendiri.

***

Kuliah adalah salah satunya waktu dimana aku bisa bertemu dengan Lea. Paling tidak dia yang buat aku menjadi semangat untuk belajar dan kuliah, karena aku nggak mau terus-terusan terlihat sedikit bodoh didepannya. Sesekali aku mencuri pandang kearahnya ketika dosen sedang menjelaskan, bahkan tempat duduk yang tak menentu membuat aku sesekali mengambil kesempatan duduk dekat Lea. Yah, Sesekali aku pindah dari pengaruh Eza yang selalu ingin mengajaku ngobrol disaat dosen menjelaskan. Tapi grogi selalu menyertai ketika aku berada di dekat Lea dan rasa grogi ku bertambah saat aku lihat Eza selalu ketawa sendiri ketika aku didekat Lea.
“Lihat aja lo nanti eza, ngejek aja lo,” ucapku kearah Eza tanpa suara, dan Eza tetap tak berhenti mengejekku. Eza adalah sahabatku sejak SMA, walaupun begitu, dia akan membantuku untuk terus dekat dengan Lea.
Kali ini aku dapat kesempatan untuk makan bareng Lea dan hanya berdua. Berjalan dengannya menuju kantin sempat membuat aku malu. Aku seperti berjalan dengan seorang putri yang cantik dan Lea seperti berjalan dengan seorang laki-laki berantakan. Yah, meski nggak terlalu berantakan sih, menurutku. Dan masih tetap ganteng. Hehe.
Waktu 1 jam istirahat ternyata berlalu sangat cepat. Banyak yang kami bicarakan, Tentang diri kami masing-masing dan sesekali masalah kuliah. Aku menemukan sebuah kenyamanan ketika bersama Lea, saat aku berbicara dengannya. Lagi lagi senyumnya telah menjatuhkan aku, menjatuhkan hati ini padanya.
Waktu demi waktu telah berlalu. Kedekatan ku dan Lea bisa dikatakan semakin dekat. Ujian semester pertama telah selesai. Semakin lama aku dekat dengan Lea, semakin aku tak kuasa untuk mengungkapkan rasa ini.

“Eza, bantuin gue ya ntar.” ucapku.

“Eits, bantuin apa? Semesteran udah kelar juga.”

“Bukan itu, gue mau nembak Lea, Za.” Aku kemudian tersenyum sendiri.

“Ajegile lo Re,wah ada yang nggak tahan nyimpen perasaannya nih.” Eza memukul lenganku. Tampaknya Eza lebih bersemangat dariku.

“Aduh, sakit tauk!!”

“Tenang aja, gue bakal bantuin lo Re, lo pasti diterima deh.” Entah mau percaya dengan ramalan Eza, tapi aku seperti menjadi lebih semangat.

****

“Halo, Za, lo dimana?”
Enggak ada jawaban. Aneh. Sudah lebih dari sepuluh kali mungkin aku telepon Eza. Tapi dari tadi enggak ada jawaban. Hari ini rencananya aku mau buat kejutan kecil-kecilan buat Lea. Aku sudah benar-benar siap menyatakan cinta pada Lea. Untuk memuluskan rencana, aku minta bantuan Eza yang dari kemarin sudah bersedia menjadi tim sukses acara penembakan kali ini. Tapi ‘sang Bapak’ enggak bisa dihubungi sedari tadi. Aku mulai gelisah.

Sekarang pun aku sudah ada di TKP, di pantai Ancol. Partner yang seharusnya sudah berada di sini juga enggak datang-datang. Apa Eza berubah pikiran ya? Ah, anak itu. Benar-benar.

Why I choose this place to confess my feeling? Karena pantai adalah tempat yang spesial menurutku. Orang yang akan aku beri cintaku ini juga bukan orang yang sembarangan. Dia lebih spesial dari pantai ini. Dan juga biar terkesan romantis. Lalu, fungsi Eza apa? Dia sebagai Technician yang akan menghidupkan lampu-lampu di belakangku, yang sudah diatur sedemikian rupa agar enggak dilihat Lea secara langsung. Lampu-lampu itu bertuliskan “Hey, cute girl. Would you be mine?”, yang akan hidup setelah aku bilang “Lea, ada yang mau aku tunjukin sama kamu.” Tidak lupa juga di dahului dengan basa-basi yang akan membuat Lea deg-degan. Akan ada juga kejutan lain yang lebih merepotkan Technician, yang lebih mengesankan Lea.

