Love and Hurt – The Choice


Hari telah pagi,sinar matahari masuk dengan lembut ke kamarku, sinarnya masuk dan menerangi seisi kamarku ini. Hari ini senin,dan hari ini aku punya semangat lebih untuk menghadapi sekelumit pekerjaan yg menumpuk. Banyak data-data keuangan yang harus diselesaikan. Bekerja sebagai seorang akuntan kadang membuat aku pusing, but indeed I enjoy it dan mungkin aku akan semakin menikmatinya. Aku telah berpakaian rapi, kemudian aku memasangkan dasi bercorak garis-garis dibalut warna biru langit ke leherku, seraya aku memikirkan sosok seorang wanita, wanita yang satu bulan ini telah membuat aku tersenyum bahagia. “ Ahh, sedang apa dia sekarang ya?, mungkin sama sepertiku yang sedang bersiap-siap untuk bekerja” Kataku dalam hati. Aku telah selesai merapikan diri, aku kemudian mengambil tas kerjaku dan beranjak menuju mobil honda jazz merahku. Aku siap menuju kantorku dan melihat senyum manis seorang wanita bernama mira. Mira adalah partner kerjaku dikantor, kita sama-sama berada di bagian akunting. Sudah sebulan ini aku dekat dengan mira. Yah, paling tidak bisa dibilang lebih dari sekedar partner kerja dan dia merespon dengan baik.

Aku telah sampai kantorku,memarkir mobil dan beranjak masuk. Kemudian aku melihat Mira berjalan menuju lift, tanpa pikir panjang akku segera menyusulnya.

“Hai Mira” aku menepuk bahunya..

“Eh Edo ,kamu ngaggetin aja” katanya. Aku hanya tersenyum.
“Maaf ya Do,bbm smlm nggak dbales, akunya ketiduran”
” Nggak papa kok Mira”.”Eh nanti kita makan siang bareng lagi yuk,”
pintaku..
“Boleh-boleh, kita makan sate didepan aja ya” jawab Mira
“Oke”. aku menjawab pendek
Pukul 12 siang, aku dan Mira pergi untuk makan siang bareng di warung sate yang terletak didepan kantor kami.
“Do,nanti hari minggu dateng ya kerumah. Mama buat acara makan-makan kecil-kecilan. Aku juga ngajak teman teman aku kok.pokonya rame”  Mira berbicara disela sela acara makannya.
“Hmm.minggu ya, oke deh.Aku usahain dateng nanti ya”,
Aku tersenyum..
Yok,kita makan dulu Mira..


***
Hari senin lagi,aku masih malas meninggalkan kasur dan bantalku yang menemaniku sepanjang malam. Aku selalu jengkel dengan hari yang selalu disebut senin itu. Tapi bagaimanapun aku masih ingin medapat gaji tiap bulan untuk menunjang hidupku dan memenuhi hobiku kini,hobi baca dan hobi travelingku. Aku melangkah memasuki kamar mandi dan membiarkan air dingin mengguyur tubuh mungilku.
Jam sudah menunjuk angka 8,ah telat lagi kan. Aku berlari lari kecil dan tersenyum meminta maaf,bos telah duduk di mejanya dan memandangku dengan tatapan yang seolah olah berkata “kamu terlambat lagi Na!” dengan pandangan bos yang seperti itu mau tak mau aku semakin membenci hari senin.
Siang hariku pun rasanya belum membaik, namun senyumku segera merekah,sahabat baikku memberi kabar kalau hari minggu ada acara di rumahnya. Batinku bersorak dengan riang,biarlah kalau dipikir aku norak,tapi aku tidak akan pernah melewatkan acara makan makan di rumah Mira.

Makanan yang melimpah selalu membuatku ingin bersorak gembira,apalagi masakan tante Mutia mamanya Mira sungguh enak. Membayangkan saja aku sudah tersenyum gembira. Buru-buru aku membalas pesan Mira. “Oke Mir,aku datang,tapi mungkin ga dari awal yah,aku mau beresin kamar,kamu kan tahu aku paling malas beberes kalau hari kerja.”

“Iya-iya,kamu memang gadis pemalas! Tapi kamu harus datang yah,awas kalau engga!”

