Sebuah Kepastian

“Kamu mau nggak hidup di surga selamanya?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Aku mau hidup di dunia, satu hari saja, asalkan bersama kamu.”

Matanya menatap ke laut lepas, sedangkan aku masih terpaku pada senyum tulusnya. Senyum yang selama ini menenangkanku itu, tak kuasa aku menghapusnya. Entah bagaimana lagi aku harus membujuknya agar dia membatalkan perjalanan ini. Sudah berkali-kali kujelaskan bahwa melawan orangtua, terlebih ibu, adalah hal yang buruk. Aku tak ingin dia jadi anak yang durhaka, meskipun aku harus mengorbankan hubungan kami yang tak direstui ini.

Suara debur ombak yang menabrak dasar kapal memecah keheningan yang beberapa menit menyergap kami. Lalu kuraih tangan kekasihku itu. Kugenggam erat.

“Aku sungguh nggak mau kehilangan kamu. Tapi apa yang lebih berharga dalam hidup ini selain restu ibu?” kutatap matanya dalam-dalam.

“Entahlah…” dia tertunduk lesu.

Kuangkat dagunya dengan lembut. “Kita nggak harus seperti ini, sayang.”

Kedua mata kami saling memandang. Mata yang penuh ketulusan kudapati di sana. Tak ada keraguan memang, bila sebuah ketulusan kupertanyakan kepadanya.

“Aku mencintaimu…” katanya lirih.

Sontak kupeluk erat tubuh mungilnya yang berada di hadapanku. Seakan tak ingin melepasnya. Sudah terlalu banyak yang ia korbankan untuk hubungan ini. Sedangkan aku? Aku hanya mampu memberikan sejuta rasa yang tulus kepadanya.

Hembusan angin yang kian menyekap tubuh membuatku larut akan kebersamaan ini. Ingin rasanya kuhentikan waktu yang terus-menerus berputar. Kulingkarkan lenganku di pundak bidadariku. Melindunginya dari dingin malam yang kian menusuk.

“Ayo masuk, nanti kamu masuk angin,” ucapku sambil melepaskan dekapanku pelan-pelan. Lalu dengan sigap kukenakan jaket kulitku ke tubuhnya.

Setelah kami duduk di kursi penumpang, digenggamnya tanganku. “Sayang, aku nggak bisa kalau kita harus pisah.”

“Apalagi aku. Makanya aku lebih memilih pergi dari rumah,” disandarkannya kepalanya ke bahuku.

“Tapi bukan begitu caranya, sayang. Bagaimanapun hubungan kita gak akan baik selama nggak ada izin dari ibumu.”

“Jadi kita harus bagaimana?”

Aku terdiam sejenak. Aku ingat sekali air muka ibunya yang selalu tak ramah saat melihatku. Ibunya selalu bilang bahwa aku parasit, tidak memiliki masa depan, dan hanya memanfaatkan anak gadisnya demi harta keluarga. Aku sebenarnya tidak seperti itu. Hanya saja ibunya berkali-kali mengatakan kepada banyak orang bahwa aku seorang materialistis. Jadi, jangan salahkan jika aku benar-benar menjadi orang jahat karena perkataan ibu kekasihku ini.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku telah menjadi sesuatu yang buruk dimata keluarganya.

Aku tidak akan pernah menerimamu di keluarga ini!

Betapa aku akan selalu mengingat perkataan ibunya waktu itu. Ketika jari telunjuknya mengarah padaku dan mengusirku dari rumahnya.

Aku terpaksa menjalani hubunganku dengan Elina secara diam-diam, tanpa diketahui ibunya. Aku ingin sekali menyerah pada keadaan ini tapi besarnya rasa cinta yang diberikan Elina membuat aku tak ingin melepaskannya. Sampai idenya untuk melarikan diri dari rumah tak bisa dihindari. Ada rasa berdosa, tapi rasa cinta ini mengalahkannya.

Kuhembuskan napas cukup panjang, aku pun tak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Apa yang harus kulakukan untuk membuat sikap ibunya berubah terhadapku?

“Lin, kamu sekarang istirahat dulu, ya. Mungkin masih dua jam lagi kita sampai pelabuhan. Biar aku yang jagain kamu.”

“Iya, aku sudah ngantuk banget nih,” kemudian dia beringsut dari dadaku. Dua kursi kosong yang ada di sampingnya sekarang sudah menjadi kasur baginya. Kuberikan ranselku sebagai bantalnya.

Sekejap saja dia sudah terlelap begitu pulas. Aku tersenyum memperhatikan wajahnya, tapi ada kegetiran yang menjalar di hatiku. Kami pergi jauh dari rumah. Entah ke mana, tanpa tahu tujuan.

Aku melihatnya tertidur dengan damai. Seperti katanya, bersamaku adalah hal terindah baginya, meski dalam keadaan susah. Aku kemudian melihat isi dompetku dan hanya bisa menghela nafasku.

“Uang tinggal segini, bagaimana nanti aku dan Elina bisa hidup untuk sehari-hari?” aku merasa pesimis dengan keadaan. “Aku harus cari kerja nanti, paling tidak ada uang untuk makan.”