Persiapan sudah setengah jalan aku kerjakan. Sendirian. Aku harus bilang kalau si Eza cuma makan gaji buta. Seharusnya dia membantuku di sini sekarang. Tapi batang hidungnya saja enggak kelihatan. Tega sekali dia.

Apa ini akan berhasil? Aku harap iya. Waktu berjalan terus. Sementara itu, pria yang akan menyatakan cinta ini belum juga mendapati rekan kerjanya untuk siap menjalankan tugas. Enggak tenang. Itu yang aku rasakan. Aku terus menghubungi Eza, namun tetap enggak ada respon. Eza harus datang sebelum Lea sampai di sini. Lea baru aku suruh datang kalau Eza sudah di tempat.

Dua jam berlalu. Enggak ada yang berubah. Eza enggak kunjung datang. Aku pun enggak menghubungi Lea. Di sinilah aku dengan semua kegagalanku. Siapa yang harus aku salahkan? Eza? Sepertinya iya. Hh… Bagaimana aku menghadapi Lea besok? Harus aku simpan dimana wajahku? Entahlah.

Sebelum beranjak pergi, aku baru ingat. Aku cek nomor telepon rumah Eza di handphone. Aku coba menghubungi nomor itu, dan tersambung. Beberapa detik kemudian telepon dijawab.

“Halo?” Suara wanita paruh baya di sana. Itu pasti ibunya Eza.

“Halo, malem tante. Ezanya ada?” Tanyaku dengan nada yang tenang.

“Ada. Ini siapa?”

Beep. Telepon terputus.

Tanpa pikir panjang aku langsung tembak lurus ke rumah Eza. Tanya, apakah aku marah sekarang? Iya, aku benar-benar marah. Dari tadi bocah itu susah sekali dihubungi. Dia seakan sengaja membatalkan rencana malam ini. Kalau memang enggak mau bantu seharusnya dia bilang dari awal. Jangan baru mundur pas sekali ketika persiapan sudah setengah rampung.

Posisi sudah berpindah sekarang. Ketika aku memasuki gerbang rumah Eza, aku melihat dua orang, laki-laki dan perempuan, yang sangat aku kenal, berdiri berhadapan. Eza dan Lea. Mereka saling menatap. Mungkin karena merasa ada orang lain yang sedang memandangi mereka, mereka mengalihkan tatapan mereka ke arahku. Ke arah seorang laki-laki yang sedang kacau pikirannya.

“Oh, jadi gini kelakuan lo. Hebat ya lo. Eh bro, kalo lo enggak mau bantuin gue, bilang dari awal. Kalo lo naksir sama dia, bilang juga dari awal. Jangan kayak gini caranya. Kambing lo.” Ketahuan sekali kalau aku kecewa sekarang. Eza panik. Lea lebih panik. Sebelum Eza membalas apa yang barusan aku katakan, aku berbalik. Enggak ada yang perlu aku lakukan di sini.

Lea mengejarku ternyata. Dia menahan tanganku untuk enggak pergi dari tempat itu.

“Renald tunggu! Aku bisa jelasin ini. Jangan pergi. Aku mohon…”

Aku lihat wajah Lea yang panik sekaligus sedih. Aku enggak tahan melihatnya. Seketika aku luluh dan tetap berdiri di situ.

“Bro!” Teriak Eza dari ujung sana. Setelah itu, dia enggak melanjutkan kalimat apa pun. Eza masuk ke dalam rumah. Dan entah apa yang dia lakukan di dalam sana, cahaya terang muncul di samping tempat dia berdiri tadi. Cahaya yang sebelumnya enggak aku ketahui.

Cahaya itu bertuliskan, “Hey, cute girl. Would you be mine?”, sama persis dengan setting lampu di pantai tadi. Eza keluar lagi. “Sorry banget bro. Your planning is not taking place at the beach, but here, in front of my house. And now, time is yours boy! Hahaha!”