Aku kembali tersenyum . Mira sahabatku selalu mengerti diriku,menerimaku apa adanya. Benar,aku gadis yang manja dan pemalas ini.
***
Hari minggu pun tiba dan pastinya aku akan datang kerumah Mira. Acara dimulai siang hari namun aku sudah bangun pagi sekali. Aku punya banyak waktu untuk menunggu dan mempersiapkan diri.
Aku memilih untuk memakai kemeja santai hari ini. Kemeja kotak-kotak lengan pendek, jeans hitam dan sepatu kulit. Aku berpakaian cukup rapi,aku tak ingin mengecewakan Mira,bagaimanapun aku cukup bangga Mira mengundangku dan mengenalkan aku kepda keluarganya. Pukul 12 siang aku berangkat menuju rumah Mira. 20 menit perjalanan santai dan akhirnya aku sampai dirumah Mira. Sudah banyak mobil yang terparkir didepan rumah Mira,pertanda sudah banyak orang yang datang. Aku kemudian masuk. Mataku mencari Mira ke kanan dan ke kiri. Aku berjalan menyusuri beberapa orang yang tak kukenal. “Do”, aku mendengar suara wanita dari arah kanan memanggilku, dan itu Mira. Tangannya mengisyratkanku untuk kesana menghampirinya.
“Hai Mira”,ucapku.
“Hai Do, kamu ganteng banget pake kemeja itu”. Mira merayuku.
“Terima kasih Ra,kamu juga cantik banget,pake dress bunga-bunganya”,aku memujinya. Tak lama aku pun berkenalan dengan mama dan papanya Mira,mereka cukup ramah sebelum berlalu meninggalkan kami untuk menyapa tamu lain.
Aku dan Mira berbincang sambil menikmati minuman kami…

***

Hari minggu adalah hari dimana aku memanjakan diriku dengan tidur sepuasnya. Setelah terbangun subuh tadi aku terlelap dan menikmati mimpi indahku. Aku tidak pernah merasakan sinar mentari mengintip celah jendela kamarku,aku memang dengan egois menutup rapat jendelaku. Hawa yang sejuk dari pendingin ruangan membuatku semakin berpetualang di alam mimpi. seperti bunyi sirene membengkakkan telingaku dan membuatku terlonjak kaget,kulempar selimut dan aku sudah bersiap siap berlari keluar. Sial! Ternyata bunyi hapeku yang meraung-raung .

“Hallo Mir.” Jawabku dengan suara mengantuk.

“Na,sudah bangun kan? Jangan bilang kalau kamu jam segini belum bangun ya?” Aku tertawa membayangkan wajah sahabatku yang menyerngit jengkel itu.

“Iya,aku kesiangan”.

“Ah cepat mandi,trus cepat kesini.” Aku mengangguk lupa kalau Mira tidak melihat.
Aku memandang kamarku yang sudah seperti kapal pecah,menyerngit membayangkan betapa joroknya isi kamarku. Aku bukannya gadis jorok meskipun sedikit pemalas,bukan,hanya saja setiap hari kerja pulang malam membuatku kelelahan.
Aku kaget,sudah jam 3 dan aku baru meninggalkan rumah mungilku. Aku berlari mencari taxi,hari minggu tidaklah terlalu macet,aku berharap tidak terlalu terlambat.

“Aku sudah di taxi kok,sabar kenapa sih?” Aku membalas pesan mira yang kesekian kalinya. Mira kenapa sih tumben jadi cerewet begini? Aku melirik ke kaca sepion depan. Lumayan cantik kok batinku. Seperti biasa aku menguncir rambutku yang panjang hingga menyerupai ekor kuda . Mengenakan kemeja hijau dan sepatu kets. Aku tersenyum membayangkan reaksi Mira,dia pasti akan menjitak kepalaku.
Aku berlari-lari dan berteriak cukup kencang. Sebuah mobil yang tidak berlari kencang tiba-tiba mengklaksonku,padahal aku jalan disisi yang benar. Aku menggedor pintu dan memakinya. “Mas gila ya?” Ucapku dengan wajah memerah karena marah dan kaget. Untunglah orang yang aku maki itu tidak membalasku,dia hanya menyeringai seakan menggodaku.
Aku sampai dirumah Mira dengan sisa sisa kejengkelan tadi. Kulihat Mira sedang mengobrol dengan sesorang. Aku mendekatinya dan melihat wajah Mira yang berbinar binar,cantik dan anggun,Mira sedang tertawa bahagia,entah apa yang sedang mereka bicarakan . Aku mendekatinya,“hai,sory… aku terlambat.”
***
Aku masih asik berbincang dengan mira,dan kami sangat menikmati obrolan kami, sesekali tertawa. Mataku teralihkan kepada seseorang yang datang menuju kearah kami. Seorang wanita dengan rambut kuncir kuda dan kemeja hijau dengan nafas terengah-engah menghampiri kami.
“Nana!!” Teriak mira. “Kamu ini selalu telat, coba kalo aku nggak menelepon tadi..pasti bakal nggak dateng kamu kan.”