Aku menutup mataku, tak kuasa menahan segala cobaan ini. Ya Tuhan bantu aku melewati segala rintangan ini. Lama aku terdiam dan menutup mata, lalu air mataku jatuh tanpa aku perintahkan.

“Sayang kamu nangis ?”

Aku terkejut tak menyadari bahwa Elinda telah bangun dari tidurnya.

Lagi, kutatap dalam-dalam wajahnya. Ada banyak kenangan yang terekam dalam bola matanya, dan terukir semua kejadian kami di setiap lengkung bibirnya. Aku selalu teringat masa-masa itu, saat dimana ia lebih banyak mengeluarkan uang demi aku, dan ibunya tak pernah tahu. Dulu, banyak sekali tawa yang kami hasilkan, banyak suka cita. Tak peduli semua orang menganggap bahwa hubungan kami berat sebelah karena Elina lebih mendominasi. Sekarang, aku ragu kalau hubungan ini di teruskan aku akan semakin menderita karena merasa tak bisa membahagiakan dia.

“Sudah, lupakan Lin. Aku nggak nangis,” aku mengusap air mataku, segera berdiri dari tempatku. Rasanya mengirup udara laut akan lebih menenangkan.

Elina memegang lenganku segera. Memeluk tubuhku dari belakang seolah ia tak menginginkan aku pergi jauh darinya. “Kamu nggak usah memikirkan kita. Aku akan baik-baik saja selama itu bersamamu.”

Aku menghela napas panjang, membalas peluknya, kuusap lembut telapak tangannya yang kini berada diperutku. Aku membalikkan badanku, memegang mukanya yang mungil dengan kedua telapak tanganku, “Aku janji, aku janji, selama kamu bersamaku, sebisa mungkin aku akan jaga kamu. Aku janji aku akan selalu berusaha buat kamu bahagia,” ucapku lirih.

Perjuangan yang selama ini telah Elina tunjukkan kepadaku rasanya sangatlah tidak setimpal jika aku memiliki pikiran untuk berbuat apa yang selama ini sering ibunya tuduhkan kepadaku. Elinda tak sepantasnya mendapatkan balasan atas pelampiasanku terhadap ibunya.

“Iya, aku percaya sama kamu, kok,” dipeluknya lagi tubuhku.

“Kamu nggak ngantuk lagi?” tanyaku sambil membelai rambutnya.

“Nggak. Yuk lihat bintang lagi, sebentar lagi udah pagi, nanti nggak ada lagi bintangnya.” Dilepasnya pelukan pelan-pelan, lalu digamitnya lenganku. Kapal ini seperti milik kami sendiri, tak peduli tatapan penumpang lain yang memandang kami dengan sinis. Aku yakin mereka semua pasti iri dengan kemesraan kami.

Di luar, angin laut sudah tidak sedingin tadi, semburat cahaya fajar mengintip dari timur cakrawala, suara debur ombak semakin deras menghantam-hantam badan kapal.

“Sepertinya sebentar lagi kita sampai,” bisikku kepada Elina.

“Iya, itu sudah kelihatan lampu-lampu kotanya. Kamu siap, kan, kita mulai hidup baru?” dia tatap mataku penuh pengharapan.

Kapal dengan pelan merapat ke pelabuhan. Aku dan Elina bergegas turun dari kapal dan melangkahkan kaki keluar dari kapal. Aku mengarahkan mataku ke segala penjuru tempat. Mencoba mencari arah kemana kami akan melanjutkan perjalanan.

“Ini di mana sayang, kita sekarang mau kemana?” tanya Elinda kebingungan.

“Aku juga nggak tahu, yang pasti kita cari tempat tinggal dulu.”

“Sayang aku lapar,” ucap Elina.

“Ya sudah. Kita sekarang cari makan dulu ya.” Aku melihat wajah Elina yang tampak kelaparan.

“Kita ke sana aja,” aku menunjuk ke arah depan, menunjuk jauh.  Aku memakaikan jaket kulitku pada Elina, kami berjalan pelan meninggalkan pelabuhan. Elina hanya mengangguk, mengikuti saja apa yang dikatakan olehku. Aku segera berjalan menuju tempat yang tadi kutunjuk. Sejujurnya aku khawatir bagaimana kalau tempat tersebut tidak aman, bagaimana kalau ternyata kota ini tidak baik untuk kami jadikan tempat tinggal, tapi semua kekhawatiranku kututup rapat-rapat, biarlah aku sendiri yang merasakan ke khawatiran ini. Aku tak ingin melibatkan Elina.

Elina memilih makanan yang disajikan di warteg sederhana yang kutunjuk tadi. Menyendokinya ke dalam mulut dan menikmatinya.

“Tempat makan macam apa ini!?”

Kami sontak memutarkan badan kami. Suara yang tak asing lagi bagi kami, terdengar di telinga kami.

“Ibu!” Elina sesegara mungkin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, memelukku erat seakan tak ingin dipisahkan lagi oleh ibunya.

“Elina… Elina, bahkan untuk makan saja kamu di ajak ke tempat yang seperti ini. Gambaran awal kehidupanmu bersamanya saja sudah seperti ini. Bagaimana  nanti Elina?”