SIALAN!

Mataku tertuju pada si manis yang masih terlihat panik. Karena dia panik, aku pun ikut panik. Semua yang akan aku katakan seketika hilang. I feel so awkward now. Oh my, it’s all because of you Eza!

“Eeeh, Lea. Aku… Aku… Duh… Aku tuh sebenernya udah lama suka sama kamu. Tapi… aku… aku… aku milih waktu yang pas untuk bilang ke kamu.” Dag dig dug. Cuma itu yang bisa aku katakan. Benar-benar terlihat seperti orang begok IQ 50. Lea masih terdiam. Dia terlihat terkesan dengan lampu-lampu yang dibuat khusus untuknya. Matanya terlihat berbinar, sambil menatapku.

“Kamu mau enggak jadi pacar aku?” Akhirnya, poin yang sebenarnya baru keluar.
Lea tetap enggak bersuara. Dia kemudian menunduk, seakan meproses kata-kata yang akan dia sampaikan padaku. Aku pun pasrah. Siap dengan apa pun jawaban yang akan Lea berikan.

“Maaf Re, aku enggak bisa.”
Jleb. Apa yang baru saja Lea katakan benar-benar menusuk. Seperti serangan bom atom, kata-kata itu memberantas habis perasaanku. Aku enggak mengharapkan jawaban itu. Walau memang aku harus siap dengan apapun keputusan Lea. Tapi… ini… kejam.

“Gitu ya….” Kataku lemah.

“Aku enggak bisa nolak.”

Apa??? Wah, Lea-ku bisa bercanda juga ternyata. Wajahnya cerah, terang, seterang cahaya yang belum redup tepat di belakang kami.

Senyumnya yang aku tunggu-tunggu akhirnya terukir juga. Senyum itu milikku sekarang. Senyum itu…

“Lea, kamu tu ya…” Aku peluk tubuh si manis itu. Dia membalas dengan lembut. Mimpi apa, aku bisa memeluknya malam ini. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Lea bukan hanya terkepung di dalam khayalan lagi. Tapi sudah keluar ke dunia nyata, yang bisa aku rasakan kehadirannya secara nyata, dan milikku.

Terlakasanalah rencana malam ini. Si Technician ternyata enggak melupakan tugasnya. Si target juga tidak meleset. Fix. Harus aku katakan ini berhasil. Secara resmi aku umumkan bahwa Leandra adalah pacar Renald. Bukan pacar Eza. Hehehe. Aku bisa melihat senyum manis Lea kapanpun, bisa mendengar suara Lea kapan pun, bisa menatap Lea kapanpun. Karena Lea, karena Lea adalah kekasihku.

Because she is my girl. My cute girl ever. So, I promise myself to keep this relationship until I have no power anymore. I’ll protect her, I’ll do everything to make her happy. I’ll cherish all the moment by her side. The one who has made my day brighter. The one who has a sweet smile. The one who never be deleted from my mind and heart. The one I always love.

****

Masih di malam setelah acara penembakan.
“Kenapa lo enggak jadi ke pantai? Bikin kecewa aja lo.”
“Gue collapse tau lo. Kepala gue pusing berat. Gak bisa kemana-mana.”
“Aaah. Alesan lo.”
“Eh, jagain Lea baik-baik ya. Kalo lo ngecewain dia, gue sikat lo abis-abisan. Beneran deh.”
“Haha. Emang lo siapanya Lea ampe segitunya? Ada-ada aja lo.”
“Dia sepupu gue.”
“APAAAA???”

 

Tulisan kolaborasi Dyaz Afryanto (@dyazafryan) dan Rizcha Adha Rani (@tachibanarizcha) untuk #ALoveGiveAway

9 thoughts on “Surprise!!

  1. panjang… tapi gak ribet kok bacanya…

    Jawabannya Lea itu standard banget, ala-ala Katakan Cinta. hehehehe. tapi bagus kok.🙂 tadinya kirain dah twist Lea dan Eza itu dah jadian

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s