“aku pasti datang,makan makan geratis mana mungkin aku absen. Aku saja tadi langusng ketemu tante Meta pesen,pesen untuk bungkus bawa pulang. ” Ha ha ha.” mereka tertawa lepas tak peduli sekitar.
Aku hanya melihat mereka bicara sebelum Mira berpaling kearahku.
Oia Do, kenalin nih sahabat aku, namanya Nana.” Na ini Edo, temen kantor aku.”
Mira memperkenalkan Nana kepadaku..
Lalu aku bersalaman dengan Nana dan memperkenalkan diri.. “Edo”,kataku. “Nana.”
“Do, kalian ngobrol-ngobrol dulu ya, aku mau ke tempat mama dulu ya”
Mira lalu meninggalkan aku dan Nana,karena tante Meta sudah memangil Mira untuk berbincang dengan saudara jauhnya.
“Hai Na”
“Hai juga,kok masih pakai hai hai lagi sih? Kan tadi sudah kenalan?”
“Oh iya ya, lupa.udah lama temenan sama Mira ya?”
“Dari kuliah sih? Kamu sudah lama sekantor sama Mira ya? Upss,maksud ku mas E.D.O ?”
“Udah lama banget ya,pasti kenal banget sama Mira.hmm.. Baru kok baru sekitar satu tahunan. Nggak usah pake mas kok.panggil edo aja Na”
“Gak ah, aku suka manggil mas,lebih spesial gitu,kalau panggil nama kan pasti semua sudah panggil nama kan? Iya kan? Eh Mira ga pernah cerita tentang mas Edo sih,dia pernah cerita aku ga? Aku ini cewek tukang paksa loh,jadi aku tetep mau panggil mas Edo!” Nana bicara tanpa jeda.
“Hmm… Pantes aja tukang paksa,suka maksa-maksa.. Terserah deh..mas juga gak papa.
Mira sih nggak pernah cerita tentang temen-temennya,jarang banget Na.sekarang kerja dimana?
“Distributor alkes,tapi aku bukan sales loh,jelek jelek begini aku termasuk staf keuangan yang handal,meskipun yah gitu deh. Mas Edo,aku lapar,mau nemenin aku ga?”
“Eh mas Edo pacarnya Mira yah?” aku tersenyum melihat cara bicara Nana yang sering tak konsisten itu.
Keuangan.. Sama dong kita ya.. Bisa sharing-sharing ilmu kita Na.
Ehm.. Bukan kok.. Kami juga baru deket kok Na. Aku langsung mejawab pertanyaan Nana,dan entah mengapa aku harus mengatan seperti itu.
Sama nih aku juga lapar,kita makan aja dulu yuk?”
“Hah,iya yah..? Wah mas Edo kayaknya lebih senior,ajarain aku ya mas kalau aku lagi bosen. Eh boleh minta pin bb nya kan mas? He he, tapi ayuk lah kita makan. Mumpung gratis…”
“Haha,sama-sama saling belajar ya, boleh-boleh. Tapi kita makan dulu ya na”

***

Aku tersenyum mengiyakan ajakan mas Edo. Gila ini cowok cakep juga,ramah lagi, wah untung bukan pacar Mira,ngomong ngomong Mira lama benar membiarkan aku bersama temannya. Apa dia sengaja mau menjodohkan aku? Wah kalau ini sih aku ga bakalan nolak deh.

Kami berdua menikmati makanan sambil sesekali mengobrol. Bahkan karena sifatnya yang ramah membuatku tak sungkan.
“Mas… Kesini naik apa sih? Ha ha ha,sory cuma tanya,mau nebeng gitu rencananya.”
“Pake mobil Na,oke nanti aku anterin pulang deh Na”. “Eh kamu orangnya apa adanya ya,kayaknya”
“Ha ha, aku ya beginilah aku,tidak bisa seanggun Mira ataupun seperti cewek lain. Lihat saja ,masa ke acara aku pakai baju begini, aku lebih nyaman seperti ini,kalau aku dandan seperti Mira,yang ada semua pingsan.”
“Lebih baik gitu loh Na, apa adanya jadi diri sendiri, dan aku suka sama orang seperti itu”.