Aku sangat terkejut dengan ucapan orang yang selama ini sangat menentang hubunganku dengan Elina. Bagimana bisa dia berada tepat di hadapan kami sekarang?

“Kenapa, kalian heran kenapa ibu bisa berada di sini? Ibu melacak keberadaan kalian melalui GPS yang ada di handphone Elina,” seraya membulatkan matanya, ibu berucap tegas.

Aku masih terdiam dalam pelukan Elina yang dengan eratnya tak mau melepaskanku. Tubuhku gemetar, jantungku berdegup kencang tak percaya Tante Ema telah ada di hadapan kami dengan membawa beberapa orang, di antaranya berpakaian Polisi.

Tante Ema menarik tangan Elina, memaksanya melepaskan pelukannya dariku. Aku melihat Elina menangis.

“Lepasin tanganmu dari dia Elina, ikut Ibu!” ucap ibu Elina dengan lantang. Sementara dua orang polisi yang dibawa Tante Ema membantu. Pelukannya terlepas, dengan segera tante Ema memisahkan kami, dan dua polisi itu memegang tanganku.

“Kamu kami tangkap dengan tuduhan membawa lari anak orang.”

“A… a… aku tidak membawa kabur dia, Pak,” ucapku terbata-bata.

“Ah, sudah. Kamu jangan banyak alasan. Tangkap aja dia pak polisi.” Tante Ema dengan emosi berkata demikian. Aku kemudian dibawa pergi oleh kedua polisi tersebut tanpa sempat melihat Elina.

Baru saja aku memasuki mobil polisi itu, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Sepertinya berasal dari dua mobil yang berbenturan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku mengenali salah satu mobil yang berada di sana. Mobil hitam dengan nomor polisi B 3595 EF. Aku segera berlari keluar dari mobil polisi yang tak lama sebelum itu kumasuki, menyusul satu polisi yang tadi membawaku masuk berlari menuju ke tempat kejadian. Tak ada satu korban pun yang sadarkan diri dari kecelakaan tersebut. Puing-puing kaca mobil tersebar di sana. Kudapati Elina, ibunya, serta pak sopir yang biasa mengantar keluarganya kemana-mana bersimbah darah di bagian kepala.

Aku terduduk lemas. Tubuhku gemetaran. Dua polisi tak lagi memaksaku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku segera memegang tubuh Elinda. Mengguncang bahunya dengan keras agar dia sadar. Mataku terpejam.

“Yang… yang? Yang! Sayang kenapa?!” Kudengar suara Elina. Mataku sedikit berkabut karena air mata yang tidak dapat kutahan. “Abang melamun nih,” Elina mengagetkanku.

Aku menatap sekeliling. Tidak ada darah. Tidak ada orang-orang berseragam polisi. Tidak ada Tante Ema. Semua masih sama seperti saat kami turun dari kapal. Masih di tempat makan ini. Hanya yang berbeda, lampu-lampu jalan sudah mulai padam dan suasana lebih terang karena sinar matahari pagi. Melamun macam apa aku. Segera kupeluk erat tubuhnya.

“Setelah makan, kita langsung ngurusin pernikahan kita, ya, aku tidak mau ada hal buruk yang terjadi,” ucapku lembut pada Elina.

***

2 bulan setelah kejadian mimpi burukku, akhirnya aku berada di depan  ribuan pasang mata yang tampaknya bahagia melihat aku duduk bersanding di pelaminan bersama Elina.
Kualihkan pandanganku pada orang tuaku, mereka tampak bahagia. Sama seperti tante Ema, tak terlihat raut wajah kekejaman seperti dalam mimpiku waktu lalu. Aku bernapas lega, menarik napasku dalam-dalam dan mencoba menghilangkan rasa gugup yang sedikit merasukiku hari ini.

Aku berdoa dalam hatiku di tengah-tengah sang penceramah melafalkan doa-doanya.
Aku tak ingin kehilangan kebahagiaan ini. Kebahagiaan yang terindah dalam hidupku.
Di akhir doaku, lafal amin juga terdengar diucapkan oleh seluruh orang yang ada di ruangan ini. Aku tersenyum bahagia.

Tulisan kolaborasi Dyaz Afryanto, Ellya Anggraini , Uni Dzalika, Putra Zaman untuk #ALoveGiveAway.

Potret Sebuah Cinta

Dua tahun yang lalu, senyuman itu menghampiri hidupku. Menata manis tiap sendu dan mengubahnya menjadi tawa yang tak pernah hilang sepanjang hari. Mendungku berganti pelangi yang sangat indah, menghiasi tiap sisi jiwaku yang telah lama kosong.

Dua tahun yang lalu, tangan kasarmu  itu menggenggam mesra jari – jemari lembutku. Pelukmu merubah keluh kesahku menjadi sebuah kenyamanan. Menyatukan berbagai rasa menjadi satu cinta.

Dua tahun lalu,ya itu 2 tahun yang Lalu saat dimana cinta masih setia pada segenap jiwa. Saat suara-suara surga masih mengalun indahnya.

“Semakin lama perubahan ini akan semakin besar Ra, aku ga bisa janjiin apapun ke kamu” katamu, di siang Maret beberapa bulan lalu.

