Jurnal Poetica : Mengenal Turning Point


Materi dalam kelas poetica hari jumat, 3 Mei 2013 membahas mengenai Turning Point

 

Apa sih Turning point itu?

Turning Point adalah sebuah ‘titik balik’ atau ‘pengalihan’ yang mana posisinya bisa ditempatkan pada awal atau akhir atau mungkin juga di tengah-tengah cerita.

Turning point itu juga dapat diartikan dimana cerita yang kita anggap akan berakhir, ternyata berubah atau berbelok ke arah baru.

Contoh pada kisah laskar pelangi :

Di awal, diceritakan sekolah Muhammadiyah itu tidak akan berjalan kalau muridnya tidak banyak dan tidak memenuhi kuota kan. Tokoh utama, Andrea kecil, benar-benar khawatir karena takut dia tidak bersekolah. Ikal sendiri merasa kalau impiannya bisa jadi hancur karena tidak bisa bersekolah kalau tidak ada murid baru yang memenuhi kuota kan. Nah, tapi ternyata, datang satu tokoh baru yang menyelamatkan impian Ikal dan anak-anak lai.

Cerita di awal bisa jadi berakhir kalau ternyata kuota murid disana tidak terpenuhi kan. | Cerita – Tamat | ternyata ada tokoh baru yang membuat cerita tidak tamat begitu saja.

Itu adalah masa turning point yang ditempatkan di awal oleh Andrea.

Jadi, turning point juga bisa di katakan sebagai Perubahan atau Pembelokkan cerita bahkan bisa dikatakan sebagai jalan untuk menuju sebuah konflik.

Contoh lainnya :

Kita telah membaca keseluruhan cerita dimana ada tokoh A (wanita) dan tokoh B (laki2) sepanjang di novel itu menemui banyak masalah karena tidak diizinkan menikah, dll. Tapi ternyata menjelang akhir cerita, ada peristiwa tertentu yang menjadikan mereka akhirnya diizinkan menikah.

Atau bisa kita balik contohnya. Tokoh A dan B selama ini lancar berhubungan, ternyata di akhir cerita mereka batal menikah. Kemungkinan pembatalan itu bisa banyak: selingkuh, tokoh B meninggal, tokoh A terkena musibah, dll.

 

Kita juga harus memikirkan dengan seksama turning point tersebut,  Jangan tergesa-gesa, Jangan juga terlalu lambat temponya.

Kita sesuaikan dengan proporsi yang kita butuhkan di cerita. Kemudian kita juga pikirkan kelogisan dari resolusi/penyelesaian konflik yang kita punya di dalam cerita.

 

–          Reverse Writing

Reverse writing adalah tulisan yang ketika dibalik urutannya tetap jadi satu cerita yang utuh

Contoh :

Telah cukup lama ia terpaku menatap nisan yang ada di hadapnya.  Matanya sembab dan menghitam sebab isak tangis yang tak henti. Air mata menganak sungai menembus bumi yang kering karena kemarau. Kulit bibirnya telah pecah, dengan raga yang terlihat begitu lemah.

Ketika di reverse :

Kulit bibirnya telah pecah, dengan raga yang terlihat begitu lemah. Air mata menganak sungai menembus bumi yang kering karena kemarau. Matanya sembab dan menghitam sebab isak tangis yang tak henti.  Telah cukup lama ia terpaku menatap nisan yang ada di hadapnya

 

FOR YOUR INFORMATION :

KALAU KETIKA KITA MENULIS, KITA TIDAK TERGERAK DENGAN TULISAN KITA SENDIRI. Jangan harapkan orang lain akan tergerak. KALAU KITA MENULIS DAN KITA JUGA TIDAK TEMUKAN ‘SURPRISE’ ATAU ‘KETEGANGAN’ YANG KITA INGINKAN AGAR PEMBACA RASAKAN. Jangan harap pembaca bisa ikut merasakan.

Ingat, kalau kita ingin membuat pembaca merasakan SESUATU, kita juga harus merasakan SESUATU itu dulu ketika menulisnya. Kalau kita sendiri SEDIH ketika menulisnya, pembaca akan ikut merasakan KESEDIHAN itu. Kalau kita sendiri BAHAGIA, pembaca akan ikut merasakan.

 

Sekian. Semoga Materi ini bisa bermanfaat ya😀

_dyazafryan_

5 thoughts on “Jurnal Poetica : Mengenal Turning Point

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s