“Wah kalian berdua,langsung akrab begitu ya?” aku kaget saat Mira menegur.

” Mas Edo nya ramah sih,jadi enak di ajak ngobrol.”aku menjawab pertanyaan Mira,aku tak pernah memperhatikan wajah merah Mira yang seperti menahan jengkel andai tak ku dengar lanjutan kata katanya. ” ” ga nyangka deh,padahal Edo biasanya ga pernah gini akrap sama cewek yang baru dikenal.”

***

Hari demi hari telah terlewati dan mira, wanita itu yang kini ada disebagian otakku dan hatiku. Semakin hari rasa cinta itu semakin terbentuk. Kami semakin dekat dan semakin akrab. Kata sayang terkadang terucap diantara kami berdua, namun sampai saat inipun aku belum mengucapkan perasaan ini, bahkan aku belum terlalu tau bagaimana perasaan Mira kepadaku dan aku harap mira juga punya perasaan yang sama padaku.
Setelah pertemuan itu. Aku terus berkomunikasi dengan Nana. Kami begitu akrab dan memiliki hoby yang sama yaitu travelling. Sementara hubungan ku denga Mira juga terus terbina.
Aku tak menyadari kalau butir cinta itu juga hadir kepada Nana, seorang wanita yang dikenalkan Mira padaku.

Aku menatap kecantikan mira malam ini, dress hitam , rambut terurai, membuat aku tak ingin mengedipkan mataku. Iringan music jazz, membuat suasana dinner ini menjadi sedikit romantis. “kamu cantik hari ini mira”kataku. “Cuma hari ini ya aku cantik” ucap mira lembut. “ya nggaklah, maksud aku lebih,lebih, lebih cantik dari yang biasanya” sambungku.

“hihi,” Mira tertawa kecil.” Iah iah, bercanda doang do, tapi makasih banyak ya pujiannya do.” Mira kemudian menggengam tangan Edo,”makasih ya do buat dinnernya malam ini, aku suka banget sama suasanya, romantis”.

“Iah mira, sama-sama. Ini semua buat kamu”. Edo memperat genggaman mira.”yuk kita makan dulu mira” pinta Edo. Mereka kemudian menikmati makan malam. Lagu Leaving on the jet plane mengiringi makan malam mereka saat ini. Handphone Edo berbunyi, nana memanggil. Edo tanpa sadar mengangkat telepon itu, didepan mira. “halo na” jawab Edo. “halo mas edo, lagi ngapain?”Tanya Nana. “Aku lagi makan malam nih” jawabku pelan. “yawdah, makan dulu gih ya mas, nanti aku telepon lagi deh ya” Ucap Nana tanpa banyak bertanya lagi.

“Siapa itu Do yang nelpon” Tanya mira. “oh itu si Nana” aku menjawab singkat sambil tertawa kecil.

“Nana?dia nelpon kamu? Ada apa?” Tanya Mira lagi. “nggak ada apa – apa mira, mungkin dia mau ngobrol aja”. “Dia sering nelpon ya? Kalian sering komunikasi ya? Mira kembali bertanya, raut mukanya berubah kesal. “nggak juga sering kok”,aku menjawab pendek kembali. Aku sadar ini sebuah kesalahan bicara tentang Nana didepan Mira, Aku mencoba mengelak dengan menjawab pertanyaan Mira seadanya. Aku melihat raut muka wajahnya berubah. “yawdah, abisin gih makannya” Aku mengalihkan pembicaraan. “ Aku udah kenyang Do, kamu abisin gih, terus kita pulang” jawab Mira sambil menghabiskan minumnya. Aku hanya terdiam, merasa bersalah telah merusak suasana.

***
Aku dan mas Edo menjadi akrap seperti sudah selayaknya teman lama. Aku yang suka seenaknya sendiri,manja engga jelas dan suka memaksa seperti mendapat tempat yang tepat. Mas Edo begitu dewasa dan sabar menghadapi kekonyolanku yang tak pernah berujung. Aku tidak pernah membahas tentang perasaanku kepada Mira,toh mereka bukan siapa-siapa? Oke…Mira sahabatku,tapi aku ingin menikmati semua untuku sendiri dulu. Aku tak ingin segala kebahagian ini memudar.