Langitku mendadak gelap kembali, ia kebingungan mencari sang mentari yang entah kemana perginya. Cintaku dihapus waktu, terenggut luka yang mematikan rindu.

Semuanya lenyap perlahan. Putihku kembali kelabu yang kemudian pelan-pelan menghitam. Waktu ternyata merubah segalanya, Rasa,cinta, rindu bahkan pikiran. Tapi aku masih tak percaya dengan semuanya yang menghampiri diriku.

Saat kata-katamu menusuk bagai tombak tajam,menembus dan mengancurkan dinding cinta yang berdiri lama. “Aku harus melepaskan semuanya,Ra. Semua tak berjalan dengan semestinya.” Katamu, diakhir bulan maret saat mataku lemah menatap matamu.

Rinduku satu persatu mulai kau abaikan. Senyuman yang pernah berhasil dibuatmu pada setiap pagiku, kini kau rebut kembali. Cintaku entah dimana, aku kehilangannya lagi untuk kesekian kali. Dan kau tak pernah lagi mencoba untuk peduli.

“Ka, apa kabarmu? Kangen”

“Ka, kamu semangat ya hari ini”

“Selamat malam Ka, mimpi indah ya sayang”

Tak satupun kata-kataku mendapat balasmu. Kau acuh, kau diam, membunuhku perlahan dengan ketidakhadiranmu. Kau dingin, kau memaksaku untuk tak mengenalmu lagi.

Dan pada akhirnya semua memang harus terpisah. Kau meninggalkan tanya besar pada cinta yang ingin bertahan.

“Ra,kita harus berakhir. Maaf atas segala yang sudah menyakiti perasaanmu.” Pesan terakhir yang kau kirim sebelum akhirnya kau memang tak pernah lagi hadir.

Jarak kita semakin jauh,jauh..sangat jauh.. Dan akhirnya tak terlihat oleh mata bahkan hati. Kau menghilang. Kau lenyap seketika dan kau memang memaksaku untuk tak sekedar melupakan tapi membenci.

 

***

 

“Dia udah mati, kan udah aku bilang, kalau dia masuk ke situ, berarti dia udah mati. Kamu ga perlu ngarepin dia lagi.” Ucap Fida sedikit gemas.

“Tapi…”

Ah sudahlah, mungkin Fida benar, aku tidak akan bisa mendampingi seseorang yang hidup matinya saja tidak bisa kupastikan. Hari ini aku memilikinya, tapi esok aku belum tentu melihatnya.

Aku merakit kembali hidupku. Beberapa minggu terakhir ini aku melupakan teman-temanku, tempatku biasa berbagi tawa dan duka. Siang ini Fida mengajakku bermain bersama teman-teman komunitasnya. Aku ragu, tapi jika ini jalan yang bisa membuatku melupakan semuanya, kenapa tidak?

Ya,tak perlu takut untuk memulai semuanya lagi. Aku menuruti kemauan Fida. Yah,sesekali mengibur diri itu lebih baik.

Aku dan Fida telah sampai di alun-alun kota. Kerumunan orang-orang sempat membuatku linglung. Mau dibawa kemana aku. Fida hanya menarik tanganku dan terpaksa aku mengikuti arah jalannya.

“Itu mereka.” Ucap Fida yang tetap menarik tanganku.

Aku melihat beberapa orang disana,berkumpul. Beberapa lelaki dan perempuan juga terlihat sedang memegang kamera. Fotografi, ya seperti hobi fida yang aku tau.

Aku tak mengerti sama sekali tentang fotografi terlebih dengan kamera-kamera yang bentuk besar seperti itu. Berbeda denga kamera yang ada di handphoneku. Yah,paling tidak aku bisa menjadi model untuk difoto.

Aku seperti terasingkan, meski fida telah memperkenalkan beberapa teman-temanya padaku. Aku hanya tersenyum dan tak banyak bicara pada mereka sebelum akhirnya seseorang memangilku.

“Shera??”

 

***

Aku memalingkan wajahku mencari sumber suara itu. Suara yang sudah tidak asing lagi, terdengar akrab namun tersamarkan hiruk pikuk alun-alun kota siang ini.

“Hei” seseorang menepuk pundakku.

“Hei.. Emm” aku hanya bisa tersenyum sembari mengingat-ingat namanya.

“Aahh lupa ya? Jahat nih. Aku Dimas, kita pernah kolaborasi nulis di event Jakarta waktu itu, ingatkah?” Jawab seseorang itu.

“Oh iya, Dimas!!! Ahhh maaf, aku sedang banyak pikiran” sahutku.

“Iya aku tau kok, keliatan dari wajahmu. Kenapa? Lagi ada masalah ya?” Tanya Dimas sembari tersenyum.

Aku hanya tersenyum dan Tak menjawab pertanyaan dimas. Dimas,laki-laki yang kukenal entah berapa bulan yang lalu. Aku dan dia sempat berkomunikasi, tapi tak berlangsung lama. Kami kehilangan kabar begitu saja.

“Ra,kamu kenal ya sama dimas?” Tanya fida yang tiba-tiba menghampiri. Sedikit mencuri kesempatan memotret kami berdua.

“Apaan sih fid,hapus ah.” Ucapku. Tapi fida tak memperdulikan ucapanku.

