Dia dan Rambut Putihnya


“Semakin bertambah usia kita, semakin juga dia akan menjadi lebih tua”

1 Minggu ini aku melihat nya sibuk dengan kaca dan catut (begitu aku menyebutnya). Duduk di teras samping, melakukannya sendiri terkadang bersama kekasihnya. Ya.. Mungkin Kebiasaan menjadi rutinitas baru yang juga g sering dilakukanya. Kini rambut putihnya mulai tumbuh, satu helai, dua helai, tiga, lima, bahkan 10 helai, Rambut putih itu sekarang sering terlihat di tumpukan rambut hitam lainnya. Usia yang semakin tua, Angka 50 akan dihampiri. Rambut putih itu mungkin sering tumbuh dikala usia tersebut.

Satu Hari, aku terlibat dalam rutinitas itu dan membantu mencabut dan mencari rambut putih itu dengan susah payah. Mengobrol apa aja selagi tangan sibuk dengan catutku.

“kakak balek dak minggu ini? sms dak?” Tanya nya pelan.

“idak pak, dak balek”. jawabku dengan santai dan tetap fokus pada rambut-rambutnya.

” lanjut kuliah jadi dek?” Dia kembali bertanya.

“belom tau pak, Liatlah agek, sibuk nabung sekarang“. Aku kembali menjawab

“bagus, ditabung duitnyo dikit-dikit. Bapak samo ibu jugo masih nabung, buat bantu-bantu kamu jugo agek”. Dia menyambung.

Kekasihnya muncul dan ikut bergabung, Dia Ibuku. Tetap terlihat cantik di usia nya yang juga udah g muda lagi. Turut bergabung dalam percakapan santai ini. Sedikit membicarakan tentang masa depan nanti, jika kami (aku dan kakakku) telah punya kehidupan masing-masing. Mereka akan sibuk dengan aktifitas merawat tanaman-tanaman, hewan peliharaan bahkan bisnis kecil-kecilan yang diimpikan mereka di kampung halaman nanti.

Aku tersenyum dan tak sibuk lagi dengan catut itu.  Rambut putih yang kudapat kuberikan pada bapak, Lalu aku bersandar pada ibuku dan memejamkan mata.

Ya.. Mereka g muda lagi, mungkin tubuh mereka g sekuat dulu. Mereka juga masih punya banyak harap dari kami, anaknya.

Yang pasti keinginan kecil untuk bahagia kami dan bahagia mereka sendiri.

Seperti rambut putihnya yang semakin lama akan semakin tumbuh, cintaku pada mereka selalu tumbuh dan tak akan pernah mati.

Kala aku memejamkan mata dan bersandar pada ibuku, tanganku memegang erat pundak bapakku, pada senja yang mendung dan rintik hujan yang akan turun.

_dyazafryan_

 

7 thoughts on “Dia dan Rambut Putihnya

  1. cinta mereka terus berjalan tanpa jeda, sementara kita terkadang tanpa sadar memilih berhenti karena melihat cinta lain di luar sana. Lalu, ketika cinta itu menyakitkan, kita baru menengok kembali cinta agung dari orang yang melahirkan kita. Dan, begitu seterusnya, cinta mereka tetap sama dari awal hingga akhir🙂
    Salam kenal🙂

Mari Berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s