Perjalananku kali ini sungguh berkesan,aku tak menyangka mas Edo akan membuang waktu liburnya untuk menemaniku. Aku selalu tersenyum membayangkan wajahnya yang keren,senyumnya yang mempesona. Aku menikmati setiap obrolan yang selalu kami lakukan setiap hari. Aku sepertinya mulai jatuh hati kepada mas Edo. Tapi sekarang Mira seperti berubah. Atau aku yang berubah karena aku merasa menyembunyikan sesuatu. Aku bbm Mira beberapa kali,tapi tak dibalas. Apa salahku? Aku memang selalu semangat bercerita kalau sudah menyangkut diri mas Edo. Apa Mira jengah dengan ocehanku.

Tapi seakan hati kami bertelepati,Mira mengirimkan bbm. ” wah na,kok bisa sih kamu sedekat itu sama Edo? Padahal ya Edo itu termasuk tertutup loh,bahkan teman teman kantor saja banyak yang ga begitu kenal. Aku saja baru beberapa bulan ini lo bisa dekat,kamu pake resep apa sih Na? Kok Edo langsung akrap begitu? Kalian lagi dekat ya,hi hi hi…asik aku bisa sering sering tuh minta traktir dia.” Aku tersenyum mendapat informasi tentang mas Edo. “Engga kok Mir ,kami cuma temenan.” ” eh tapi bukannya mas edo suka cewek yang anggun kaya kamu ya mir? Pingin deh bisa anggun juga .” “wah buktinya dia langsung nyaman ngobrol sama kamu Na,jadi pasti dia suka sama cewek yang ceroboh deh.”membaca kaliamat terakhir Mira aku mengerutkan dahi,tumben ini Mira sinis.  “Ada apa ini?”, Aku berkata dalam hatiku sendiri.

***

Hari-hari berlalu dengan indah..begitu juga dengan hubunganku dan Nana. Kami lebih sering bertemu, jalan, bahkan travelling bareng. Hari-hariku dan Mira pun begitu,intensitas pertemuan yang hampir terjadi membuat hubungan kami semakin dekat. “Arghh..perasaan apa ini” aku membatin kesal. “Kenapa aku gini,kenapa aku menjadi orang yang tak konsisten gini” aku kesal. Aku sayang Mira,tapi aku terlanjur menaruh hati pada Nana.

“Semakin lama hubungan ini akan salah”,aku bergumam dalam hatiku sendiri.
Aku harus bisa memutuskan. Akan ada yang terluka,pastinya. Tapi aku harus menyelesaikan semua. Dan aku harus bicara. Aku lalu mengambil handphone ku dan mengirimkan bbm kepada Nana.
“Na,besok boleh ketemuan?aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Kalo mau,datang aja ke cafe dekat kantor kamu. Aku tunggu jam 7 ya”.

Aku mempersiapkan seluruh energiku untuk bicara pada Nana. Aku melihat jam tanganku dan sudah menunjukan pukul 7. “Dia pasti telat” kataku dalam hati. 10 menit kemudian nana datang dengan senyum bahagianya. Hatiku bergetar,haruskah aku jujur padanya dan menyakiti hatinya??. Tapi aku tak tahan dengan perasaan yang selalu menghantuiku dan aku memberanikan diriku.
“Capek ya na?pesen minum dulu ya?”
“Capek banget mas,kan tau kan bosku tuh suka resek banget. Aku mau minum yang green tea aja deh,haus banget.”
“Hihi,masih ngeresein aja ya. Tuh minum dulu na”.
“Banget nget mas,aduh pingin deh jitak,kalau dia bukan bos aku,sudah aku jitak cubit deh.”
Aku berkata seperti biasa manja.
“Hihihi. Na,aku pengen ngomong penting banget sama kamu”.
“Apa mas ? Jangan bikin deg-degan aku dong mas,aku lagi bete nih sama bos.”
“Maafin aku Na,maafin aku banget, mungkin situasinya nggak tepat, tapi aku harus ngomong ini.”
“Hubungan kita nggak bisa lanjut lagi Na,aku sudah salah jalan terlalu deket sama kamu”
“Waktu kenal kamu, aku udah deket sam Mira,walaupun belum jadian. Dan sekarang perasaan aku ke Mira sama dengan perasaan aku ke kamu. Aku sayang kamu Na. Tapi aku nggak bisa lanjutin hubungan ini. Aku nggak mau nyakitin Mira, dan aku terpaksa ngomong gini ke kamu Na.”
“Aku tau aku salah,dan aku tau bakal ada yang tersakiti. Dan aku nggak mau nantinya hubungan kita ini akan merusak hubungan kamu sama Mira. Aku minta maaf banget Na”