“Kalian udah saling kenal ya?” Fida menanyakan hal itu untuk kedua kalinya.

“Iya” aku hanya menjawab singkat pertanyaan fida sebelum beranjak meninggalkan fida dan dimas untuk mencari tempat duduk.

Aku tak percaya bakal bertemu lagi dengan Dimas disni dan aku tak menyangka  kalau Fida mengenal dimas. Ah,aku menghela napasku dan melihat Dimas yang sedang sibuk berbicara dengan Fida.

Aku memandang ke segala penjuru alun-alun kota ini. Anak-anak kecil yang berlarian, para remaja, dewasa, hingga yang sudah lanjut usiapun ada di sini. Tempat ini memang sederhana, mungkin udara sejuknyalah yang membuat siapapun betah berlama-lama di sini meski matahari seterik ini.

Sampai mataku tertuju kembali pada dua orang yang masih asyik berbincang. Fida dan Dimas, entah apa yang mereka bicarakan. Aku jadi tergoda untuk ikut mengobrol bersama mereka.

Tapi belum sempat aku melangkahkan kakiku, Dimas sudah lebih dulu melihat ke arahku. Ia melambaikan tangannya, pertanda untukku mendekat.

Aku beranjak dari duduk dan berdiri. Berjalan pelan kearah mereka.

“Nah gitu dong,gabung kesini.” Fida menggodaku.

“Aku capek berdiri terus daritadi.” Jawabku.

Fida hanya tertawa mendengar jawabanku. “Oia Ra,minggu depan mau ya,jadi model poto kita.” Aku sontak terkejut mendengar permintaan Fida. Aku menaikan alisku dan menatap Fida. “Apa? Model? Nggak mau ah. Aku nggak pinter gaya.”

“Udah tenang aja, ntar dibantu gaya nya,dimas tuh pinter. Kamu nurut aja. Ya.ya mau ya. Kali ini aja.”

“Iah,wajah kamu itu pas banget kok untuk difoto. Pokoknya postur yang ideal.” Dimas menyambung ucapan Fida. Mencoba untuk mempengaruhiku.

‘Kok aku sih,kenapa harus aku. Masih banyak cewek yang lebih cantik dari aku’  kataku dalam hati,bertanya-tanya pada diri sendiri.

“Hmm,tapi aku kan..” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku,Fida memotongnya.

“Udah tenang aja,yang penting kamu mau ya?”

Ah,aku tak bisa menolak permintaan teman baikku ini. Yang ada Fida bakal terus memintaku dan memohon untuk jadi modelnya.

“Yawdah,terserah deh.” Dengan pasrah aku menerima ajakan mereka. Senyum lebar terlihat dari wajah Fida,bahkan Dimas.

***

Click.

Untuk kesekian kalinya kamera Dimas mengambil fotoku. Hari ini rasanya begitu ringan, dan menjadi model foto ternyata tidak semenyeramkan yang kufikirkan.

Dan akhirnya pemotretan selesai. Ini berarti pula bahwa project yang kita kerjakan berhari-hari lamanyapun telah selesai dan hanya tinggal bagian editing. Semuanya berjalan cukup menyenangkan dan sekarang aku tahu mengapa Fida begitu tergila-gila pada dunia fotografi ini.

Usai pemotretan, Dimas mengantarku pulang ke rumah seperti yang biasa ia lakukan beberapa hari terakhir ini. Sibuknya jadwal pemotretan, membuat kami jarang sekali mendapat kesempatan untuk benar-benar mengobrol selain di perjalanan pulang ketika Dimas mengantarku.

Dimas, lelaki tinggi berkacamata itu kini menyita banyak perhatianku. Caranya memperlakukanku membuatku sejenak melupakan segala luka yang sempat tergores begitu dalam. Dimulai dari menulis dan fotografi, aku dan Dimas kini semakin dekat. Kita mulai saling mengenal satu sama lain. Aku tak berani menebak perasaan macam apa ini, hanya saja rasanya hariku tidak lengkap bila tak mendengar tawanya.

Dimas datang disaat yang tepat,ketika jiwa ini rapuh untuk bangkit. Tawanya yang membuat hari hariku kini seperti berwarna lagi. Dimas memberi sesuatu yang baru dalam hidupku. Aku seperti menemukan mentari baru yang akan menerangi gelap masa lalu. Ah,tapi aku tak ingin cepat memastikan perasaan ini ,walaupun aku seperti merasakan sesuatu yang mungkin lebih sekedar perasaan suka. Meskipun dimas telah membuatku melupakan sejenak luka lamaku, tapi perasaan takut terkadang masih menyelimuti sebagian perasaan ini.

Kepergian Dika yang begitu tiba-tiba dan misterius membuatku banyak belajar. Bahwa memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Dika berjanji untuk selalu menjagaku, tapi Dika pergi dan memilih dunia militernya untuk masa depannya. Kata Dika ini amanah, lantas aku bisa apa selain menunggunya kembali dengan hati yang selalu hampir patah.

Dika dan Dimas, dua lelaki yang begitu berbeda. Dika mengenalkanku pada banyak hal baru, tapi Dimaslah yang selalu menemaniku kini. Aku suka cara Dimas mengisi kekosonganku. Aku suka tulisan-tulisannya, aku suka senyuman kecilnya dan alisnya yang naik saat selesai memotoku. Ah, kenapa aku jadi terbayang-bayang wajah Dimas. Hmm.

Beep beep.

Hpku bergetar, sebuah pesan masuk diterima. Dan ah, ini dari Dimas.

“Ra, aku boleh jatuh cinta ga sama kamu?”

 

Deg.

Pertanyaan itu sontak membuatku terkejut. Aku terdiam untuk beberapa saat. Ada rasa suka saat aku membacanya, tapi ada juga rasa bimbang. Jariku masih tertahan di atas tombol handphone, tak bergerak. Aku menghela napasku dan mencoba membalas pesannya.

“Maksud kamu apa dimas?”

Tak lama berselang,dimas langsung membalas pesanku.

“Aku cinta sama kamu ra dan aku ingin miliki cinta kamu utuh,kamu mau jadi bagian hidup aku,aku bakal jaga kamu ra”

Deg.

Jantungku lagi-lagi bedetak. ‘aku bakal jaga kamu’. Kalimat yang hampir sama diucapkan dika pada waktu itu.

Aku dilanda kebingungan. Aku harus menjawab apa. Aku harus bahagia atau bagaimana. Sekelumit pertanyaan tiba-tiba hadir begitu saja dikepala ku tanpa aku tahu sendiri jawabanya.

Aku mencoba menggerakan jari-jari yang kaku ini. Mencoba menuliskan apa yang ada dihati.

“Aku syg kamu. Tapi aku ingin kita jalani saja. Bukan berarti aku nggak nerima kamu. Kamu mau kan jalaninya?” Dengan pelan aku menekan tombol send pada handphoneku.

Tak perlu menunggu lama. 5 menit kemudian Dimas telah membalas pesanku.

“Apapun itu. Asal bisa sama kamu. Aku bakal jaga kamu.”

Jawaban itu terasa meyakinkan. Entah karena apa, aku seperti sedikit percaya dengan jawaban yang Dimas berikan padaku.

***

1 tahun kemudian. Dimas masih memegang janjinya untuk menjagaku. Cinta itu ternyata datang secara utuh ketika aku dan Dimas saling menjaganya. Aku tak pernah memastikan hubunganku sejak Dimas mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku. Lebih dari itu, kami percaya bahwa kami saling mencintai.

Tulisan Kolaborasi Dyaz Afryanto dan Ayu kartika untuk #ALoveGiveAway

Rindu dalam asa

Hitam yang aku suka. Manis yang terselip dikala aku menyeruput pelan kopi hitam kesukaanku. Setiap waktu,setiap saat pagi menampakan senyum hangatnya, membelai lembut kulitku dengan sinarnya yang belum terlalu menusuk. Dibalkon kamarku, masih dapat kunikmati setiap teguknya seraya menikmati ciptaan terindah sang pencipta, Dunia.

“Rangga..” Aku mengalihkan pandanganku dari indahnya langit biru menuju sumber suara, tepatnya di bawah, dipagar rumah. “Kenapa ma?” Sautku dari balkon kamarku dengan suara sedikit lantang. Aku menyeruput kopiku kembali. “Kamu nggak kerja?” Tanya mama. “Nggak ma,aku cuti kerja 1 minggu, mau istirahat.” Jawabku dan memutarkan tubuhku kesudut dimana mama berada. Aku melihat mama menutup pagar rumah dan berada pada sisi luarnya. “Yawdah,kamu jaga rumah bentar ya, mama mau kerumah tante Risa bentar,ada urusan.” Mama melambaikan tangannya dan berbalik memunggungiku, berjalan dengan langkah santai meninggalkan rumah. Tak sempat ku ucapkan hati-hati, mama sudah tak terlihat. tegukan kopi terakhir sebelum aku berlalu dari balkon kamarku.

Aroma kopi yang kini menyebar seantero ruangan seakan membawaku melayang. Memberi sensasi yang hanya aku yang mengerti. aku kini menikmati kopi, bahkan saat aku tersiksa karenanya. Aku kini menyukai kopi karena kau begitu menyukai rasa kopi. Aku ingin mengenangmu,mengenang cintamu meskipun menyakitkan. Aroma kopi membuatku membayangkan senyum menawanmu,aroma kopi membawaku kepada cinta yang ingin ku rengkuh. Saat aku mencecap aku merasakan sensasi manis,pahit yang lekat. Setiap tegukan yang mengalir melewati rongga lidahku seakan mengingatkan perjalanan cintaku. Cinta yang menyakitkan. Seperti cintaku padamu. Aku menikmati saat rasa pahit,pahit yang tetap bertahan di saat manis mengambil alih. Ah, aku menyukai kopi,karena kopi membuatku menyadari. Cintamu tidaklah nyata.

Menyendiri tak sepenuhnya lepas dari sebuah aroma masa lalu. Bahkan dia mendekat lebih cepat padaku. Raut wajahmu terbentuk dalam sela aku terdiam. Membuka ruang kebencian,kesakitan, dan keindahan.
Hahaha, aku tertawa. Entah apa yang aku tertawakan. Aku seperti orang gila dengan 3 cangkir kopi yang telah kuhabiskan. Hanya ampasnya yang kusisakan untuk dibuang. Dan kenangan itu seperti ampas. Namun tak bisa aku membuangnya.