Aku terduduk lemas dan semua energiku seperti hilang dihisap sang waktu. Menyesal aku menyanggupi pertemuan ini,menyesal aku dengan suka ria menyambut pertemuan ini. Aku hanya bisa mendengarkan suara mas Edo dengan pikiran yang kosong.

“Jadi aku lagi yang harus dikorbanin? Aku? Cuma gara gara aku datang sebelum Mira? Iya mas? Mas Edo bohongin aku? Katanya mas Edo bukan pacar Mira? Mas Edo tidak tega nyakitin Mira? Tapi tega nyakitin aku?” Nana memandang Edo dengan mata yang tajam,tak dibiarkan air bening menghalangi pandangannya. “Aku tak ingin mendengar penjelasan apapun mas”.
“Maafin aku na,maafin aku banget”. Aku nggak bisa banyak berkata-kata. Aku melihat Nana menangis dengan airmata yang mendalam lalu pergi meninggalkan aku tanpa kata-kata.

*

Aku beranjak meninggalkannya ,aku tidak berlari,aku hanya melangkah dengan susah payah. Lagi-lagi…aku terluka. Aku harus terluka karena cinta,apakah aku tidak pernah ditakdirkan untuk bahagia dengan cinta? Cintaku yang baru mekar telah layu tanpa sempat kupetik bunganya. Aku membiarkan air mataku jatuh. Sakit, bukan karena aku tidak dicintai,tapi sakit hati ini,aku harus melepaskan dan melupakan cintaku karena aku orang ketiga? Kenapa harus aku yang disakiti?kenapa? Salah kalau aku datang sebelum Mira?salah kalau aku mencintai mas Edo? Pertanyaanku tak mungkin terjawab. Aku pulang kerumah dan harus merelakan cintaku untuk sahabat baikku.
Aku menghapus airmataku. Aku memandang kamarku yang sunyi. Aku berharap kejadian yang baru saja terjadi itu hanya mimpi, hanya anganku saja yang sedang berpetualang mencari makna kata. Kuedarkan mataku kesegala arah untuk memastikan air mata tak menghalangi pandanganku. Aku seorang gadis yang tak pernah perduli keadaan sekitar dan dengan segala hal, tapi kenapa bisa sesakit ini? Kenapa aku bisa terluka sedemikian parah. Aku menyerngit menahan rasa perih didada dan lambungku pun kini berulah. Aku baru sadar ternyata dari siang tadi aku belum makan. Aku melangkah menncoba mencari makanan dan makanan apapun kini adalah penyelamatku. Tapi sepertinya Tuhan sedang menghukumku juga. Ah, harusnya aku tak menyalahkan Tuhan, tapi lebih menyenangkan kalau ada yang disalahkan bukan?. Aku menyadari semua kesalahanku. Aku seorang pemalas yang tak pernah memperhatikan isi kulkasku dan kini aku menyalahkan Tuhan untuk segala kesengsaraanku. Mataku menatap sebotol sambal buatan mama Mira. Tuhan apa salahku? Aku menjerit dalam diam saat mengingat sehabat baikku. Kenapa aku harus mencintai seseorang yang dicintai Mira? Mengapa Tuhan? Aku melangkah dan membiarkan sakit yang melilit. Aku biarkan sakit ini untuk menghukumu.

Tulisan kolaborasi Dyaz Afryanto (@dyazafryan) dan Aini (@baelovesee)

29 thoughts on “Love and Hurt – The Choice

  1. ow ow ow cinta segitiga ….

    kisah nyata dyaz atau fiksi nih ….bagus ceritanya …

    tulisan mu kecil-kecil mataku ampe muter2 musti di zoom dulu kalo baca hihihihi tapi keren yaz😛

  2. wah… keren nih…
    tapi Dyaz… pusing bacanya. ada yang italic ada yang gak, ada juga non percakapan yang di-italic. yang percakapan gak di italic. hehehehe.
    secara cerita sih ok kok.

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s