Saat kenangan itu kembali , aku hanya bisa berharap. Aku dalam tidur. Hingga saat aku terbangun semuanya hilang tak berbekas. Namun relakah aku?

Jika seteguk saja telah membawaku pada segala rasa. 3 cangkir kopi seolah ingin menyadarkanku. Aku seperti terperosok dalam jurang asa.
Sepertinya aku hanya bisa menjadi malammu. Tak kan pernah mungkin menjadi siang.
Seperti pahitnya kopi tak mungkin bersatu dengan manisnya teh.
Namun tak selamanya malam itu gelapkan?
Ada bintang meski hanya memberi keindahan. Ada rembulan yang menyinari meski dengan redup. Kopi tak selamanya pahit dan teh tak selamanya manis.

Namun kopi pahit akan menyadarkanku bahwa selalu menyakitkan mengenangmu. Namun apapun yang aku rasakan kini,aku tetap kembali meneguk rasa pahit.
kenangan yang selalu menghantuiku saat aku merindukan kehadiranmu.
Tak bisa lepas karena aku yang tak ingin melepaskan. Kenangan yang tak bisa aku buang, karena aku terlalu sakit kehilangan.

Aku ingin memiliki harapan itu. Harapan akan kembalinya cintaku yang telah hilang. Aku terhuyung, tak perlu bergelas-gelas minuman beralkohol untuk membuatku mabuk. aku melangkah dan tak hentinya bibir ini menghamburkan tawa. Aku ingin berteriak membencimu. Ingin menjerit dengan suara yang melengking. Aku ingin mengatakan,aku membencimu karena membuatku seperti ini.
arrrrh kenapa harus aku yang tersiksa akan segala yang berkaitan akan dirimu? Hah.Tapi aku tidak bisa.

 

***

Tok.tok

Pintu kamarku diketuk,seraya suara orang yang kucintai satu-satunya memanggilku.
Aku berjalan dan membuka pintu kamarku perlahan.
“Kenapa ma?” Tanyaku.
“Makan udah siap dibawah,kamu makan sana gih,dari tadi nggak keluar kamar.”
“Iah ma,nanti aku kebawah ya.”
Mama beranjak turun meninggalkan kamarku dan aku kembali menyendiri.

Terkadang untuk makanpun aku tak punya waktu. Waktu dan pikiranku hanya tertuju pada wanita itu. Wanita yang kini mungkin telah menemukan kebahagiaan baru. Menikmati kopi hitam manisnya sendiri atau mungkin dengan seseorang yang baru. Sedangkan aku disni,terjebak dalam cinta yang ingin aku hadirkan lagi meski aku tau tak mungkin. Ketika aku mencoba membencimu,aku teringat akan baikmu. Ketika aku ingin mencintaimu lagi, kebenciaan dan kesakitan itu menyergap menghalangi.

Aku menangis, akhirnya aku bisa menumapahkan airmata yang telah terpendam. Mengantikan tawa semu yang akhirnya kalah. Aku tak lemah,mungkin aku hanya telah lama berjuang dan seperti gagal. Tetes-tetes airmata jatuh kedalam kopi hitam yang ku genggam. Aku tertunduk, terisak, kopi hitamku kini terluka. Cinta harusnya tak menyakiti,tapi nyatanya cinta selalu berakhir menyakitkan. Cinta harusnya tak membuat luka,tapi aku terluka. Apa kehadiranku hanya untuk kau sakiti?

Cinta yang harus aku pertahankan bahkan tak mampu aku genggam.
Aku merasa bodoh karena telah buta akan cinta. Bahkan aku terlalu bodoh dengan menyiksa diri. Apakah ini namanya cinta. Harus kemana aku pergi? Harus kemana aku aku mencarimu? Diantara debu yang berterbangan. Ah aku ingin membenci cinta ini karena telah membuatku tak berdaya.
Jangan sembunyi dariku. Jangan tinggalkan aku saat aku ingin mendepmu erat. Erat..sangat erat. Ketika aku ingin menggeggammu erat,kau tancapkan duri tajam yang membuatku terluka. Lagi-lagi aku tak mampu meraihmu kembali. Lagi – lagi kau melangkah jauh ketika aku mendekat.

Aku menyadari semua telah hilang ketika aku tau cintamu memang tak lagi ada untukku. Kau menggenggam sebuah cinta baru yang lebih indah,menurutku, dan yang aku lihat. Kau memperlihatkan tawa, canda dan bahagia yang semestinya untuk kita,aku dan kamu. Tapi semua berbeda,itu semua bukan untukku.

Kopi hitamku kini tak semanis cerita cinta kalian. Ada rasa pahit yang terselip didalamnya,aku menyebutnya kesakitan. kesakitan atas cinta yang terkhianati.

Memang mudah menyalahkanmu atas sakitku. Sungguh aku hanya ingin kau tau,semua sakitku adalah kamu.
tapi kini aku menyerah. Menyerah tak ingin berlari lagi, aku menyerah tak ingin mengenangmu. Setahun waktu yang aku berikan untuk hatiku sebelum aku menghapus segala kenangan akan hadirmu. Aku lelah selalu terjebak dalam cintamu. Meskipun aku akan merindukan belaian tanganmu. Meskipun aku akan merindukan dekapanmu. Namun segala nyata harus aku raih.
Kopi yang pahit akan selalu pahit. Namun aku tak harus mencecap bukan?

 

***
Pagi kembali hadir menerangi dunia yang sebelumnya gelap oleh malam. Memberi keajaiban dikala mentari tersenyum dengan lebarnya. Tanganku menggenggam secangkir kopi hitam. Kopi hitam yg kini berisi cinta yang baru.

Ya,ini hanya akhir cintaku untuknya, dan awal cinta yang baru untuk seseorang yang baru. Aku tersenyum. Kali ini aku benar-benar tersenyum dengan arti bahagia.  Aku langkahkan kaki ku keluar kamar. menuruni setiap anak tangga. Mama sedang asyik mengobrol dengan tante Risa yang datang bersama seorang wanita.

“Rangga”. Pangil mama ketika aku telah mencapai anak tangga terakhir. Aku mendekati mereka.

“Rangga kenalin nih,keponakan tante baru pindah kesini.” Tante memperkenalkan.

Aku ulurkan tanganku. “Rangga” kataku.

“Rindu” ucapnya.  Kami berjabat tangan. Senyum manis diperlihatkan wanita berlesung pipit dengan rambut sebahu itu,dan aku membalas senyumnya.

“Rangga kedepan dulu tante, mau jalan-jalan bentar keliling komplek,” ucapku yang kemudian berjalan menuju pintu keluar. Mama memanggilku ketika aku melangkahkan kaki keluar. “Rangga,sekalian nih ajak rindu keliling juga ya.”
aku tersenyum dan berkata dengan santainya.

“Ayo”.

 

Tulisan kolaborasi dyaz afryanto (@dyazafryan) dan Aini W.K (@baelovesee) untuk #ALoveGiveAway

Kopi Hitam dan Keajaiban.

“Baby you know that, maybe it’s time for miracle” – Adam Lambert (Time for Miracle)

Secangkir Kopi Hitam menemani pagi yang telah bertukar menjadi siang.  Masih ada Sekitar setengah cangkir lagi sebelum aku menyeruputnya untuk terkahir, menyisakan ampas hitam yang mungkin tak berguna lagi. Kebiasaan lama yang kini hadir lagi, kopi hitamku.

Apa yang kau tinggalkan pada suatu waktu, mungkin saja bisa kembali lagi disaat nanti. Ketika Kopi hitam tergantikan oleh manisnya teh hangat. Pada saatnya nanti kopi hitam bisa kembali mencuri hati. Kopi hitam kesendirian. Kopi hitam yang dulu menemani untuk bicara tentang manisnya teh hangat. Dan sekarang mereka menemani saat kesendirianku, Kopi hitam Saat pagi dan Manisnya teh hangat saat sore.

Semuanya bisa terjadi dan keajaiban itu ada. Keajaiban itu ada ketika kamu percaya.

Dan tentang kamu. Keajaiban terkecil itu adalah ketika aku melihat kau tersenyum. tersenyum meski dalam bentuk tulisan dan ikut membayangkan kau tersenyum.

tentang rasa hari ini, pada saat rasa panas hilang oleh hujan yang turun secara tiba-tiba.

_dyazafryan_

Mereka adalah Keluarga

Sahabat..

Mungkin Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, mungkin yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

Menjaga sebuah persahabatan diantara sifat yang berbeda beda. Ada ketika saling membutuhkan.

Tak peduli bagaimana latar belakang, sahabat sejati akan selalu menghargai kekurangan dan kelemahan.

Tak selamanya indah, Ada emosi, ada salah paham, ada kesalahan yang terjadi. Sahabat sejati juga akan saling memafaakan.

Seperti sebuah kalimat kecil :

Lebih baik kamu pukul sahabatmu yang benar-benar salah, tapi Jangan pernah kamu ninggalin mereka“.

Mungkin kita tak sekedar sahabat semata, Kita itu keluarga. 🙂

 

Tulisan kecil yang aku dedikasikan buat sahabat-sahabat terbaikku.

_dyazafryan_

Lagi dan lagi..

Lagi lagi aku merindu. Tak hentinya ku merindumu. Menyisipkan rasa pada butir butir hujan yang turun menghujam.

Entah ini sudah keberapa kalinya aku mencoba menitipkan rindu pada angin yang dengan lembutnya berhembus. Berharap sang angin dengan setia membawa rindu ini padamu yang jauh.

Apakah benar kita jauh?? Yah,kenyataannya iya. Tapi rindu tak mengenal arah. Rindu mendekatkan rasa pada mata yang tak saling memandang. Rindu melekatkan jiwa pada tangan yang tak saling bergandengan.

Aku menunggu rindu. Menunggu saat angin membelai pipiku dan membawa rindumu yang mungkin juga kau titipkan.

Aku menutup mataku, berdiri tegap dan menghela nafasku untuk beberapa saat. Menikmati angin dan bertanya dalam hatiku.

Ah, apa kau juga merinduku. Seberapa besar??

_dyazafryan_